kekerasan di sekitar kita

22 Mei, 2004

gak habis-habisnya kalo bicara tentang kekerasan, dan gak habis juga heranku mengapa terlalu banyak orang yang suka dengan kekerasan. Sebut saja televisi, kotak ajaib ini terlalu sering mengumbar informasi tentang kekerasan, seakan-akan tidak ada dunia yang tidak berisi kekerasan. Mulai dari informasi patroli, buser, kupas tuntas, derap hukum, sinetron-sinetron, film-film, hingga acara lawak pun berbumbu kekerasan.

Pernah nonton film “How to Create a Monster” ? film ini bercerita tentang ambisi sebuah perusahaan game komputer untuk membuat game console yang canggih. Mereka menciptakan monster game yang diramu dengan keserakahan, kebencian, kekerasan, dan kelicikan para pencipta karakternya. pada suatu malam, energi listrik yang dibawa oleh petir telah merusak server komputer perusahaan game tersebut, dan saat itulah, karakter monster hidup dan membunuh para penciptanya. yang berhasil bertahan hanyalah seorang cewek magang yang tadinya lugu dan baik. Dengan usaha yang dicapainya, ia berhasil mengalahkan karakter dan menyempurnakan game hingga dapat dipasarkan. Ia belajar bahwa hidup memang keras.

Masih ingat cerita rakyat, bawang putih dan bawang merah? atau cerita Cinderella? ternyata kekerasan telah melekat dalam jiwa kita dengan cerita masa kanak-kanak itu.

bagaimana dengan berita-berita di televisi: praktek aborsi, penganiayaan terhadap pembantu, pemerkosaan, incest, pembunuhan, pencabulan, dan sebagainya… seperti tak ada rasa aman dalam kehidupan sekitar kita?

Sejarah selalu terisi dengan kekerasan dan pertumpahan darah, inilah sebabnya para malaikat bertanya kepada Tuhan ketika Dia hendak menjadikan manusia sebagai kalifah bumi: “Mengapa Engkau jadikan di bumi orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami terus mengkuduskan Engkau?”

Tapi Tuhan ternyata punya kehendak atas segala kekerasan itu, seperti kata-Nya: “Dialah yang menjadikan kematian dan kehidupan guna mengetahui siapa yang lebih baik amalnya di antara kamu”.

Sebaiknya informasi kekerasan biarlah sebagai informasi saja, jangan perlakukan ia sebagai santapan keseharian, saya khawatir jika sudah jadi santapan, kekerasan akan merasuki kita sehingga membangkitkan potensi kerusakan dalam diri kita. Ya Allah, damaikanlah hati kami dalam kecintaan kepada-Mu yang mencintai kedamaian.


%d blogger menyukai ini: