siapa bilang ini sebuah kebodohan…

31 Mei, 2004

jumat hingga ahad kemarin aku rapat di bogor. sebelumnya udah punya janji mau datang ke pernikahan teman hari ahad di bandung jam 11-14, tapi ternyata aku berangkat dari bogor jam 10 pagi, kukira bisa sampai jam 13 di bandung.

tadinya berpikir langsung naik bus dari Baranang Siang ke Bandung atau naik kereta ke Manggarai lalu disambung ke Bandung, tapi punya pilihan lain yaitu ngecer dari bogor, via puncak, cianjur, lalu bandung.

di terminal tidak kudapatkan bus Bandung – Bogor, aku heran aja apa aku salah masuk peron atawa bagaimana, akhirnya aku naik angkot ke Ciawi, rencananya sih mau ke puncak dulu. Pas di lampu merah ada bus Bogor – Bandung via Sukabumi, alamak kenapa juga tiba-tiba aku masuk ke bus itu? lalu menikmati perjalanan yang menghabiskan waktu 4 – 5 jam (sudah termasuk istirahat dan macet di jalan)

jelas aja aku gak sampai di bandung tepat waktu, akhirnya kuputuskan untuk langsung kembali ke jakarta setelah sebelumnya aku sms temanku yang punya hajatan itu. Abis makan dan solat Ashr, ambil Primajasa jurusan Lebak Bulus, sampai rumah jam 21 kurang.

Aku jadi berkesimpulan, 1. walau kita pikir jarak lebih dekat antara Bogor Bandung daripada dari Jakarta, ternyata waktu tempuh hampir sama, 2. apapun yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu, ternyata tidak sepenuhnya berada dalam kehendak kita, ada kehendak lain yang membuat kita bergerak…, 3. kalo kamu mengalami hal seperti ini, siap-siap aja menggerutu, unless kita terus berzikir, 4. yang jelas badanku capekd dan pegal-pegal, hhh…


tunjuk bintang

29 Mei, 2004

ada bermilyar bintang
dalam balutan pekat
gelap yang bertajuk malam..

tak perlu memilih satu untuk hatimu
kelak Allah kan hadiahkan
yang terindah, yang kan temanimu
berakhir indah..

===

c, 270504


legend of Narcissus

27 Mei, 2004

A youth who knelt daily beside a lake to contemplate his one beauty. He was so fascinated by himself that, one morning, he felt into the lake and drowned . at the spot where he fell, a flower was born, which was called narcissus. But this was not haw the story ends. When Narcissus died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water , transformed into a lake of salty tears.

” Why do you weep?” the goddesses asked.

” I weep for narcissus,” the lake replied.

” Ah, it is no surprise that you weep for Narcissus”, they said, ” for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate his beauty close at hand”.

” But… was Narcissus beautiful?” the lake asked.

“Who better than you to know that?” the goddesses said in wonder. “After all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself!”

The lake was silent for some time. finally , it said:

” I weep for Narcissus, but I never notice that Narcissus was beautiful. I weep because, each time he knelt beside my banks, I could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected”.

—taken from “The Alchemist” prologue by Paulo Coelho—


buku berdebu itu

23 Mei, 2004

ketika kubuka kembali buku yang sudah berdebu itu, tertulis di sana 2 Rabiul Akhir 1420H. tak terasa sudah lewat 5 tahun sejak kumiliki buku itu, buku yang dahulu selalu menghiburku setiap harinya baik dikala gundah maupun dikala syukur. buku yang telah membuatku mencintai kehidupan, buku yang sempat mewarnai lembaran kisah hidupku, buku yang dahulu kucari-cari oleh sebab sulitnya mendapatkan dalam harga yang rendah. (karena beberapa waktu kemudian ketika aku mencarinya sebagai hadiah kepada temanku, kudapatkan harga yang lebih tinggi).

buku itu telah membuatku mabuk oleh cinta, bahkan sampai-sampai terbawa dalam tidurku. seringkali ibu bilang bahwa aku sering meracau dalam tidurku seperti membaca mantra yang tertuang dalam buku itu. tapi itu beberapa tahun yang lalu.

buku itu memang tidak berbicara dengan mother tongue-ku, tetapi ia berbicara dalam bahasa hati, bahasa cinta, bahasa surga. walau tidak kumengerti seluruh isinya, buku itu telah sempat menjadikan aku luluh dalam cinta.

kemarin, kucoba sentuh kembali buku yang sekian lama tidak kubuka. aku merasakan kerinduan merasuki seluruh sudut sarafku. aroma kerinduan yang tak terbendung lagi, jujur saja aku sama sekali jauh dari buku itu untuk beberapa waktu.

buku itu berdebu, kuseka dengan tanganku, kutiup debunya dari sampulnya, kularikan jari tanganku membuka-buka halaman demi halaman, kubaca kata demi kata lantunan kesyahduan.

Wahai Tuhan, kasihilah kami dengan Quran, dan jadikanlah ia bagi kami pemberi petunjuk dan cahaya keselamatan…


kekerasan di sekitar kita

22 Mei, 2004

gak habis-habisnya kalo bicara tentang kekerasan, dan gak habis juga heranku mengapa terlalu banyak orang yang suka dengan kekerasan. Sebut saja televisi, kotak ajaib ini terlalu sering mengumbar informasi tentang kekerasan, seakan-akan tidak ada dunia yang tidak berisi kekerasan. Mulai dari informasi patroli, buser, kupas tuntas, derap hukum, sinetron-sinetron, film-film, hingga acara lawak pun berbumbu kekerasan.

Pernah nonton film “How to Create a Monster” ? film ini bercerita tentang ambisi sebuah perusahaan game komputer untuk membuat game console yang canggih. Mereka menciptakan monster game yang diramu dengan keserakahan, kebencian, kekerasan, dan kelicikan para pencipta karakternya. pada suatu malam, energi listrik yang dibawa oleh petir telah merusak server komputer perusahaan game tersebut, dan saat itulah, karakter monster hidup dan membunuh para penciptanya. yang berhasil bertahan hanyalah seorang cewek magang yang tadinya lugu dan baik. Dengan usaha yang dicapainya, ia berhasil mengalahkan karakter dan menyempurnakan game hingga dapat dipasarkan. Ia belajar bahwa hidup memang keras.

Masih ingat cerita rakyat, bawang putih dan bawang merah? atau cerita Cinderella? ternyata kekerasan telah melekat dalam jiwa kita dengan cerita masa kanak-kanak itu.

bagaimana dengan berita-berita di televisi: praktek aborsi, penganiayaan terhadap pembantu, pemerkosaan, incest, pembunuhan, pencabulan, dan sebagainya… seperti tak ada rasa aman dalam kehidupan sekitar kita?

Sejarah selalu terisi dengan kekerasan dan pertumpahan darah, inilah sebabnya para malaikat bertanya kepada Tuhan ketika Dia hendak menjadikan manusia sebagai kalifah bumi: “Mengapa Engkau jadikan di bumi orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami terus mengkuduskan Engkau?”

Tapi Tuhan ternyata punya kehendak atas segala kekerasan itu, seperti kata-Nya: “Dialah yang menjadikan kematian dan kehidupan guna mengetahui siapa yang lebih baik amalnya di antara kamu”.

Sebaiknya informasi kekerasan biarlah sebagai informasi saja, jangan perlakukan ia sebagai santapan keseharian, saya khawatir jika sudah jadi santapan, kekerasan akan merasuki kita sehingga membangkitkan potensi kerusakan dalam diri kita. Ya Allah, damaikanlah hati kami dalam kecintaan kepada-Mu yang mencintai kedamaian.


what a wonderful game!

21 Mei, 2004

waktu di badak, kenalanku dari vico ngajak aku main squash, sayang sekali pada saat itu aku harus kembali ke jakarta, tapi kubilang aku pasti akan bermain suatu saat. Luki, namanya, kukatakan kepadanya untuk hubungi aku seandainya dia off ke jakarta.

kamis pagi, dia telpon aku untuk main squash di senayan, sebenarnya pagi itu aku malas kemana-mana, akhirnya aku janji jam 4 sore ketemu di depan stadion. Ternyata aku ketiduran, jam 4 kurang, Luki telpon aku, yang angkat bapakku. segeralah aku dibangunkan, akhirnya aku sms kepadanya bakal datang, walau telat.

jam 5 kurang kuparkir sepeda motorku di depan pintu VIII. Ternyata Luki sudah menunggu di depan pintu IX, akhirnya kami masuk ke Court, sayang semua lapangan sedang penuh, penjaga lapangan menegur kami kenapa gak main padahal Luki sudah pesan court? Akhirnya selama satu jam kami main squash.

Terus terang this is the first time i play squash, but very exciting, keringatmu akan penuh basahi tubuh. Luki coach me very good. I learn many from this game. bakalan ketagihan nih, i thought. Sepertinya bakalan ketemu lagi di court this weekend..

ada yang mau ikutan?


tak inginku

21 Mei, 2004

aku tak ingin
berpikir
ingin…

karena jika tak mampu kujelang
asa bisa jadi luka…

–> (chee, 20052004)

aku tak ingin
katakan
ingin…

karena jika harus luka
jiwa nihilkan tangis…

biarlah doa
inginku…
tak inginku…
menjelma dalam nyata dan bayang..

–> (andi, 20052004)

–thank you–


%d blogger menyukai ini: