20 Februari, 2018

– at Jakarta City Government Tourism and Culture Office

View on Path

Iklan

20 Februari, 2018

at Halte TransJakarta Mampang Prapatan

See on Path


Hujan di bulan februari

15 Februari, 2018

Ada orang yang berkata kepada seorang ustaz, “Ustaz, mendengar ceramah Anda tentang keutamaan salat di tiga masjid: Masjidil Haram 100 ribu kali lebih baik, Masjid Nabawi 1000 kali lebih baik, dan Masjidil Aqsa 500 kali lebih baik daripada salat di masjid selainnya di muka bumi. Begitu juga dengan banyaknya tempat-tempat mustajab di Mekkah dan Madinah. Mohon maaf, sepertinya Allah tidak adil kepada manusia yang tinggal di negeri selain itu, semisal Indonesia.” Sang ustaz diam menyimak. Orang itu melanjutkan, “Bahkan untuk pergi ke sana, demi dikabulkannya doa, kita mesti berkorban harta dan waktu yang tidak sedikit.”

“Bapak, yang semoga disayangi Allah,” sang ustaz membuka kalimatnya, “Justru Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sangat adil kepada para hamba-Nya.” Orang itu terperanjat mendengar perkataan ustaz. “Allah telah memberikan waktu-waktu mustajab yang banyak, sebagai pengganti dari sedikitnya tempat-tempat mustajab,” lanjut sang ustaz.

“Contohnya apa ustaz?” tanya orang itu. “Setiap waktu jeda antara azan dan ikamah adalah waktu dikabulkannya doa. Begitu juga pada setiap sujud di dalam salat, pada dua pertiga malam terakhir, pada saat berbuka puasa, pada akhir salat sebelum salam,” jelas ustaz. Orang itu mengangguk-angguk merenungkan penjelasan sang ustaz.

Ustaz meneruskan, “Apalagi ketika hujan, malahan sangat berlimpah kesempatan dikabulkannya doa.” Orang itu bertanya, “Mengapa bisa demikian, Ustaz?” Sang ustaz balik bertanya, “Dapatkah kita menghitung berapa banyak butiran air hujan yang turun membasahi bumi?” Orang itu menggelengkan kepalanya. “Pada setiap butir hujan, ada fadilah dan kasih sayang Allah bagi hamba-hamba-Nya,” kata sang ustaz, “sedangkan fadilah atau keutamaan itu banyak macamnya, termasuk salah satunya adalah pengabulan doa.”

“Oh,” orang itu terperangah. Ustaz bertanya, “Di negeri tiga masjid utama yang Bapak sebutkan di awal, aktualnya apakah lebih sering hujan daripada keringnya ataukah sebaliknya?” Orang itu menjawab, “Mungkin jarang hujan, ustaz.” Sang ustaz bertanya lagi, “Di negeri tropis seperti Indonesia, bagaimana hujannya?” Orang itu menjawab, “Sangat sering dan melimpah, ustaz. Bahkan sering kebanjiran.”

“Kalau begitu, masihkah sedikit kesempatan bagi kita yang jauh dari tanah suci untuk memperoleh pengabulan doa? Dan masihkah banyak dari kita yang lalai memanfaatkan hujan untuk berdoa?” pertanyaan penutup dari ustaz inipun membuat orang itu beristigfar.

***

恭喜發財

@ndi.ep, 01061439

View on Path


Avanza

6 Februari, 2018

Gue tahu kenapa Avanza sering dibenci. Selain dia mobil sejuta umat (murah dan irit), bodinya yang ramping memudahkan ia melaju di jalan tikus dan nyempil di manapun. Termasuk untuk ngerjain BMW yang sok-sokan ngambil dua slot parkir macam di foto ini. 😖

View on Path


baiti janati

6 Februari, 2018

“Say, tahu gak apa yang kuinginkan saat ini?” tanyaku. “Hmm, apa ya?” dia balik bertanya. “Kira-kira aja,” kataku. “Kamu ingin aku di dekatmu?” tebakannya terdengar semringah. “Ih, ge-er aja. Kamu kali yang ingin begitu,” balasku.

“Huu, males deh. Tadi disuruh nebak, giliran salah malah dicela,” katanya kecewa. “Nggak salah kok, cuma gak tepat,” aku mengoreksi. “Trus, mau kamu apa?” tanyanya. “Beneran, mau tau aja atau mau tau banget?” godaku.

“Ngga jadi ah,” jawabnya malas, lalu mengalihkan topik, “kamu lagi di mana sih?” Kujawab, “Lagi di tengah kemacetan.” Dia bertanya “Emangnya lewat mana, kok kena macet?” “Lewat jalan raya, lah, macet luar biasa, sampai gak berasa lagi,” jawabku perih.

“Aha, aku tahu apa yang paling kamu inginkan!” tiba-tiba ia mengagetkan, lalu melanjutkan, ” Kamu ingin lepas dari kemacetan dan segera sampai tujuan, iya kan?” Aku pun mengiyakan dan berkata, “Hehehe, andai aku bisa terbang menuju hatimu, sayang.”

“Gombal! Banyakin zikir aja. Allah pasti bantu,” sarannya ini membuatku berkeping-keping.

#fragment
#baitijanati

@ndi.ep 06022018

View on Path


baiti janati

4 Februari, 2018

“kamu enak, bisa keluar rumah, jalan-jalan. Lepas,” keluh suara dari gagang telepon, lalu melanjutkan, “aku tak punya kesempatan.”

“kamu boleh saja, kalau mau,” jawabku. Belum lagi kuteruskan, suaranya memotong, “ya, dengan sederet tanggung jawab yang kau limpahkan kepadaku, dan segudang kerepotan yang kuhadapi.” akupun menahan kata.

“kamu curang!” tudingnya, “egois!” aku masih terdiam, melirik tiket di tangan, jadwal pulang esok pagi. “kuingin kau pulang sekarang juga! Besok kalau kau pergi, jangan tinggalkan aku!”

#fragment
#baitijanati

@ndi.ep, 04022018

View on Path


baiti janati

2 Februari, 2018

“maafkan aku,” pintaku. “aku sudah bersabar menghadapimu,” katanya datar. “sungguh, aku tak bermaksud begitu,” jelasku. “tidak perlu berkilah, kau masih bertanya tentang aku, itu cukup,” sahutnya, sesaat hening. Ia pun melanjutkan kalimatnya, “yang penting, kamu pulang karena ingat akan apa-apa yang telah kautanam, mereka memerlukanmu.”

@ndi.ep, 16051439
#fragment
#baitijanati

View on Path


%d blogger menyukai ini: