Gmail – [imoetgp98] Mencari Istri yang Cucok – Was:Mencari Istri Sempurna

judul di atas jadi tema yang hangat di milis angkatan, sehingga tergelitik untuk saya menulis apa yang mungkin saja mampu mencerahkan.

Sempurna maupun cocok? mau cari yang klop? ibarat steker dengan stop
kontak aja ngga semua cocok atau klop, tapi bisa mengalirkan listrik
ke alat elektronik kita kan?

pada awalnya mencinta adalah memberi, namun apalagi yang mau dikasih
kalau sudah habis yang bisa kita berikan tetapi ngga cocok-cocok juga?

ngga balik modal dong? kalo ga cocok, cari yang lain? kalo begitu
terus kapan dapat yang cocok?

kata nyokapnya baban aja udah merit begitu lama suka saling silang
pendapat, apalagi yang baru, atau bahkan yang masih pacaran? kalo yg
ga punya sih, mau silang pendapat sama siapa? hehehe…

pada tahap kedua, mencinta adalah menerima, yee, enak di gue ngga enak
di elo dong. “) karena ada timbal balik, ada yang memberi dan ada yang
menerima. termasuk juga menerima dia apa adanya, karena kita
diciptakan berbeda. tapi kalau menerima terus juga bukan melanggengkan
cinta, justru menumpulkannya. yang ngasih terus juga bakal kehabisan,
sedangkan yang nerima mau taruh dimana lagi padahal kamar dan gudang
udah kehabisan tempat buat nerima cinta?

nah, pada tahap ketiga adalah menumbuhkan keinginan mencinta (merawat cinta)
ibarat benih yang ditanam di tanah/pot, selanjutnya adalah menyiramnya
dan memupuknya. agar tanaman itu tumbuh. agar dapat selalu mencinta,
memberi dan menerima.

pada tahap keempat adalah menghasilkan
tidak ada yang lebih membahagiakan kita ketika tanaman yang kita
tanam, kita rawat sejak awal hingga tumbuh dan berkembang, kecuali
saat-saat panen buahnya. begitulah mencinta adalah menghasilkan,
supaya kita mampu menikmati dan mensyukuri cinta yang telah kita beri,
terima dan rawat

apakah sudah selesai? belum, ternyata mencinta adalah sebuah siklus produktif

selama kita menginginkan agar selalu cinta tersebut tetap tumbuh,
berkembang, dan berbuah. maka tahap kelima adalah mensyukuri cinta.

syukurilah bahwa pada saat ini kita dicintai orang lain (termasuk
istri dan anak-anak kita), syukurilah kita masih mampu memberikan
kasih sayang kita kepada orang lain, syukurilah bahwa kita mampu
mencintai.

semoga mencerahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: