delapan

9 Februari, 2006

“nikahi aku!”
jejaka itu terdiam mendengar permintaan si gadis, ia pandangi sosok di hadapannya dan juga berkas yang dipegangnya tanpa kata-kata.
si gadis tetap mendesak agar si jejaka mau menikahinya segera
ia sudah memiliki begitu banyak impian yang direncanakan untuk diwujudkan bersama jejaka itu
ia ingin bahagia dengan dinikahi oleh si jejaka

sedangkan si jejaka
tak memiliki keberanian untuk melanjutkan perkenalan dengan si gadis
“tak ada apapun yang terjadi di antara kita, aku benar-benar tulus memintamu menikahi aku”
si gadis tetap mendesak

memang, tidak ada hal istimewa yang terjadi di antara mereka, tak ada istilah “accident” dalam hubungan mereka. kenalan pun baru beberapa minggu, si gadis merasa cocok saja dengan si jejaka, ia hanya ingin segera menghilangkan nestapa yang dideritanya dengan kehadiran jejaka dan meminta si jejaka untuk membantunya meraih impian mereka.
dari setiap perbincangan yang terjadi di antara mereka, si gadis melihat sisi misterius dari jejaka, yang membuatnya bergairah untuk menyelidik lebih jauh. dan si jejaka pun mencoba menabiri dirinya dengan sedikit bicara.

si jejaka tahu bahwa dirinya menyukai si gadis, tetapi sebatas teman bicara, ia membutuhkan seseorang yang mampu membantu dirinya memahami dirinya sendiri dan mengajarkannya hidup dengan baik. ia tidak melihat kemampuan tersebut ada pada si gadis, yang hanya memiliki impiannya dan merasa dengan menikah dengan si jejaka segalanya akan menjadi beres.

“aku tak sanggup melanjutkan proses ini”
akhirnya si jejaka membuka lisannya, “aku bukanlah orang yang pantas mengiringi langkahmu dan menjadi penyejuk bagimu.”

gantian si gadis terbungkam, wajahnya merah padam, rasa malunya tak terhingga ditolak oleh jejaka harapannya. impiannya punah sudah, rasa hati bergejolak menghancurkan asa. ia pun membalikkan badannya dan lari dari si jejaka tanpa kata pamit.

tumpahlah segala rasa yang memenuhi dadanya, derai air mata tak henti mengalir, dialaminya kembali penolakan oleh orang yang diharapkannya akan memimpin dirinya kepada surga.

dalam patah, ia bisikkan sebaris tanya
“Tuhan, sampai kapan Engkau mencobai aku dan menghilangkan nestapa ini dari diriku?”


dari pengasingan

9 Februari, 2006

memilih pengasingan sebagai tempat untuk bermetamorfosa, atau dalam istilah lain beruzlah, merupakan perilaku dan tindak para pencari jalan kebijakan (salik), sejak jaman dahulu hingga kini. mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia, melepaskan kepenatan dan menurunkan beban dari punggung kita, membuat kita sedikit bernapas lega dan merasa bebas, sehingga pikiran pun menjadi jernih dari keruh, dan dada menjadi lapang dari sempit.

banyak perkara yang dapat dilakukan oleh para salik di dalam keterasingan itu, ia bisa bebas menerima kebijakan masuk ke dalam dirinya atau memilih nafsu menungganginya. keterasingan bukan berarti jauh dari fasilitas duniawi, namun keterasingan dapat juga berarti mengalami pengalaman baru, suasana baru dan ritme kehidupan yang baru. keterasingan mampu menyeret kita kepada kepedulian akan diri dan hidup, dan juga mampu menyodorkan kita kegairahan dan hingar bingar egoisme.

tentu saja akan banyak lesson learn yang diperoleh dalam setiap kondisi yang dipilih oleh para salik, dan itu tentulah akan memperkaya kebijakan yang selama ini mereka tumpuk. bagaimanapun kebahagiaan dari keterasingan adalah ketika ia kembali kepada real life dan mengamalkan kebijakan yang diperolehnya selama dalam perjalanan.

tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri sendiri pada masa pengasingan selama 3 bulan di offshore


%d blogger menyukai ini: