sebelas

seharusnya rembulan menyapa malam ini
masih purnama, adakah kau jumpai ia?
bagaimana rupanya?
katakan kepadanya bila kau melihat dia
bahwa ada seseorang yang
merindu kekasihnya
laki-laki itu membisikkan desahnya pada angin malam. ia tatap langit yang berselimut awan, bulan saat itu terhalang mendung, namun di sela-sela masih nampak beberapa bintang bercengkerama dengan indah.

“you’ve got a message!”

telepon genggamnya membunyikan nada. dibuka dan dibacanya pesan yang ia terima dari seseorang yang sangat dirinduinya pada malam itu. seorang perempuan yang telah menyerahkan pembinaan diri pada laki-laki itu, yang mengulurkan tangannya untuk diajak melangkah bersama menuju surga.

bila senja menjelang kuterdiam
sepi menyergap
di bawah purnama kubisikkan tanya,
“Tuhan, masihkah ada cinta tersimpan untukku?
masihkah ada rindu tertuju kepadaku?”

“dinda, dikau merapal mantra,” gumam laki-laki itu, sambil dipijitnya tombol-tombol di telepon genggamnya membalas pesan cinta dari perempuan yang telah dinikahinya delapan belas bulan yang lalu. perempuan itu kini sedang merawat cikal cinta mereka, sementara laki-laki itu harus pergi mencari nafkah untuk beberapa minggu.

“message sent”

di tiap desah angin
terdengar desahmu mengadu
dalam riak riam
tertangkap isakmu gemericik
untuk senyap malam
terbayang wajah muram terdiam
katakan, “aku mendengar-Mu
Tuhan, ia bicara tentang rindu dan sayang”

ribuan mil di balik gelombang samudera dan konstruksi beton yang membangun metropolitan, di sebuah gubuk, seorang perempuan tersenyum menerima pesan cinta dari suaminya. “baba, mengirim pesan untuk kita, sayang,” bisiknya kepada bakal bayi yang tengah dikandungnya dua puluh tujuh pekan. “mari kita doakan baba, agar Allah senantiasa menjaganya, sebagaimana Dia menjaga mama dan kamu,” ujarnya tersenyum merasakan reaksi bakal bayi di dalam rahimnya.

dalam balutan malam penuh bintang
penuhi rasa syukurku, Tuhan
masih dapat kurasa kelembutan hidup
di antara kerasnya,
masih ada ketegaran hati dalam pedihnya,
masih terdengar doa dalam bingarnya,
masih tersedia asa dalam patahnya,
masih kudapati bahagia dalam sendunya,
yang mengajarku
untuk senyum pada kegetiran,
membekali aku dengan iman
dan kepasrahan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: