empat

29 Oktober, 2004

terkadang malam menyisakan kisahnya untuk esok hari… namun pagi tak menyisakan terang di sore teduh.. aku cuma termenung mengagumi lembayung.., bintang.., bulan..

teringat akan pesan yang pernah dia kirimkan kepadaku, dan kini ku kirimkan kembali kepadanya. betapa tidak hancur hatiku saat ia katakan bahwa ia akan memulai hidup baru dengan seorang gadis pilihannya sendiri. aku tak mampu berkata-kata, membisu.

dia telah berada dalam perjalanan bersamaku selama 3 tahun, dia telah mengisi sejumlah kisah yang perih dan menggantinya dengan kemanisan. namun kini, aku seperti dicampakkan.. ini semua salahku sendiri, aku tak pernah benar-benar memintanya menjadi pendamping hidupku.

kesal, pekat,

aku seperti kehilangan pegangan, laki-laki yang baik itu, yang berkali-kali mengirimkan sms bertuliskan “you’re always inspire me” …

dunia hanyalah pemandangan dari jendela ruangan yang aku terkurung di dalamnya, sejenak hendak keluar, sejenak lain takut menghadapi. namun malam trus bercerita

kukirimkan lagi sms kepadanya, betapa sebenarnya aku masih mengharapkan dirinya, tak peduli apakah apa yang ia katakan tentang menikah itu benar atau tidak, karena ia memang tidak pernah menceritakan tentang itu sebelumnya. Ya Allah, masihkah ada harap agar ia menjadikanku pasangan hidupnya?

sejumlah waktu dalam kepedihan mengusungku, lalu masuklah sms di handphoneku, sms dari laki-laki itu..

jangan hilang ceriamu walau badai melanda, pagi selalu sisipkan harap untuk hidup. seka tangismu dari getir hati. sinar mentari sedia hangatkan jiwa dalam dada.

Iklan

sedekah menolakkan bala

29 Oktober, 2004

Seorang hamba Allah yang bersedekah pada pagi hari akan didoakan oleh malaikat pagi agar dijauhkan dari kesusahan sepanjang hari, dan seorang hamba Allah yang bersedekah pada sore hari akan didoakan oleh malaikat petang agar dijauhkan dari kesusahan sepanjang malam…

begitulah hadist yang masih kuingat, dan hal ini seringkali kualami. Termasuk kemarin sore. Mohon maaf, aku hanya mengikuti perintah Allah: “Dan atas nikmat Tuhanmu maka sebut-sebutkanlah” supaya aku gak termasuk orang yang ditanya: “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

kemarin sore, sehabis berbuka puasa di rumah teman, ada penggalangan dana untuk kegiatan diklat dan juga ziswaf. alhamdulillah ada sedikit rizki maka aku masukkan beberapa rupiah ke dalam amplop sebagai infaq, kebetulan juga hari itu belum berinfaq. 🙂

sepulangnya dari rumah teman, antar teman yang bareng ke pasar minggu, setelah menurunkan dia aku lanjut menjalankan mobil, tiba-tiba terdengar klakson bus. ternyata bus itu telah tepat berada di samping jendelaku, untunglah bus itu berhenti, kalau tidak hidung kijangku dilabrak bus.

itu yang pertama, yang kedua adalah saat perjalanan menuju rumah, masih malam yang sama, ketika harus menikung ke kanan di pertigaan, kendaraan dari sebelah kanan sudah memberikan jalan, lalu aku masuk, tapi tak disangka ternyata ada kendaraan umum dari sebelah kiri yang melaju dengan kecepatan kencang, alhamdulillah tidak terjadi apapun.

sampai di rumah, ternyata Allah menepati janji-Nya untuk melindungi orang-orang yang bersedekah. Bagaimana pendapat kalian? AYO BERSEDEKAH!!!


tiga

27 Oktober, 2004

sedih.. de gak pernah merasa kesepian seperti ini sebelum menikah. mas, de seringkali merasa.. de gak terlalu berarti buat mas. de jadi takut menyayangi mas. takut dengan segala rasa perih itu.. yang hadir ketika mas acuh, seperti semalam.. takut dengan dendam yang kerap membuat de jadi sangat kasar, seperti tadi pagi. maafin de ya mas.. tolong ajari de untuk jadi bidadari buat mas..

sms yang masuk jam delapan pagi itu masih jadi pikiranku, bahkan mengganggu konsentrasi aku bekerja di kantor. apa sih masalahnya sehingga aku terlalu sering jadi bulan-bulanan perasaan? aku masih bingung dengan segala sikapnya yang gak jelas akhir-akhir ini. padahal aku sudah mencoba se-netral mungkin dan seobjektif mungkin. bahkan marah pun tidak. tetapi mengapa ia mengesankan aku marah kepadanya?

Tuhan, sense of humor yang Kau hidangkan priti kul juga nih..

barangkali Engkau mengizinkan aku menikahinya 3 bulan yang lalu untuk alasan-alasan yang saat ini aku gak ngerti, atau justru untuk membimbingnya?

Tuhan, kadang-kadang aku secara sembrono menganggap semua yang kulakukan adalah kehendakMu.. atau malah aku sama sekali merasa gak ada kemauan untuk berbuat lebih?

jika cinta itu memang perih, mengapa aku harus mencintai?

kuharap aku mampu mencintai karena Allah saja.. agar yang kurasa hanya asa, sepenuh percaya..

itu sms-nya beberapa minggu yang lalu, Tuhan, aku jadi belajar bahwa seorang perempuan memang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, yang sulit sekali diluruskan, bahkan jika dipaksakan ia akan patah.

aku juga belajar bahwa perempuan memiliki dimensi heuristic yang aneh dan sistematik yang acak yang tak mampu kutangkap maksudnya dalam sekelebatan perilakunya, atau dalam setiap ledakan keinginannya yang tiba-tiba sirna dalam gelap, persis seperti kembang api tahun baru…

kutuliskan sms balasan untuknya:

ngaji.. mas mungkin harus banyak ngaji supaya jadi suami yang baik, maafkan.


novelku

26 Oktober, 2004

novelku dibuat untuk memulai lagi kebiasaanku menulis fiksi, paling tidak sedikit demi sedikt lah 🙂

mengapa berbeda dibanding jendela CERITA? hmm… sebenarnya ada beberapa hal mengapa jendela cerita harus kututup, kuganti dengan novelku, jadi… selamat menyimak.


dua

26 Oktober, 2004

pada sedikit waktu yang mesti kulewati di dunia..
di bagian akhirnya kutemukan matahari..
yang nyatanya adalah..
bintang paling dekat dan terang di langit malamku..

desir angin menerpa rambutnya yang ikal, melambaikan daster motif bunga yang membalut tubuhnya yang gempal berisi. gadis itu berdiri di atas tebing, menatap deburan ombak yang mengempas karang terjal. Matanya menanarkan kerinduan…

ia menanti,

seseorang yang akan mengasuhnya dalam kehangatan dan kebahagiaan, mengentaskannya dari derita menyayat selama 23 tahun belakangan… “Tuhan,” desis bibirnya melantunkan doa, “manakah bintang yang menunjukkan daku jalan kepada-Mu?”

rasa itu, cinta..
memekak di dada, bergaung di jiwa..
hadirkan titik demi titik yang mengumpul jadi siluetmu..
kala kumerindu…


ijin :">

24 Oktober, 2004

07.30 wib

waks, bangun kesiangan nih, ada janji pagi ini bada subuh, gimana dong?

ah sms aja deh

>> ustad, afwan nih, kemarin kelelahan, tadi pagi abis subuh ketiduran baru bangun sekarang, jadi ga datang nih, maaf banget yaaa….

–message delivered– ah lega, biip-biip-biip

>>Ya, Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’dama amatana wailahinnusyur

heeks!!! jadi malu :”>


satu

21 Oktober, 2004

matahari sudah meninggi, sudah jauh meninggalkan pagi, baru saja melewati batas duha, sebentar lagi, hampir semua orang berharap, mereka berkumpul menantikannya, sebentar lagi, orang-orang berkerumun di jalanan, menuruni tangga-tangga gedung, memenuhi lift-lift, tumpah ruah di jalan-jalan, sebentar lagi, menantikan yang akan datang lepas tengah hari…

tapi jam tangan masih menunjukkan waktu terlalu pagi, tidak pas untuk memenuhi janji, katanya ia hadir lepas tengah hari… sementara terik makin membakar kulit, mendung enggan bergabung sekedar memberi sedikit keteduhan. orang-orang yang telah memenuhi jalanan semakin banyak, tak sabar, peluh mereka membanjiri selokan, “siapa sih yang akan hadir?” batin mereka bertanya-tanya. “katanya sebentar lagi,” sebagian bicara kepada sebagian yang lain, ada juga yang diam tak mampu berkata, atau diam menerka-nerka apa yang akan terjadi.

langit yang cerah, dimakan gulitanya nimbus, matahari menghindar dari pandangan orang-orang, tiba-tiba suara wanita menjerit melengking, mengagetkan kerumunan, lalu buyar, kekisruhan dan kekacauan, yang dinanti belum tiba, namun orang-orang berlarian kesana-kemari tak tentu arah, seperti mencari perlindungan, atau sekedar tempat menghela napas? suasana begitu carut marut, padahal sepi…


%d blogger menyukai ini: