18 Oktober, 2017

arrived home after a two-hour taxi ride, say hello to my dear, then stood an hour in front of the screen just to update the status … Lol

View on Path

Iklan

Jangan

15 Oktober, 2017

Ketika Lukman memberi pelajaran kepada anaknya, ia menggunakan kata larangan, “jangan”. Tetapi tidak cukup dengan melarang, ia pun memberikan alasan mengapa ia melarang hal itu. Inilah salah satu metode pendidikan qurani.

***

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”

QS Luqman, 31: 13

picture by @karunjw

– at Masjid Al Muhajirin wal Anshor

View on Path


Katering

13 Oktober, 2017

Percakapan pada suatu siang dengan ibu katering.

Athiya : “Bu, kenapa ngga ada katering?”

Ibu katering: “Karena uti yg masakin katering qadarullah lagi sakit”

Athiya : “Emang ibu sendiri ngga bisa masak?”

Ibu katering: 😳😅

***

View on Path


Pantun Radya

8 Oktober, 2017

“Ba, dengar pantun yang Mas buat nih,” kata Radya suatu hari. Sepertinya, pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah begitu berkesan baginya. “Bagaimana pantunnya?” tanya Baba.

“Adik bermain dengan tali,” Radya memulai bacaan pantunnya. “Kakak baca koran duduk di kursi,” lanjutnya. “Bagaimana hati ini tak geli, kepala botak suka disisiri.”

“Hahahaha,” Baba pun tergelak mendengar pantun yang dibacakan oleh Radya. “Ada pantun apa lagi, Mas?” tanya Baba memancing.

“Ini pantun teka-teki. Baba harus bisa jawab ya?” Radya memulai tantangannya. “Oke,” jawab Baba.

“Berbaju melar, berbadan baja. Bersisik bukan ular, bermahkota bukan raja,” begitu pantun teka-tekinya. “Baba, ayo tebak, apakah itu?”

“Aha, Baba tahu, pasti buah Nanas. Iya, kan?” jawab Baba sambil terkekeh.

“Baba benar!” sambut Radya gembira, “Mas kasih yang lebih susah ya?”

“Sedang apa kalian?” suara Bubu bergabung, “Sepertinya seru sekali.”

“Bubu, dengar dulu pantun Mas. Kalau bisa menebak, hebat!” kata Radya. Bubu setuju dan mendengarkan.

“Petasan meledup menyenangkan hati. Dikasih makan hidup, dikasih minum mati,” Radya membacakan pantunnya, lalu bertanya, “Siapa bisa menjawab?”

“Wah, apa ya?” Bubu bergumam. “Iya nih, pantun teka-tekinya lebih sulit,” kata Baba.

“Ga ada yang bisa jawab nih?” tanya Radya sambil tersenyum. Baba dan Bubu mengangguk pasrah. “Jawabannya adalah…,” Radya pun memberi tahu, “Api!”

“Lho, kok?” tanya Baba. “Iya, kan api kalau diberi makanan akan terus hidup,” Radya menjawab. “Kalau dikasih minum air, malah padam ya, Mas?” Bubu melengkapi. “Iya, Bubu!”

“Wah, hebat!” Baba mengagumi triknya Radya, “Apa teka-teki selanjutnya?” tanya Baba.

Radya membacakan lagi pantunnya, “Jika haus ingin menyusu, mengambil susu dari sapi. Anaknya banyak ibunya satu, jika bersentuh berapi-api.”

“Weleh, ini pantun menyindir Bubu ya?” tanya Bubu mengernyitkan dahi. “Nggak kok Bu,” jawab Radya. “Lah itu, bilangnya ‘anaknya banyak ibunya satu’, kan Bubu anaknya banyak? Lalu ‘jika bersentuh berapi-api, itu apa namanya kalau bukan menyindir Bubu?”

Radya bingung. “Hahaha… ih, si Bubu baperan deh… Orang cuma pantun teka-teki aja dibilang menyindir,” kata Baba mencoba mendamaikan, walaupun Bubu masih terus ‘berapi-api’. “Minum dulu Bu, biar apinya padam, hihihi…, ” goda Baba kemudian bertanya, “Mas, apa jawabannya? Biar Bubumu gak galau tuh.”

Radya menjawab, “Korek api.”

“Tuh kan!” celetuk Baba. “Mengapa bisa begitu, Mas?” Baba bertanya.

“Iya kan, kotak korek api itu ibunya. Batang korek api itu anak-anaknya. Kalau batang korek digesek ke kotak korek di bagian penyala, tentu akan berapi-api, betul kan?” ujar Radya menjelaskan.

Akhirnya Baba, Bubu dan Radya pun tertawa bersama-sama.

@ndi.ep 18011439 – with Citra at Komplek Taman ventura indah

View on Path


Dan bulan, ketika ia purnama

6 Oktober, 2017

Sayangku, bagaimanakah rembulan begitu indah di saat purnama, padahal ia hanya merefleksikan pancaran sinar mentari yang ia iringi.

Cintaku, ketahuilah bahwa bulan dalam bahasa arab, القمر adalah maskulin, dan matahari, الشمس adalah feminin. Maka akulah bulan bagimu dan engkaulah matahariku.

Sayangku, perhatikanlah bahwa Allah menyebutkan bulan sebagai yang bercahaya dan matahari sebagai yang menyala-nyala.

Maka jika engkau dapati aku bersinar terang, itu hanyalah pantulan dari nyalanya dirimu. Sebaliknya jika aku redup, pun karena suramnya engkau.

Cintaku, tetaplah menyala wahai pelitaku. Kuatkanlah dirimu dan teruslah cemerlang, duhai sumber cahayaku.

Apabila engkau mempertanyakan, ku kan selalu di sisimu, seperti bulan mengiringi matahari, sampai waktu yang telah ditentukan.

@ndi.ep, 15011439
picture by me

– with Citra at Kebun Binatang Ragunan

View on Path


Anugerah terindah

4 Oktober, 2017

Dik, tentu kamu sudah tahu Tuhan itu Mahabaik. Dia tidak mungkin mengazab para hamba-Nya yang senantiasa beriman dan mensyukuri nikmat pemberian-Nya.

Betapa menyesalnya orang yang baru mengenali suatu karunia ketika hilang atau terlepas darinya. Sedangkan ketika masih ada ia menyia-nyiakannya.

Dik, tentu kamu ingat bagaimana Allah telah mempersatukan kita kemudian begitu banyak orang mendoakan keberkahan. Bukankah itu saat-saat penuh anugerah?

Berlalunya waktu pun mendewasakan kamu dan aku. Mudah-mudahan juga menambah lagi rasa syukur kita. Supaya Ar-Rahman terus mengasihi dan melimpahkan nikmat-Nya kepada kita.

Dik, sebagaimana Rabb kita terus menerus menegur Bani Israil untuk mengingat karunia-Nya, begitu pula Dia menginginkan kita untuk terus mensyukuri anugerah-Nya.

Tuhan pasti akan menjaga biduk rumah tangga kita, selama kita mau menjaga ketakwaan kepada-Nya. Semoga Allah memberkati.

@ndi.ep 13011439

– at Gunung Bromo

View on Path


Purnama

4 Oktober, 2017

Dikisahkan oleh sahabat Jabir r.a. bahwa ia pernah melihat Nabi s.a.w. dalam pakaian merah di suatu malam yang terang (cahaya bulan purnama). Kemudian ia memandang kepada bulan dan memperhatikan bahwa wajah Nabi s.a.w. ternyata lebih elok dan indah daripada bulan purnama.

(Syamail Muhammadiyah)

Picture by @ndi.ep 13011439

View on Path


%d blogger menyukai ini: