SELAMAT IDUL FITRI 1425 H

11 November, 2004


SELAMAT IDUL FITRI 1425 H. Taqobbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin wal Faizin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Posted by Hello


kulihat

6 November, 2004

kulihat cinta berubah..
gelombangnya tak lagi
mbuat jiwa bangkit..
cahayanya tak lagi mampu
nerangi malam..
atau mungkin
aku telah
lelah mensyukuri..


enam

5 November, 2004

Morning doesn’t mean getting up n working again.. it rather means Allah loves u so much to let u live n see another day.. Good Morning, hav a wonderful day! 😀Lho? tumben-tumbennya dia ngirimin aku mesej, biasanya aku duluan yang ngirim ke dia. Terus terang deh, hubungan yang terjalin di antara aku dan dia aneh, sama sekali tidak disengaja.

awalnya, aduh… awalnya gimana ya? siapa yang ngawali ya?
begini aja, aku biasa bermain internet dan memajang bisnisku di sana, barangkali banyak orang yang mencari tahu tentang suatu bisnis yang mungkin saja bisnisku match dengan bisnis yang dicari.

suatu hari aku melihat nama, alamat emailnya di guestbook, lalu aku respon aja dengan ucapan: “thanks for coming and signing my guestbook.” ternyata dia respon balik, dan dia memang pada waktu mampir ke homepage-ku gara-gara nyari suatu bisnis di internet. akhirnya imel-imelan deh. dan terus bergulir, dilanjut dengan kirim-balas sms, dan kupikir dia punya perhatian gitu kepadaku, tapi… memang siapa sih yang bakal mengira, hubungan internet jadi hubungan di dunia nyata?

walaupun itu banyak terjadi, tapi banyak juga yang masih menyangsikan.


rahib di malam hari

4 November, 2004

dua per tiga ramadan telah lewat,
adakah ia mampir di lubuk kepribadian,
atau hanya numpang lewat
tanpa sempat kita memintanya
untuk sekedar menyapa?

barangkali dunia sudah cukup kenyang
oleh kita yang terus menjejali keinginan
hari-hari berlalu melaju
tanpa sadari syawal menjelang
mengabarkan ramadan sebentar lagi pergi

rahib-rahib di malam hari
bersenjatakan pedang, pena dan lisan di siang hari
menyandang pakaian kehambaan dan kelemahan
dalam butiran tangis menyerta kidung alquran
memohon keampunan dari Tuhan mereka

dua per tiga ramadan telah berlalu
sampai kapankah kita tetap terpaku
tanpa kerja dan tapa laku
padahal malam-malamnya penuh kemuliaan
sediakan kebahagiaan hingga terbit fajar?


lima

1 November, 2004

“Ternyata siang masih panjang,” desah hatiku bersuara.

Kucoba lemparkan pandangan ke sekeliling, masih ada beberapa orang di dalam ruang sembahyang, ada yang sedang membaca alquran, sementara ada juga yang mengais pahala dengan salat-salat sunnah, ada juga yang berbaring menikmati sejuknya masjid.Aku beranjak dari duduk zikirku menuju ke pelataran. Di sana kudapati pedagang buku-buku agama dan penjual peci berkutat menarik perhatian jamaah yang sedang melihat-lihat jualan. Beberapa peminat bercakap-cakap di hadapan barang dagangan yang terhidang di atas tikar.

“Kemarin aku ikut pengajian Ustazah ini lho.”

“Ustazah yang mana maksudmu?”

“Ini yang mantan biarawati.” sambil menunjukkan sebuah VCD dialog

“Oh, bagus pengajiannya?”

“Dia memaparkan secara gamblang tentang kondisi sebenarnya.”

“Maksudnya?”

“Iya, dia seorang perempuan yang cerdas dan luar biasa, ia memberitahu tentang sikap kehati-hatian dan toleransi yang seharusnya dimiliki seorang muslim.”

“Kok kamu bisa ikutan pengajiannya sih?”

“Kebetulan aku diajak teman, ternyata pengajiannya sebulan sekali.”

“Di mana?”

“Dekat kantorku di daerah Setiabudi.”

Di samping aku duduk, ada beberapa pemijat dari Madura. Mereka menawarkan ramuan Madura sebagai solusi kesehatan dengan harga dua puluh ribu rupiah saja. Kelengkapan yang mereka bawa adalah kain, minyak pijat, beberapa kliping koran yang dilaminating. Kliping koran itu bercerita tentang kiprah mereka.

Seorang pemuda berbicara dengan mereka.

“Mari dik, saya pijat.”

“Ah tidak usah pak.”

“Tak apa gratis, sambil saya deteksi.”

Tangan pemijit itu pun langsung menarik lengan si pemuda dan mulai memijat.

“Sudah punya anak, dik?”

“Belum pak.”

“Sepertinya adik sering masuk angin dan pusing kepala ya?”

“Benar, darimana Bapak tahu?”

“Jarang olahraga ya?”

“Wah, juga sering kesemutan nih kakinya.”

“Ya, kalau duduk sila, tidak lama cepat kesemutan.”

“Itu gejala asam urat, coba saya deteksi kakinya.”

Si pemuda membuka kaus kakinya lalu mengulurkan salah satu kakinya untuk dipijat.

“Bismillah..” si pemijat merapal doa.

“Dik, ini gejalanya sudah saya dapat, jangan makan jeroan dan air kelapa selama seminggu ya.”

“Baik pak, lalu?”

“Wah, adik belum kawin?”

“Hehehe… belum.” semburat malu terlihat di wajah pemuda itu.

“Wah, gak tahan lama.”

“Gak tahan lama bagaimana pak?”

“Mudah ejakulasi dini.”

“?”

“Walau belum nikah, ketahuan kok, nanti kalau kawin kamu gak tahan lama.”

“?”

“Ingat ya, dik jangan makan jeroan dan air kelapa selama seminggu.”

“Ya.”

“Mau sembuh?”

“Ya jelas mau dong.”

“Ini obatnya dua butir diolesin sekarang, cuma dua puluh ribu saja.”

“Gak bisa dibawa pulang?”

“Gak bisa, selama pengobatan jangan makan jeroan dan air kelapa seminggu lamanya.”

“Oh begitu.”

“Minggu depan datang lagi untuk pengobatan lanjutan.”

“Lho?”

“Hanya memastikan bahwa pengobatannya berhasil. Kesembuhan hanya dari Allah, dik.”

“Terima kasih pak, tapi saat ini saya tidak dulu ya, pak.”

“Adik ingin sembuh?”

“Insya Allah, pak. Terima kasih, mari.”

Pemuda itu pun berlalu setelah menjabat terima kasih tangan si pemijat.

Kualihkan pandangan ke anak-anak usia SD-SMP yang tekun mengusap dan menyemir sepatu jamaah. Terlihat sepatu-sepatu yang telah tersemir, mengkilap tersusun rapi menunggu pemiliknya.

Seorang jamaah memanggil salah seorang anak penyemir sepatu dan memberikan kupon bernomor. Anak itupun sigap mengambilkan sepatu orang tersebut.

“Terima kasih, dik,” sambil mengulurkan selembar uang lima ribuan.

“Kembalinya pak,” anak itu menyerahkan tiga lembar uang seribuan.

“Tak usah, ambillah untukmu,” orang itu berlalu.

“Terima kasih, pak.”

“Dik!” seorang jamaah lain memanggil anak penyemir sepatu.

“Ini pak sepatunya.”

“Ini, terima kasih,” orang itu memberikan selembar uang seribu.

“Maaf pak, dua ribu rupiah.”

“Lho, biasanya juga segitu.”

“Iya kalau bapak hanya menitipkan, kalau sekaligus semir jadi dua ribu.”

“Huh, ini uangnya,” sambil bersungut-sungut orang itu berlalu.

“Ada kalanya kita tak mampu menghargai jerih payah orang lain,” gumamku sambil menyungging senyum sendiri.

Kulihat jarum jam di dinding masjid menunjukkan angka dua, aku pun memasang kaus kaki dan memasukkan kedua kakiku itu ke dalam sepatu. Kusapa penjaga masjid yang sedang duduk berwirid di belakang meja. Kulangkahkan kaki kembali menuju ruang kerjaku di gedung berlantai tiga puluh yang menjulang di depan masjid ini.

“Ternyata siang masih panjang,” desah hatiku bersuara.

***

[29.6.04] percakapan di pelataran masjid


%d blogger menyukai ini: