10 Off 2

28 Maret, 2006

[pob.04.03] down to Matak. 410jam 5 sore kami sampai di Matak, bertemu dengan pak Arifin Sjukur dan dr. Ary yang sedang menuju landasan untuk jogginng sore itu. Kebetulan helikopter yang kami tumpangi adalah penerbangan terakhir. Kami diminta menempati kamar 410, karena kamar 112 yang pernah kami tempati pada Off 1 lalu sedang ditempati oleh teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan oil spill sejak tanggal 1.Kamar 410 memang bukan kamar yang disarankan untuk pekerja pihak pertama maupun pihak kedua. Barak 4 adalah barak untuk pihak ketiga, para subkontraktor. Tetapi yang mengesalkan kami adalah perbedaan pelayanan dalam perawatan kamarnya. Coret-coretan di kayu tempat tidur, bantal yang bau apek. Walaupun dilucuti sarung bantalnya dan spreinya, tetap saja bau. Waaa… malam itu tidur tanpa bantal dan sprei. Hanya selimut dan itupun bau matahari. Hiks…[pob.05.03] main tennis. Tidur siang. Main ke pulau Langu dan berenang bersama pak Arifin dan teman-teman oil spill training.

Pagi itu kami main tennis, berkenalan dengan orang surveyor, dan menjemur bantal! Siang yang panas bikin bantal yang berpulau-pulau itu menguap baunya. Beberapa orang dari peserta pelatihan oil spill adalah teman-teman yang pernah kami jumpai di LGP. Jam 4 ½ kami dijemput pak Arifin dan menuju jetty. Dengan rescue boat kami meluncur ke pulau Langu dan bersenang-senang sampai magrib.

Makan malam kami saat itu spesial, barbeque dari berbagai macam ikan, ayam dan daging sapi. Wow.

[pob.06.03] main ke Terempa. Tidur siang. Jalan cepat di landasan.

Jam 6 ½ pagi kami bergegas menuju dermaga Payalaman, alhamdulillah mendapat tempat duduk di pompong. Perjalanan menuju Terempa lebih lambat daripada perjalanan kami sebelumnya. Sesampainya di Terempa, kami mampir ke kedai Murai, minum secangkir teh atau kopi. Setelah itu kami berjalan menyusuri pantai sebelah barat. Beberapa rumah penduduk berada di daratan, sebagian lain bertopang susunan kayu di atas pantai.

Ada batu yang dibelah menjadi jalan orang lewat. Kami terus berjalan sampai ke vihara yang berada di tebing. Untuk mencapainya harus menaiki undakan. Bangunan vihara ini terlihat menarik ketika kita berada di dalam pompong pada perjalanan dari dan ke Tarempa. Beberapa komunitas keturunan tionghoa hidup di sekitar vihara, bekerja sebagai pedagang, nelayan maupun petani. Pemandangan dari halaman vihara amat indah. Kita dapat memandang perairan teluk dan selat, maupun kota kecil bernama Tarempa yang berada di teluk sebelah utara pulau Siantan.

Dari vihara, kami kunjungi penginapan tanjung Indah yang dibangun menjorok ke teluk untuk mendapat pemandangan teluk Tarempa yang indah. Di depan penginapan, terdapat perajin pompong bernama pak Sabli. Saat kami kunjungi, beliau sedang mengerjakan pesanan pompong dengan panjang 8 meter. Di Tarempa, hanya dia perajin pompong saat ini. Kayu penyusun pompong diusahakan papan solid yang panjangnya sesuai panjang pompong yang diinginkan dan tidak terpotong. Untuk membuat lekukan perahu, papan tersebut dibakar sebelum dilekukkan. Setiap celah antara papan diisikan dengan kulit kayu gelam yang dapat mengembang ketika terkena air. Menyambungkan antara papan sebagian besar dengan pasak kayu dan sebagian lagi dengan paku atau murbaut besi.

Kami lanjutkan perjalanan ke pasar, mencari sandal berpelindung tumit, dan tidak kami dapatkan satupun. Kemudian menuju penjahit untuk menjahit celana pendek kami bertiga yang sobek. Dan makan di kedai pinggir laut yang dekat dermaga dan menghadap ke teluk.

Di kedai kami berkenalan dengan Sabri, seorang petugas dinas kesehatan yang berasal dari Medan. Beliau lulusan Akademi Kimia Analis dan pernah bekerja di Papua sebagai analis laboratorium Freeport. Resah hatinya meninggalkan sanak keluarga membuatnya keluar dari pekerjaannya dan menjadi petugas dinas kesehatan di Terempa. Walaupun penghasilannya tak seberapa dibandingkan dari pekerjaan sebelumnya, ia lebih merasakan ketenangan.

Ada banyak hal yang tidak kita pahami mengapa seseorang berbuat sesuatu yang menurut kacamata materi mengherankan, tetapi justru itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik 🙂Belajar dari pengalaman pertama kami ke Tarempa ([jou.13.02]) kami segera masuk ke pompong walaupun pompong baru akan berangkat setengah jam kemudian. Bersyukur kami tidak perlu duduk di atas atap perahu lagi. Berkenalan dengan pak Bukhari, seorang pekerja community development dari perusahaan partner kami.
Sesampainya kembali ke base, kami tidur siang. Sore itu saya pergi ke landasan untuk berjalan cepat. Beberapa orang saya temui sedang jogging di sore itu. Waktu 45 menit dihabiskan untuk berjalan cepat menjelang magrib.


menjaga

27 Maret, 2006

Seperti merajut masa..
Menanti sang kelana dari kembara..
Tapi selalu kujaga asa untuknya..
Agar dapat kupersembahkan cinta kala hadirnya..
Tuhanku jagalah ia..


09 Trip 2-2

26 Maret, 2006

[pob.20.02] morning meeting. Classroom for HSE Programs and Process Design Overview of FPSO.Dalam morning meeting di FPSO ada agenda yang disebut sebagai safety talks. Berhubung masih banyak orang asing yang bekerja di FPSO ini, the communication is conducted in English language especially for meetings. It’s not bad; as we can improve the capability of these workers in speak English as foreign language. Back to safety talks, juga disampaikan dalam bahasa Inggris. Setiap hari pembicaranya berbeda dari para pekerja dan sudah dijadwalkan dengan rapi.Agenda safety talks merupakan salah satu program dari HSE. Di antara program lainnya adalah sosialisasi prosedur, program championship, program weekly safety leader, audit, fire drill, dan safety training & observation program (STOP).

STOP menjadi tolok ukur keberhasilan penerapan HSE pada pekerja. Kegiatan STOP sendiri adalah menghentikan pekerjaan, memulai pemindaian keadaan dan potensi bahaya, melakukan intervensi, dan mencatat dalam kartu STOP. Kriteria pengisian kartu STOP yang baik harus memenuhi sebesar apa kewaspadaaan dan apa yang dilakukan untuk mengatasi potensi bahaya tersebut, baik kepada alat maupun orang. Setiap orang yang mengetahui dituntut untuk membuat kartu STOP.

Permasalahan laten yang harus diwaspadai oleh HSE advisor dan safety leader adalah ketika kartu STOP banyak dibuat oleh para pekerja dapat berarti tingkat kewaspadaan tinggi atau tingkat potensi bahaya tinggi, sedangkan ketika kartu STOP sedikit dibuat dapat berarti tingkat potensi bahaya rendah atau para pekerja sudah mulai lengah. Oleh karena itu, media safety talks dan safety campaign menjadi perhatian untuk terus mengingatkan para pekerja untuk senantiasa bekerja dengan aman.

Setelah pak Agung Djatmiko menyampaikan materi kelas mengenai HSE program, pak Ramli Pakeh sebagai superintendent operasi mengajarkan desain proses pabrik gas di FPSO.

Mengikuti materi yang disampaikan oleh pak Ramli, ingatan saya melayang ke masa kuliah dulu. Sebagai mahasiswa Teknik Gas dan Petrokimia, salah satu mata kuliah wajib adalah Pengolahan Gas. Kembali saya teringat tentang proses pengolahan gas alam sehingga menjadi liquified natural gas (LNG) dan LPG yang keduanya merupakan NGL (natural gas liquid).

LNG adalah Gas Bumi yang terutama terdiri dari metana yang dicairkan pada suhu sangat rendah (sekitar minus 160º C) dan dipertahankan dalam keadaan cair untuk mempermudah transportasi dan penimbunan. Sedangkan LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya yang pada dasarnya terdiri atas propana, butana, atau campuran keduanya.

Di dalam FPSO proses pengolahan gas alam menjadi NGL mengalami beberapa perlakuan, yaitu:

  • Amine contactor sebagai alat untuk menghilangkan kandungan H2S pada gas alam
  • Mercury guard bed sebagai alat untuk menghilangkan kandungan merkuri
  • Mol sieve dehydration sebagai alat untuk menghilangkan kandungan air
  • Cryogenic Expander plant sebagai alat untuk memperoleh kandungan etana yang tinggi

LNG yang dihasilkan oleh FPSO utamanya untuk ekspor, dan sebagian digunakan sebagai fuel gas dan injeksi sumur. Gas injeksi bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir. LPG yang dihasilkan oleh LPG plant akan ditampung pada FSO untuk LPG yang sedianya baru dioperasikan akhir tahun ini.Dari hasil perbincangan, diketahui bahwa FPSO masih membutuhkan tenaga kerja insinyur proses untuk dapat menghitung dan menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi di FPSO. Tertarik dengan tantangan ini, sempat tergiur juga untuk mencicipi pekerjaan di lepas pantai. Apalagi mendapat sinyalemen dari kantor agar saya belajar apa saja yang dapat mengembangkan kemampuan saya, barangkali dibutuhkan untuk masa depan. Who knows?[pob.21.02] morning meeting. Safety initiatives.

Tak banyak yang dapat diceritakan, sebagian besar pembicaraan mengenai safety sudah diungkap di atas. Saya malah ngeblog dan mulai menulis for dummies seri safety hehehe..

[pob.22.02] morning meeting. Kerja bakti suplai makanan. Management of change presentation.

Ada kerja bakti mengangkut bahan makanan dari container ke gudang dapur. Container terletak di section P2 dan S2 sedangkan gudang dapur berada di section 8 dan di level 2 living quarter. Untuk mencapai level 2, menggunakan tangga 1 level dari deck. Teman-teman yang di bekerja di container, mengeluarkan barang-barang dan menempatkannya ke dalam trolley, ada 3 trolley yang digunakan untuk mengantarkan barang sebanyak 2 container ke dekat gudang. Teman-teman yang di dekat gudang membentuk barisan untuk mengoper barang-barang dari deck ke level 2 diteruskan ke gudang.

Wah, pekerjaan hari itu menyenangkan sekaligus melelahkan.

Presentasi management of change sebagai sosialisasi kepada para leader bahwa setiap pekerjaan yang merubah desain harus dilakukan prosedur MOC.

[pob.23.02] tier-1 audit, housekeeping.

Diajak melakukan audit hosekeeping, dibagi dalam 3 team. Tim pertama ke level 2 gas plant, tim kedua ke level 1 gas plant, dan tim ketiga ke warehouse dan workshop.

[pob.25.02] PTW Review in morning meeting. Power management system with Rahmad Syamsudin.Permit to Work (PTW) merupakan dokumen resmi yang memastikan pekerjaan yang dilakukan sesuai prosedur dan telah mengidentifikasi kaitan dengan unit proses maupun pekerjaan lain serta meminimalisasi potensi bahaya. Prosedur PTW harus dilakukan dengan baik dan dokumen pendukungnya lengkap untuk mempermudah evaluasi.[pob.26.02] electricity touring.

Setelah belajar mengenai power management system pada hari kemarin, kami melanjutkan dengan touring melihat fasilitas pembangkit listrik dan ruang control yang memasok kebutuhan listrik seluruh FPSO. Berbahan bakar gas alam yang sudah diproses di gas plant, menghidupkan generator dan memasok kebutuhan listrik sesuai dengan daya yang dibutuhkan oleh alat-alat di fasilitas. Selain generator gas, FPSO juga memiliki cadangan generator diesel sebagai pendukung saat darurat.

[pob.27.02] Gas export process, operation touring and PTW system at control room with Fujiono.

Pak Ramli sulit ditemui untuk mengajar, beliau disibukkan oleh pekerjaan dan rapat-rapat. Posisinya sebagai superintendent membuat beliau sangat dibutuhkan. Hari itu beliau sangat sibuk, untunglah beliau telah mendelegasikan tugas mengajar kami kepada pak Fujiono.

Bersama dengan beliau kami mendalami proses pengolahan gas ekspor yang dilakukan di FPSO. Setelah cukup memberi pengantar, beliau mengajak kami melihat sosok unit proses secara langsung, menelusuri alur proses dari high pressure separator hingga gas export compressor. Setelah makan siang, kami bertemu kembali untuk mempelajari prosedur dan dokumen PTW.

[pob.28.02] offloading process

hari itu ada tanker yang merapat di single buoy mooring (SBM) untuk membeli minyak dari FPSO. Sebelum proses offloading dimulai, para leader bertemu dan membicarakan pre-job safety. Lamanya offloading proses berlangsung sesuai dengan jumlah barrel yang ditransfer dan kecepatan pompa. Untuk akurasi metering, dilakukan di dua tempat yaitu di tanker penerima dan di tanki pengirim, serta dilakukan running test setiap segmen untuk memastikan kesesuaian jumlah dan komposisi minyak yang dijual.

[pob.01.03] wellhead process with Dody Yuhanes

tidak sempat mengunjungi wellhead platform (WHP) karena kesibukan mentor di FPSO, membuat kami belajar mengenai proses yang terjadi di WHP hanya dari layar monitor di ruang kendali.

[pob.03.03] presentation

sebagaimana trip pertama, di akhir trip kedua ini kami diminta untuk menyampaikan presentasi mengenai hasil observasi dan learning kami mengenai proses operasi produksi, kendala dan usulan untuk FPSO. Kemudian diskusi dilanjutkan mengenai partnership antara perusahaan minyak dengan badan pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi serta konsep kontrak kerja sama yang dibangun oleh keduanya.

Kali ini audiens presentasi kami tidak hanya dari para leader, para pekerja dan pihak ketiga yang berminat dipersilakan untuk hadir. Presentasi yang berlangsung selama 2,5 jam itu berjalan seru dan hidup.

[pob.04.03] down to Matak.

Akhirnya selesailah masa trip kedua kami. Peraturan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan ini, setiap orang diperbolehkan berada di fasilitas produksi maksimal 21 hari dan diberikan masa berlibur minimal 7 hari dalam sebulan. Di awal masa OJT ini kami diberitahu bahwa masa “on” adalah 2 minggu dan masa “off” adalah 1 minggu.

Namun ketentuan perusahaan kami mengenai OJT bahwa peserta OJT tidak diperkenankan kembali ke republik Jakarta (pulau Jawa) selama masa OJT. Sehingga masa “off” kami harus dihabiskan di pulau Matak dan sekitarnya. Banyak hal exciting yang dapat kami alami selama berlibur di pulau Matak, yang tentu saja tidak mudah diperoleh jika kami berlibur di kota.

Teman-teman yang mendapatkan OJT di onshore, memanfaatkan waktu libur di kota propinsi terdekat dengan lokasi OJT. Sedangkan kami, bergumul dengan perahu, air laut, pulau-pulau, hutan dan bukit.

Helikopter yang akan menjemput kami kembali ke Matak, akhirnya datang sore setelah ditunggu sejak siang dan membuat kami sampai di Matak menjelang magrib.


Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)

14 Maret, 2006

ada Band feat Gita Gutawa

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala
mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala
sesuatu yang pernah terlewati

**

lirik yang sangat menyentuh, kadang-kadang harus merelakan bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi saat mendengarnya, kerinduan kepada ayah tercinta. semoga Allah membimbing dan menyayangimu selalu sebagaimana engkau melakukannya padaku di masa kecilku.


08 Trip 2-1

14 Maret, 2006

Jam 5 ½ pagi, telepon di kamar berdering, membangunkan kami yang masih kelelahan. Suara di seberang telepon meminta kami cek in di bandara untuk keberangkatan jam 6 pagi. Walah!!! Pagi yang sangat sibuk, tak sempat sarapan, setelah mandi dan salat subuh, kami lakukan finishing pada packing barang-barang kami. Kemudian ijin kepada pak asep bahwa kami berangkat pagi itu.Tujuan kami pada trip 2 ini adalah fasilitas floating production, storage & offloading (FPSO) yang berada di Eastern Hub Operation.[pob.18.02] up to FPSO. Orientation.

Di FPSO kami disambut dengan program orientasi yang terjadwal, wah rupanya mereka lebih siap menerima kami. Pagi itu setelah meminta waktu untuk sarapan, kami mulai orientasi di ruang TV yang dijadikan sebagai classroom. Dibuka pengantar oleh pak Ian McCulloch sebagai field manager, dilanjutkan pengenalan FPSO oleh pak Nurzaini Maksum. Siang harinya tour melihat-lihat fasilitas FPSO.

Resiko yang nyata dihadapi para pekerja di FPSO ini selain keberadaannya di tengah laut, adalah kebocoran gas beracun dan merkuri. Gas beracun H2S berasal dari sumur gas sedangkan kandungan merkuri berasal dari sumur minyak. Dengan kondisi ini, setiap pekerja dibekali detector gas beracun portable, dan diharuskan menerapkan standar tinggi untuk kesehatan. FPSO dilengkapi fasilitas alarm yang sensitive terhadap percikan api dan kebocoran gas.

[pob.19.02] morning meeting. Fire drill. Classroom HSE Management System. Bypass Review Meeting. ERP Meeting. Toxic Gas Detect at about 9 pm go to muster station.

**

Morning Meeting

Seperti halnya di fasilitas operasi lainnya, di FPSO ini setiap pagi dilakukan morning meeting yang bertujuan sebagai sarana komunikasi dan informasi dari, oleh dan untuk para pekerja. Hal-hal yang disampaikan dalam morning meeting adalah:

Isu-isu yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dan lindungan lingkungan (HSE).
Isu-isu yang berhubungan dengan kebijakan manajemen, baik dari kantor pusat maupun dari operasi di lapangan.
Permasalahan, kemajuan, pesan dan saran, serta solusi yang berkaitan dengan pekerjaan.

Sebagaimana namanya morning meeting menjadi sarana efektif di awal hari kerja, sehingga para pekerja dapat menjalankan pekerjaannya dengan rasa aman, nyaman, waspada, dan senang.

**

Fire Drill for your reminder

Setiap orang yang baru naik ke fasilitas operasi akan diperkenalkan dengan peraturan yang berlaku di lingkungan kerja, di antaranya adalah pengenalan bunyi alarm dan muster point (tempat berkumpul yang aman), dan diberikan kartu personal yang berisi informasi penting. Tidak cukup hanya mengenal bunyi alarm di awal trip, setiap orang berpotensi untuk melupakannya sehingga dilakukanlah latihan alarm untuk berbagai kondisi seperti alarm kebakaran, alarm deteksi gas beracun, dan alarm meninggalkan platform.

Dengan dilakukan latihan alarm setiap kali trip, diharapkan para pekerja waspada dalam keadaan darurat, berjalan dengan tenang menuju muster point, membalikkan kartu personel (T-Card) milik sendiri, mengenakan life jacket, dan menunggu perintah komandan darurat. Untuk beberapa kondisi, latihan juga dilakukan dengan menjalankan mesin lifeboat dan memasukinya, latihan penanganan orang terjatuh ke laut (men overboard), dan latihan penanganan tumpahan minyak atau bahan-bahan berbahaya.

**

Toxic Gas Detect.. toxic gas detect..

Hari itu, setelah mendapatkan materi kelas mengenai HSE management system yang diaplikasikan di lingkungan perusahaan kontraktor tempat kami melaksanakan OJT, kami diajak berpartisipasi dalam beberapa meeting seperti bypass review dan table top.
Bypass review membahas pekerjaan-pekerjaan yang sudah selesai, ditunda, maupun dialihkan. Karena bersifat review, meeting ini cukup singkat. Detil pembahasan dilakukan oleh masing-masing bidang pekerjaan.Table top adalah meeting yang dihadiri oleh para leader seperti para supervisor, kapten, field manager, dan dokter. Pada hari itu table top dilakukan sebagai pengganti latihan men overboard karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Bahasan table top kali ini adalah rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan – ERP). Masalah tumpahan api di laut menjadi tema pembahasan ERP. Meeting berjalan dengan cukup baik dan hangat.

Malam harinya, ketika mata mulai mendapatkan posisi ternyaman dalam terpejamnya, terdengar sayup nada dari speaker. Didengarkan lebih saksama ternyata bunyi alarm deteksi kebocoran gas beracun. Kami segera bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan kamar 515 untuk menuju muster point di lantai 2. Setelah membalikkan T-Card masing-masing, kami bersama para pekerja lainnya menunggu informasi dari komandan. Beberapa saat kemudian terdengar pemberitahuan komandan bahwa isu alarm dapat dikenali dan hanya berupa false alarm, para pekerja di muster point dipersilakan kembali melakukan aktivitas masing-masing.

Menegangkan, bekerja di fasilitas lepas pantai dengan resiko tinggi seperti ini. Pantas teman-teman pekerja mendapatkan tunjangan resiko yang tinggi disamping tunjangan lain-lain dari perusahaan mereka. Sedangkan kami yang sedang melaksanakan OJT ini, hanya mendapatkan uang saku yang tidak besar.

(mungkin gak ya, kami dapat memperoleh tunjangan resiko dari perusahaan kami jika mereka tahu kondisi seperti ini? :D)

*


07 Jamban

12 Maret, 2006

Setelah bertahun-tahun, secara tidak terduga, saya mendengar kembali istilah “jamban”. Saya biasa menggunakan istilah lain untuk menyatakan tempat buang air itu, seperti “WC”, “toilet”, “kamar kecil”, “lavatory”. Beberapa tempat di Malaysia menggunakan kata “tandas” sebagai padanan kata. Oleh karena itu, ketika saya berkunjung ke rumah pak Safri, saya menggunakan istilah “tandas” – saya mengira bahwa bahasa melayu yang digunakan oleh orang-orang natuna adalah sama dengan bahasa melayu yang digunakan oleh penduduk Malaysia. Akan tetapi, keluarga pak Safri, berikut penduduk desa lainnya, secara maklum menggunakan istilah “jamban”.Saya sedang tidak hendak membahas lebih lanjut istilah “jamban” dalam kaidah bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya. Saya akan kembali kepada tempat di mana saya mendengar kembali istilah itu.Di rumah pak Safri, yang disebut jamban adalah sebuah ruangan berukuran 1×1 ½ meter persegi yang terdapat pada kamar mandi berukuran 2×2 ½ meter persegi. Sebuah lampu minyak yang menempel di dinding ruangan menjadi sumber penerangan di waktu malam hari. Yang menakjubkan bagi saya setelah menunaikan hajat di jamban tersebut adalah ketika mendongakkan kepala ke atas mata saya tidak menangkap bentuk atap di sana, melainkan sebuah pemandangan indah yang amat langka.Pengalaman berada di jamban sebuah rumah pedesaan di waktu malam bulan purnama sangat mengesankan. Menatap langit bertabur bintang, cahaya rembulan membawa suasana syahdu, semilir angin menggoyang dahan-dahan pohon kelapa seakan-akan mereka ikut larut dalam tarian beriring musik fauna malam. Jamban berhasil membawa nuansa eksotik yang menyentuh perasaan saya tentang kerinduan damainya desa yang permai.


06 Off 1

11 Maret, 2006

[pob.12.02] turun ke matak (yesterday bad weather). makan ketam di ds Langir, rumah pak Safri.

Sesampainya di Matak, kami bertemu dengan pak Asep Sadikin, yang diserahi tanggung jawab mengelola operasi di Matak sementara pak Arifin Sjukur sedang off duty. Untuk tempat tinggal, kami mendapat kamar 112, menghadap ke taman. Siang itu kami gunakan untuk beristirahat setelah sekilas melihat-lihat fasilitas akomodasi yang terdapat di Matak Base.
Hujan yang mengguyur sepanjang waktu istirahat kami, cukup menyejukkan suasana (kabarnya di Matak jarang hujan). Sekitar jam 4 ½ sore, seseorang mengetuk pintu kamar kami. Ternyata Johan datang.

Johan adalah kenalan kami selama berada di LGP, dia senang berkenalan dengan kami, dia datang sore itu untuk memenuhi janjinya mengajak kami jalan-jalan di pulau Matak. Saya ikut dengannya untuk mengambil sepeda motor sebuah lagi di rumah kakaknya di desa Payaklaman. Kemudian kami berdua kembali ke base untuk menjemput bagus dan bayu.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah teluk Payaklaman, dimana dermaga pompong berada. Pompong adalah nama yang diberikan penduduk untuk sejenis perahu sebagai sarana angkutan air, mungkin nama itu berasal dari kesamaan bunyi mesin perahu: “pom-pom-pom-pom-pong!”

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Langir. Sebelum sampai desa Langir, kami mampir di kebun kelapa pak amir dan membeli beberapa buah kelapa muda, kemudian kami minum airnya dan makan daging buahnya menggunakan sudu. Namun kabarnya lebih enak menggunakan sabut kelapa untuk mengoyak daging buahnya daripada menggunakan sudu (“sudu” adalah sebutan orang melayu untuk “sendok”).

Perjalanan ke desa langir melalui hutan dan jalan yang berbukit-bukit, beberapa kali tidak kuat sepeda motorku mendaki, kadang terpeleset pada lumpur, dan harus berhati-hati menjaga laju supaya tidak tertinggal jauh di belakang. Berpacu dengan gelap, akhirnya tibalah kami di desa langir, dan langsung menuju rumah pencari ketam (“ketam” adalah sebutan untuk “kepiting” atau “rajungan”).

Setelah membeli sekantung ketam, kami mampir di masjid yang berada di atas air untuk salat magrib. Selesai menunaikan salat, kami mengunjungi rumah pak Safri. Di rumah beliau, ketam yang kami beli dimasak oleh bu Safri, kemudian kami makan bersama-sama menikmati ketam dan sambal jeruk buatan bu Safri sambil berbincang banyak hal.

Pak Safri adalah seorang petani yang boleh dibilang sukses untuk ukuran desa tersebut, selain mengelola kebun cengkeh, beliau juga mengelola peternakan sapi. Beliau sering berpartisipasi dalam program community development yang diselenggarakan kontraktor di pulau Matak.

Malam itu juga kami kembali ke base.

[pob.13.02] jalan-jalan ke Terempa berbelanja.

[jou.13.02]
morning was out when we decided to go to Terempa. Before 7 am we arrive at jetty. A sailboat called “pompong” brought us to Terempa, a district city. What a pleasure sailing to Terempa took only an hour from Payaklaman bay. At Terempa, we look around the market and took a coffee morning at a coffee shop (kedai). We walked around Terempa city and had a lunch at seashore restaurant with menus: kerang, ikan and telur penyu.
We’re almost left behind when the pompong sailed back to Payaklaman. We can’t sit at the passenger’s seat because there was full with goods, so we took the roof for our seats and showered by the sunray.
We reached the matak base from the jetty for 30 minutes walk.

[pob.14.02] mancing di pulau langu. Dapat ikan kerisi dan kerapu.
[jou.14.02] we planned to go fishing in island. That morning we walked to Johan’s place and prepare some fishing tools. We rented a speed boat to take us to pulau Langu. We run that day with fishing activities, an unforgettable experience. Gamed some fish from 9 am to 2 ½ pm. A pompong was arrived to pick us back to Payaklaman. Our skin was burnt of the sunray. We brought the fishes to the kitchen and ask the cook to have it fried for our dinner.

[pob.15.02]
main tennis. Tukar obat malaria karena allergy obat. Makan kerang di langir.

Sepulang dari Terempa kemarin, kami menemui dr. Ary untuk mendapatkan obat malaria sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit malaria, nyamuk hutannya ganas-ganas. Tetapi setelah makan sebutir pil, saya dan bayu malah menderita gatal-gatal, sepertinya alergi terhadap obatnya. Melihat kedua kawannya alergi obat, bagus tidak mengonsumsi obat tersebut.
Rabu itu saya datang menemui dr. Yuri, back-to-backnya dr. Ary, oleh beliau saya diberikan obat yang tidak mengandung antibiotic tertentu yang membuat alergi. Hanya saya yang menukar obat itu, sedangkan bayu dan bagus tidak lagi mengonsumsi obat yang diberikan, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada mereka.

[jou.15.02] this morning we play tennis, I learn to hit the balls correctly. After dusk, johan came to pick us to Langir. In pak Safri’s house we eat some kerang. We collect some rupiahs and give those bucks to bu Safri as our thank you for her kindness providing us the meals.

[pob.16.02]
pagi main tennis, malam ikut yasinan di masjid.

[jou.16.02]
I woke up late this morning. After breakfast we played tennis again. We watched some movies and took a nap that whole day.

[pob.17.02]
main tennis. Salat jumat. bakar sotong dan ikan. Nonton pertandingan bola kaki di Ladan.

Siang itu selepas salat jumat, kami ke tempat johan untuk membakar sotong dan ikan. Kami makan siang (lagi) sampai jam 3 sore. Kemudian kami berangkat ke lapangan bola desa Ladan untuk menonton pertandingan bola kaki antara desa batu ampar melawan desa putik.

Sepulang ke base, kami harus bersiap-siap mengepak barang untuk keberangkatan kami ke trip kedua.


%d blogger menyukai ini: