sembilan

sore yang teduh, gerimis baru saja menunaikan hajatnya memberi kesegaran kepada tanah yang berdebu.
ia duduk dalam kerinduan akan kampungnya yang ditinggalkannya sementara untuk bertugas di belantara rawa kalimantan. tenggelam ia dalam kenangannya tentang seseorang yang ia cinta –tanpa sadar bahwa ia benar-benar mencintainya– bertahun-tahun. kekasihnya itu kini sudah dipetik oleh laki-laki baik yang lelah mencari pendamping hidup.

kekasih yang tak pernah diakui namun menyata dalam detak hidupnya. bahkan di antara mereka sudah berjalan cukup jauh permainan rasa yang menyiksa. namun dengan perginya kekasih kepada pelukan laki-laki baik itu, ia merasa banci tak mampu mempertahankan episod kasihnya yang ditulisnya dengan payah.

angin membisik telinganya kabar pernikahan seorang perempuan baik. perempuan baik yang baru dikenalnya yang mampu mengusir sedikit kesedihannya dari kehilangan kekasih. kembali ia ke dalam sepi.

ia menatap wajah langit yang mencoba menghibur hatinya. menawarkan harapan tentang hidup yang lebih baik, tentang cinta kasih, tentang harapan itu sendiri. melukis pelangi di atas bentangan hutan nilam, tempat bekerjanya, menyibukkan ia dari angan-angan kosong…

pernahkah kau lihat pelangi
hadir bila gerimis reda
bawa kisah di tiap warna

sejenak ia menyapa
hingga mentari senyum kembali
jangan patah asamu padanya
Tuhan kuasa jumpakan lagi

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: