tigabelas

ngga ada yang tahu sebenarnya gue ngga bisa nulis, gue paling bodoh jika harus mengungkapkan apa yang ada di dalam hati ini. kalau saja orang-orang yang selalu memuji gue itu tahu bahwa dari sekian banyak catatan di diari gue, lebih sering berisi catatan ringkas yang paling banyak hanya 3-4 baris saja. tapi anehnya mereka sering nganggap gue orang yang bijaksana, mereka selalu punya alasan bahwa tulisan-tulisan gue memberi inspirasi.

“gue bangga sama loe, semakin dewasa. tulisan-tulisan loe itu humble.”
“walau gue ga punya banyak komentar atas tulisan loe, tetapi gue sering nyadar sering gue terpengaruh sama tulisan loe.”
“loe tuh, kalo nyampein sesuatu, ngga pernah terasa menyakitkan, walupun sebenarnya itu sindiran.”
“loe punya tulisan, mengalir dan enak dibacanya, ngga ngebosenin.”
“loe punya gaya tulisan yang asyik, ga semua orang mampu ngungkapin seperti itu.”
“tulisan-tulisan loe bagus, kepikiran ngga untuk mengumpulkannya jadi buku dan diterbitkan?”

dan masih banyak lagi komentar lagi tentang tulisan gue. waduh!
selama ini gue cuma menulis apa yang gue lihat, dengar, rasa, baca, dan terima. gue ngga pernah kepikiran untuk mempengaruhi orang lain, apalagi sampai membuat mereka jatuh cinta sama gaya tulisan gue. itu bikin gue sakit hati!

gue ngga pernah bisa nulis apapun, gue akuin itu.
yang gue tulis juga bukan orisinil, tapi gue juga ngga nyeplak abis apa yang gue dapat. it’s just like a mix many formulas to be a new formula. ngga lebih dari itu, dan gue ngerasa ngga patut dapat penghargaan apapun dari pembaca.

sering ketika gue terima komentar yang isinya cuma pujian, gue ngelus dada, masak sih ga ada yang kasih cacian sama gue? terus terang, gue ngga bisa nulis, dan kalopun gue terus nulis, karena gue ngga tahu harus ngomong sama siapa apa yang ada dalam kepala dan hati gue.

dan sekarang, ketika gue tahu banyak orang yang baca tulisan gue, gue makin ngerasa bodoh dalam menulis, karena gue ngga bisa kasih mereka hal terbaik, mereka cuma baca apa yang jadi keluhan gue, mereka cuma baca apa yang jadi gerundelan hati gue. tapi gue ngga bisa ngasih sesuatu yang lebih baik dari itu.

gue pengen dapat cacian, agar gue berhenti menulis, agar gue berhenti berpikir, agar gue berhenti merasa, juga melihat, mendengar dan membaca. agar gue ngga lagi mempengaruhi orang lain dengan “inspirasi” yang mereka dapatkan dari tulisan-tulisan gue.

gue sendiri, merasa bosan dengan tulisan-tulisan gue, masak orang lain terus memaksa gue untuk menulis?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: