11 Agustus, 2018

View on Path

Iklan

11 Agustus, 2018

Banyak yang salah kaprah dengan dua kata berikut: “seronok” dan “senonoh”.

Kesalahkaprahan itu menjadi bukti bahwa ramai orang yang menjadikan selera berbahasa sebagai rujukan kaidah daripada kamus. Semacam sia-sia saja kamus besar bahasa disusun setebal itu dan berpeluh payah para penyajinya apabila nyatanya pun malas ditengok.

Menurut KBBI, “seronok” adalah kata sifat yang bermakna menyenangkan hati, sedap dilihat (didengar dan sebagainya). Adapun “senonoh” juga kata sifat yang bermakna patut, sopan.

Ai, nampak indah makna kedua kata tersebut. Lalu, darimanakah keduanya mendapat pengertian yang berkebalikan di masa kini?

Barangkali dari kata “tidak” yang disandangkan di depan kedua kata itu: “tidak seronok”, “tidak senonoh”, dan bisa jadi juga sebagai dampak dari kemalasan kita berbahasa dengan baik dan benar.

@ndi.ep 29111439 #pathdaily #weekend

View on Path


6 Agustus, 2018

at Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan International Airport (BPN)

See on Path


27 Juli, 2018

Saya sempat memikirkan tentang kata “penyakit” dan “menular”, kemudian saya mencari di dalam kamus akan arti kedua kata tersebut.

Barangkali kamus bukan rujukan yang tepat untuk menggambarkan kondisi terkini berkenaan dengan pemakaian kata, tetapi kita bisa menengok landasan berpikir para penggagas kata sehingga kita tidak salah kaprah dan dapat memperbaiki kesalahan diksi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “penyakit” adalah nomina yang terkait dengan gangguan pada makhluk hidup akibat bakteri, virus atau kelainan sistem faal. Kata “penyakit” juga menjadi kiasan terhadap kebiasaan buruk.

Adapun kata “menular” menurut KBBI adalah verba mengenai atau menjangkit, atau kiasan atas menjalarnya pengaruh kurang baik kepada orang lain.

Maka menurut KBBI, baik kata “penyakit” maupun “menular”, makna dari keduanya secara asli dan kiasan berhubungan dengan suatu yang buruk. Oleh karenanya menjadi tidak tepat apabila menyandangkan kata “penyakit” dan “menular” kepada hal-hal baik seperti “berderma” atau amal kebajikan lainnya.

Diksi memang urusan selera, namun memilih sesuai kaidah tentu akan #lebihbaik secara rasa, #lebihdekat kepada makna dan #lebihnyata menurut kamus.

Dengan kita membiasakan berbahasa yang baik dan benar, maksud dan gagasannya dapat diterima secara universal, menjadikan terpandang karena kefasihan, sekaligus melestarikan budaya bangsa yang adiluhung. Ayo!

#pathdaily #jadinomor1

View on Path


15 Juni, 2018

Bahagia di hari raya,
bukan hanya dirasakan oleh orang-orang beriman yang telah berpuasa sebulan Ramadan,
bukan hanya oleh fakir miskin yang menerima bagian zakat dari yang mampu,
bukan hanya oleh para pekerja yang diliburkan oleh para majikannya,
bukan hanya oleh anak-anak yang mendapatkan uang lebaran dari orangtua dan tetangga,
bukan hanya oleh para pebisnis yang barang dan jasa jualannya laku dan untung,
bukan hanya oleh seluruh manusia di dunia yang turut bergembira.

Tetapi kebahagiaan yang juga dirasakan oleh para setan yang telah bebas dari belenggu, dan pintu neraka yang kembali dibuka.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua, dan memberikan hidayah dan taufik agar kita istikamah melanjutkan perjuangan Ramadan hingga bertemu lagi di tahun depan.

Selamat Idulfitri.
Semoga sukses selalu!
๐Ÿด๐Ÿจ๐Ÿง๐Ÿฆ๐Ÿฉ๐Ÿฐ๐Ÿช๐Ÿซ๐Ÿฌ๐Ÿญ๐Ÿฎ๐Ÿฏ๐Ÿณ๐Ÿ”๐ŸŸ๐Ÿ๐Ÿ•๐Ÿ–๐Ÿ—๐Ÿค๐Ÿฃ๐Ÿฑ๐Ÿž๐Ÿœ๐Ÿ™๐Ÿš๐Ÿ›๐Ÿฒ๐Ÿฅ๐Ÿข๐Ÿก๐Ÿ˜๐Ÿ ๐ŸŒ๐ŸŽ๐Ÿ‘๐Ÿ’๐Ÿ‰๐Ÿˆ๐Ÿ

View on Path


7 Juni, 2018

at Masjid Jami An-Nur (Komp.BPK V)

See on Path


4 Juni, 2018

Jika Ramadan tahun ini 29 hari, maka malam ini adalah malam pertama dari sepuluh terakhir. Upayakan sebaik-baiknya dengan amal-amal saleh: puasa, salat, sedekah, dan itikaf. Namun kerjakan itu semua dengan penghayatan, sebab tiada bermanfaat amal tanpa penghayatan dan keikhlasan.

View on Path


%d blogger menyukai ini: