pamrih

23 Agustus, 2016

​manusia itu diciptakan dengan sifat pamrih. wajar jika suka dengan balasan. jika berbuat baik ia menagih balas budi. jika dijahati ia menuntut balas dendam. sedangkan seorang hamba diwajibkan untuk ikhlas. 

maka Allah memberikan pahala sebagai ganti balas budi. dan menetapkan qisas sebagai ganti balas dendam. supaya manusia merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Tuhannya dan meninggalkan pamrih dari selain Allah.

@ndi, 20111437


paradigma

21 Agustus, 2016

​kita adalah apa yg kita pikirkan. begitupun Tuhan sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. 

energi yang terpakai untuk hal negatif tidaklah lebih sedikit daripada yang digunakan untuk hal positif. beramal kebajikan pasti ada pahalanya, sebagaimana berbuat keburukan ada dosanya. 

maka berpikirlah positif dan bersangka baiklah kepada Allah, serta maafkanlah orang lain.

@ndi, 19111437


masalah hidup

9 Agustus, 2016

​seandainya hidup ini bebas dari masalah, tentu mati adalah lebih baik. 

sayangnya, untuk mati memerlukan bekal, dan bekal itu mesti dikumpulkan selagi hidup.

@ndi, 07111437


panggung

9 Agustus, 2016

​karena setiap orang perlu penghargaan, adakalanya kita hanya menyiapkan panggung untuk orang lain dan kita merasa cukup hanya dengan menjadi pendukung dan penontonnya.

@ndi, 06111437


berubah

8 Agustus, 2016

​kamu gak akan tahu seseorang itu berubah kecuali dari bagaimana ia menanggapi dengan serius suatu hal yang dahulu pernah kalian tertawakan bersama-sama.

@ndi, 04111437


menunggu

5 Agustus, 2016

Kita sanggup untuk merasa tenang menanti pesawat di ruang tunggu bandara, sedangkan di sana orang-orang berlalu lalang, perempuan yang tidak menutup auratnya dengan sempurna, dan suara-suara musik.

Sanggupkah kita juga merasa tenang, menanti khatib naik mimbar jumat, di mana orang-orang duduk berzikir, membaca Quran, atau salat sunah?

@ndi, 02111437


kenal

5 Agustus, 2016

​A: “Sudah berapa lama kamu kenal dia?”

B: “Alhamdulillah”

A: “Maksudku, sudah berapa lama?”

B: “Pentingkah berapa lama aku mengenalnya?”

A: “Agar aku dapat memaklumi kamu.”

B: “Bagaimana dengan kamu sendiri mengenalnya?”

A: “Dengannya aku telah mengenal kebenaran untuk diikuti dan mengenal keburukan untuk dihindari.”

B: “Alhamdulillah. Lalu apa perlunya lagi kamu memaklumiku?”

@ndi, 03082016


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 4.302 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: