Kisah seorang Kakek Tua dan Seorang Cucu

18 Oktober, 2005

oleh: Leo Tolstoy

Kakek itu sudah sangat tua. Kakinya sudah tak mau lagi diajak berjalan, matanya tak mau melihat, telinganya tak mau mendengar. Ia sudah tak punya gigi. Jadi, bila makan, makanan berjatuhan dari mulutnya.Anaknya dan menantu perempuannya sudah tak mau menyiapkan tempat untuk kakek itu di meja makan. Mereka memberi kakek itu santap malam di belakang dapur. Suatu hari, mereka memberi makan malam kepada kakek itu dalam sebuah mangkok. Ketika kakek tua itu ingin memindahkan mankok tersebut, mangkok itu jatuh dan pecah. Sang menantu perempuan menggerutu karena kakek tua itu sudah sering menumpahkan apa saja di rumah dan memecahkan mankok. Si menantu berkata bahwa sekarang ia akan memberinya makan malam dalam sebuah baskom yang biasa digunakan untuk mencuci piring. Kakek tua itu hanya mengeluh dan tidak berkata apa-apa.

Suatu hari, ketika suami istri itu ada di rumah, mereka mengamati anak laki-laki mereka yang masih kecil bermain di lantai dengan beberapa bilah papan kayu: ia sedang membuat sesuatu. Ayahnya bertanya: “Apa yang sedang kamu lakukan, Misha?” Dan Misha berkata,”Ayah sayang, aku sedang membuat baskom mencuci piring. Jadi, bila Ayah dan Ibu sudah tua, Ayah dan Ibu bisa makan dari tempat ini.”
Suami istri itu saling berpandangan dan menangis.

Mereka sangat malu karena melukai hati si kakek tua itu, dan sejak saat itu mereka mempersilakan kakek tua itu duduk di meja makan dan melayaninya.

Iklan

%d blogger menyukai ini: