06 Off 1

11 Maret, 2006

[pob.12.02] turun ke matak (yesterday bad weather). makan ketam di ds Langir, rumah pak Safri.

Sesampainya di Matak, kami bertemu dengan pak Asep Sadikin, yang diserahi tanggung jawab mengelola operasi di Matak sementara pak Arifin Sjukur sedang off duty. Untuk tempat tinggal, kami mendapat kamar 112, menghadap ke taman. Siang itu kami gunakan untuk beristirahat setelah sekilas melihat-lihat fasilitas akomodasi yang terdapat di Matak Base.
Hujan yang mengguyur sepanjang waktu istirahat kami, cukup menyejukkan suasana (kabarnya di Matak jarang hujan). Sekitar jam 4 ½ sore, seseorang mengetuk pintu kamar kami. Ternyata Johan datang.

Johan adalah kenalan kami selama berada di LGP, dia senang berkenalan dengan kami, dia datang sore itu untuk memenuhi janjinya mengajak kami jalan-jalan di pulau Matak. Saya ikut dengannya untuk mengambil sepeda motor sebuah lagi di rumah kakaknya di desa Payaklaman. Kemudian kami berdua kembali ke base untuk menjemput bagus dan bayu.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah teluk Payaklaman, dimana dermaga pompong berada. Pompong adalah nama yang diberikan penduduk untuk sejenis perahu sebagai sarana angkutan air, mungkin nama itu berasal dari kesamaan bunyi mesin perahu: “pom-pom-pom-pom-pong!”

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Langir. Sebelum sampai desa Langir, kami mampir di kebun kelapa pak amir dan membeli beberapa buah kelapa muda, kemudian kami minum airnya dan makan daging buahnya menggunakan sudu. Namun kabarnya lebih enak menggunakan sabut kelapa untuk mengoyak daging buahnya daripada menggunakan sudu (“sudu” adalah sebutan orang melayu untuk “sendok”).

Perjalanan ke desa langir melalui hutan dan jalan yang berbukit-bukit, beberapa kali tidak kuat sepeda motorku mendaki, kadang terpeleset pada lumpur, dan harus berhati-hati menjaga laju supaya tidak tertinggal jauh di belakang. Berpacu dengan gelap, akhirnya tibalah kami di desa langir, dan langsung menuju rumah pencari ketam (“ketam” adalah sebutan untuk “kepiting” atau “rajungan”).

Setelah membeli sekantung ketam, kami mampir di masjid yang berada di atas air untuk salat magrib. Selesai menunaikan salat, kami mengunjungi rumah pak Safri. Di rumah beliau, ketam yang kami beli dimasak oleh bu Safri, kemudian kami makan bersama-sama menikmati ketam dan sambal jeruk buatan bu Safri sambil berbincang banyak hal.

Pak Safri adalah seorang petani yang boleh dibilang sukses untuk ukuran desa tersebut, selain mengelola kebun cengkeh, beliau juga mengelola peternakan sapi. Beliau sering berpartisipasi dalam program community development yang diselenggarakan kontraktor di pulau Matak.

Malam itu juga kami kembali ke base.

[pob.13.02] jalan-jalan ke Terempa berbelanja.

[jou.13.02]
morning was out when we decided to go to Terempa. Before 7 am we arrive at jetty. A sailboat called “pompong” brought us to Terempa, a district city. What a pleasure sailing to Terempa took only an hour from Payaklaman bay. At Terempa, we look around the market and took a coffee morning at a coffee shop (kedai). We walked around Terempa city and had a lunch at seashore restaurant with menus: kerang, ikan and telur penyu.
We’re almost left behind when the pompong sailed back to Payaklaman. We can’t sit at the passenger’s seat because there was full with goods, so we took the roof for our seats and showered by the sunray.
We reached the matak base from the jetty for 30 minutes walk.

[pob.14.02] mancing di pulau langu. Dapat ikan kerisi dan kerapu.
[jou.14.02] we planned to go fishing in island. That morning we walked to Johan’s place and prepare some fishing tools. We rented a speed boat to take us to pulau Langu. We run that day with fishing activities, an unforgettable experience. Gamed some fish from 9 am to 2 ½ pm. A pompong was arrived to pick us back to Payaklaman. Our skin was burnt of the sunray. We brought the fishes to the kitchen and ask the cook to have it fried for our dinner.

[pob.15.02]
main tennis. Tukar obat malaria karena allergy obat. Makan kerang di langir.

Sepulang dari Terempa kemarin, kami menemui dr. Ary untuk mendapatkan obat malaria sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit malaria, nyamuk hutannya ganas-ganas. Tetapi setelah makan sebutir pil, saya dan bayu malah menderita gatal-gatal, sepertinya alergi terhadap obatnya. Melihat kedua kawannya alergi obat, bagus tidak mengonsumsi obat tersebut.
Rabu itu saya datang menemui dr. Yuri, back-to-backnya dr. Ary, oleh beliau saya diberikan obat yang tidak mengandung antibiotic tertentu yang membuat alergi. Hanya saya yang menukar obat itu, sedangkan bayu dan bagus tidak lagi mengonsumsi obat yang diberikan, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada mereka.

[jou.15.02] this morning we play tennis, I learn to hit the balls correctly. After dusk, johan came to pick us to Langir. In pak Safri’s house we eat some kerang. We collect some rupiahs and give those bucks to bu Safri as our thank you for her kindness providing us the meals.

[pob.16.02]
pagi main tennis, malam ikut yasinan di masjid.

[jou.16.02]
I woke up late this morning. After breakfast we played tennis again. We watched some movies and took a nap that whole day.

[pob.17.02]
main tennis. Salat jumat. bakar sotong dan ikan. Nonton pertandingan bola kaki di Ladan.

Siang itu selepas salat jumat, kami ke tempat johan untuk membakar sotong dan ikan. Kami makan siang (lagi) sampai jam 3 sore. Kemudian kami berangkat ke lapangan bola desa Ladan untuk menonton pertandingan bola kaki antara desa batu ampar melawan desa putik.

Sepulang ke base, kami harus bersiap-siap mengepak barang untuk keberangkatan kami ke trip kedua.


05 Trip 1-2

11 Maret, 2006

[jou.03.02.b] mengasingkan kami selama 3 bulan di lapangan tanpa boleh kembali ke hometown dalam masa itu. Does it make sense? Untuk memberi pengalaman tanpa program yang jelas? Yang jelas kami merasa didamparkan dan disuruh berlibur selama 3 bulan, melakukan apa saja semau kami…

[pob.04.02] morning meeting. Maintenance system with rahmat susanto. Exercise.

Akhirnya sepatu safety untukku datang juga, dikirimkan kepada pak Gandjar. Setelah kukembalikan sepatu pak Joseph kepada mas Bagus Purnomo sesuai pesan beliau, kini saya dapat mulai mengenakan sepatu safety milik sendiri, senangnya!
[jou.04.02] to fill our bellies with meals and drinks. To watch every TV station all over the day. To wait of something does not need to be wait. It’s somelike vacation without destiny. An entertainment without fun. Becoming crazy to stay here… is it stupid to keep shut this comments? Or more crazy to publish it?[pob.05.02] morning meeting. Shutdown 9 am to 3 pm. Catering bidder visit. Exercise.

[pob.06.02] morning meeting. Intan FSO jam 10 pagi. with pak sutikno yudi, western hub field manager.

[pob.07.02] morning meeting. Pindah kamar ke 416 dan 417. no TV no telephone. Buat bahan presentasi.

[jou.07.02] pindah kamar karena yang punya kamar datang. New room without TV and telephone! For only next 5 days. Kalo mo nonton TV di TV room, kalo mo nelpon di telepon umum J ngga masalah tuh! Udah dapat akses internet, akan lebih sering main komputer daripada nonton.

Pak Taufik Saffar, the OIM datang, jadinya kami harus pindah ke lantai 4. berada di kamar 416 dan 417 membuat kami harus bersyukur pernah berada di kamar 303. fasilitasnya jauh berbeda, suasananya pun berbeda. Kami harus tidur sekamar dengan pekerja lainnya yang masuk malam, otomatis siang-siang kami jarang berada di kamar. Benar-benar beda dengan sebelumnya (kami lebih sering di kamar 303 daripada di luar kamar hehehe…)

[pob.08.02] morning meeting, pigging operation dari whpb ke dppa with pak didik karyadi, bagus purnomo.

[jou.08.02] ikutan operasi pigging sampai siang. Ngobrol di control room, sementara bayu dan bagus ke pig receiver di dppa. Ngantuk. Abis lunch, tidur siang sampai sore. Lalu exercise.

[pob.09.02] morning meeting. Ngobrol sama dokter hadi cahyanta.

[pob.10.02] presentasi.

[jou.10.02] this is the last day we stay in LGP. Tomorrow we’ll fly to Matak and stay there for a week. After that we’ll sail to FPSO. These 2 weeks are so pleasant time and stay. But I missed my family.

**

Exercise

Di beberapa catatan di [pob] maupun [jou] ada kata-kata “exercise” bertebaran. Maksudnya apa sih? Di platform terdapat ruang rekreasi yang digunakan sebagai ruang olahraga. Di dalamnya terdapat sebuah meja bilyar, meja pingpong, 2 buah treadmill, sebuah sepeda dan sebuah complete exercise package.

Di ruang inilah kami sering menghabiskan sore dengan bermain bilyar atau berolahraga. Kami sadar bahwa pekerjaan fisik di platform bagi kami amat minim. Bukannya kami ngga mau kerja, tetapi karena hands on tidak diperkenankan, karena kami unpropriate person to do the job. Bisa-bisa malah bikin kacau operasi kalau kami dipekerjakan. Kami cuma dibolehkan menonton orang bekerja. Sementara itu jatah makan 3x sehari dan coffee break 2x sehari cukup membuat perut kami buncit kalau tidak dijaga.

Nah, untuk menjaga kebugaran dan proporsi badan kami tetap ideal, kuncinya adalah melakukan exercise minimal 30 menit setiap hari. Atau kalau sempat… J

**

Religious activity

Menjaga keimanan adalah hal penting untuk membuat jiwa kami tetap sehat. Kalau tidak, kami dapat lebih banyak memproduksi hormon stres dan depresi.

Setiap pagi, bayu membaca saat teduh dan alkitab. Saya dan bagus menikmati waktu salat berjamaah di musala setiap waktu salat. Selama berada di platform, saya usahakan untuk menjaga jamaah ketika salat dan membaca ¼ – ½ juz alquran perhari. Sebelum tidur saya usahakan untuk membaca terjemahan alquran.

**

Presentasi

Presentasi adalah sebuah kewajiban OJT kami setiap menyelesaikan trip, sebagai sebuah komponen penilaian keberhasilan OJT. Walau sampai tulisan ini dibuat (10.03.2006) kami masih belum jelas bagaimana penilaian OJT ini.

Apa saja sih yang dipresentasikan? Paling tidak ada 3 hal yang dipresentasikan, yaitu:

  • review hasil orientasi selama masa trip, misalnya overview proses gas plant, diagram alir proses, temuan dan usulan, serta diskusi mengenai OJT.
  • mengenalkan sosok seperti apa sih perusahaan kami, dan
  • bagaimana posisi para kontraktor perusahaan kami dan apa yang dapat dilakukan oleh para pejuang garis depan untuk bersama-sama menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.

Sambutan luar biasa yang kami peroleh dari presentasi ini merupakan hal yang sangat menggembirakan hati kami. Dimulai jam 4 sore dan berakhir jam 10 malam dengan break jam 6-7 ½ sore. Banyak diskusi, masukan dan pertanyaan dari para pekerja di platform, dan banyak lesson learnt yang kami peroleh dari diskusi semacam itu.

**

[pob.11.02] rencana down to matak. Kontak pak arifin sjukur for accomodation.

Due to bad weather, rencana down to matak gagal! Saya tidur (kembali) di 301 dengan ari, ngobrol banyak tentang bagaimana seharusnya on the job training supaya mengenal kecurangan-kecurangan di lapangan. Sebab-sebab mengapa gaji pekerja kasar di industri perminyakan kecil. Dan sebagainya…


04 Trip 1-1

11 Maret, 2006

[jou.28.01] When the alarm woke me up in 3 am this morning, i asked my dear wife to wake up too. We conduct a prayer and have a fun farewell ceremony. I am not sure within our 3 months OJT can step back to Jakarta or not, but we’ll try to work on it. At 4 pm, a taxi came to picked me up to Halim PK Airport. My wife and his brother come along with me to the airport. After fajr prayer, we’re dismissed, because I had to boarded.
And now, here I am with bayu and bagus in lift gas platform for the first trip.

Saya masih sempat menulis dalam trip pertama ini, karena saya membawa buku, tapi buku itu cukup menghabiskan tempat di tas saya, akhirnya untuk trip berikutnya saya hanya menuliskan hal-hal penting saja di pocket book saya.Saya berniat untuk banyak menulis dalam perjalanan 3 bulan ini, dari sekian banyak hal yang akan kami dapati dan alami, mudah-mudahan menjadi catatan yang memberikan hal-hal berharga yang dapat dijadikan pelajaran.Bertolak dari bandara Halim PK Jakarta setengah jam lebih telat karena hujan deras, menempuh perjalanan 2 jam 40 menit menggunakan pesawat fokker 50, sampailah kami di lapangan udara Matak Base. Sesampainya di sana, kami menemui pak Rusli untuk pengenalan penggunaan swing rope dan personnel frog. Kemudian menitipkan tas besar kepada pak Komarudin di training room. Kami hanya membawa backpack untuk ke platform.

Tengah hari kami terbang dengan helikopter menuju lift gas platform (LGP) di western hub operation. Di sekitar LGP terdapat beberapa fasilitas yang akan dikunjungi dalam trip 1 ini. Drilling platform and production alpha (DPPA) menyambung jadi satu dengan LGP. Untuk pergi pulang cukup dengan berjalan kaki saja menyeberangi bridge yang menghubungkan kedua platform ini. Sebelah timur platform terdapat fasilitas floating storage and offloading (FSO), sebuah mantan kapal yang dimodifikasi menjadi tempat penyimpanan dan bongkar crude oil. Tak jauh dari platform alpha terletak wellhead platform bravo (WHPB). 10 mil dari lift gas platform adalah production barge san jacinto (PBSJ), San Jacinto adalah nama barge yang berfungsi untuk menampung minyak dari sumur sebelum dikirim ke FSO. Untuk mencapai FSO, WHPB dan PBSJ, kami harus menggunakan transfer boat dari DPPA. Perjalanan dengan transfer boat adalah perjalanan yang sering membuat perut mual karena diombang oleh gelombang. Selama kecepatan angin tidak lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang tidak mencapai 2 meter, penggunaan boat masih diperbolehkan, otherwise you can use helicopter or go nowhere lah.

Rekaman kegiatan selama trip 1 tercatat di pocket book (pob) dan jurnal (jou):

[pob.28.01] take off from HPK Airport. Landing at Matak Base. Titip tas di pak Komarudin. Con’t to LGP. Introduction by pak Ferdinandus Joseph.

[pob.29.01] fire drill after breakfast. Go to Muster Station #1. evaluation and Morning Meeting. Overview maintenance and production operation. Overview HSE. Exercise.

[jou.29.01]
our 1st day of orientation. We arrange ourself of half day orientation and take the rest of time for nap and recreation. Actually I can not involve as what my other 2 friends do until I get my safety shoes delivered from jakarta. It expected to be arrived at Tuesday. For a while I can hold my orientation only inside the living quarter. Outside is not allowed unless wearing ppe.

Ya, bayu dan bagus dapat mengunjungi fasilitas platform di luar living quarter, sementara saya terpaksa hanya di dalam saja karena sepatu safety saya belum datang dari jakarta. Ini karena salah ukuran. L
[pob.30.01] morning meeting. Radio room and despatcher overview.[jou.30.01] not much done! Not many visited. Just chatting and having meals. Do I missed my family? I do really. Love my baby wannabe and his mother. Missed my parents. Missed them so much!

**
Kamar 301 dan 303

Kami tinggal di dua kamar yang berbeda. Masalah tempat aja sih. Namun akhirnya saya harus bercampur di kamar 303 karena hari selasa, kamar 301 bakal penuh. Kalau kami jadi satu kamar akan lebih enak karena mau ngobrol semalaman pun bebas saja. Kamar 303 ternyata adalah kamar OIM (offshore installation manager), artinya kami menginap di kamar bos. Selama beliau belum datang, kami boleh tinggal dan menggunakan fasilitas kamar tersebut.
Akses telepon langsung tanpa password, televisi dengan akses tv kabel. Menjadi hiburan yang menyenangkan, membuat kami betah di kamar berjam-jam.Dengan akses telepon, kami dapat menghubungi keluarga di jakarta begitupun sebaliknya dengan pulsa lokal saja. Bayu sibuk menghubungi keluarganya karena mereka sedang sibuk mempersiapkan pernikahan adiknya bayu tengah tahun ini. ”kadang-kadang” tunangannya bayu juga menelepon, sekedar melepas rindu. Begitupun dengan Bagus, dan juga saya. Menghubungi keluarga di rumah untuk melepas rindu, say hello, dan saling mendoakan.

Tv kabel yang menayangkan saluran HBO, Cinemax, dan sebagainya menawarkan film-film pilihan yang kami tonton ketika tidak ada kegiatan. Seringnya kami berada di kamar pada jam-jam kerja mungkin membuat housekeeping heran terhadap kami. Habis mau bagaimana lagi? Teman-teman di west hub tidak memiliki program kegiatan untuk kami, maka kami sendiri yang menyusun jadwal kegiatan untuk kami. Hehehe…

Berada di kamar 303, adalah pengalaman yang patut kami syukuri selama tinggal di LGP.

**

[pob.31.01] morning meeting. DPPA. LGP. Hospital with dr. joko. Exercise.

Sepatuku ngga jadi datang hari selasa, karena jakarta hari libur nasional. Selama di offshore, ngga ada bedanya hari libur dan hari kerja, karena everyday working day. Akhirnya pak joseph dengan baik hati meminjamkan sepatunya kepadaku sampai sepatuku tiba. Kebetulan selasa itu beliau off duty, sehingga beliau dapat meminjami saya sepatunya.

Pengganti beliau adalah pak Gandjar Iskandar, kami temui beliau selepas makan siang.

[pob.01.02] production barge san jacinto with pak sambudi willem. Transfer oil to tanker. Each 5 days from pbsj to intan fso. Front hull.

[jou.01.02] mabuk laut! 3x ketika berangkat dan 1x ketika pulang. Naik pan marine boat pulang pergi LGP-PBSJ. Melihat proses yang ”sederhana saja” di production barge san jacinto. Minyak di lapangan sembilang tinggal 1700 bopd saja untuk 3 sumur tetapi plateaunya datar, sehingga yang diperkirakan habis tahun 2005 harus diperpanjang hingga 2009. my wife called me by phone, and talked many about her and her baby.
[pob.02.02] WHP Bravo with erie nasibu and pak sulistyono. Exercise.

[pob.03.02]
LGP morning meeting.

[jou.03.02]
baru 1 minggu aku meninggalkan daratan, rasa rindu tak dapat dipendam. I dream of gathering with my family. Saw them in my nightly dreams. Ugh! Can’t imagine how would it be in the next 12 weeks?
Mom missed me so much, as I do missed her. Pop happy receiving my call. My wife asked me to call her every night. My bro didn’t say anything but surely he missed me too.
When someone’s missing, there will be an empty space and we’re wondering what shall fill that blank spot.
I missed my family. Soon I’ll be at home…

Baru seminggu, ceritanya udah kangen-kangenan…. Wah!
*


03 I think this is the beginning of the journey

11 Maret, 2006

Awalnya ketika rencana OJT digulirkan, banyak dari para pekerja muda yang gerah dan menyampaikan argumentasi-argumentasi ilmiah. Mereka menyampaikan hal itu karena melihat pekerjaan mereka adalah kunci. Para bos mereka bisa dipastikan akan kerepotan jika mereka tidak ada untuk menangani setumpuk pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka. Namun karena OJT is a must, melunaklah sikap keras para pekerja muda, ”ya sudah, kita jalani saja, ngga ada ruginya, toh gaji kita utuh, hehehe….”Begitulah teman-temanku, agak ”rebellion” memang, tapi toh mereka yakin dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya.

Where am i? Of course i am among them 😀

Begitulah, OJT dibagi dalam 4 batch. Batch pertama start 1 Desember, kedua 16 Januari, ketiga 1 Maret, dan keempat 17 April. Masing-masing berlangsung selama 3 bulan. Dilaksanakan di lokasi lapangan para kontraktor perminyakan yang berada di luar pulau Jawa, kebanyakan di onshore. Para OJT-ers mendapatkan hak berlibur sesuai dengan peraturan kontraktor yang ditempatinya, namun liburan mereka dialihkan ke kota provinsi terdekat. (kan ngga boleh pulang ke hometown L)

Saya sendiri mengikut batch kedua, dengan alasan bahwa saya harus berada di rumah ketika istri melahirkan anak pertama kami. Saya berhasil membujuk atasan saya mengijinkan perpindahan batch dari ketiga menjadi kedua, walaupun dengan resiko selama 1,5 bulan sebelum saya berangkat, saya harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mayor dan double, karena rekan kerja saya dalam satu departemen berangkat pada batch pertama.

Awal-awal ditinggal oleh rekan saya, saya masih dapat enjoy mengerjakan pekerjaan rutin. Namun begitu datang beberapa pekerjaan tambahan yang menuntut perhatian, bergulirlah masa-masa dimana saya pulang ke rumah lebih telat, demi menyelesaikan pekerjaan. Saya ngga pernah berhasil menyelesaikan pekerjaan kalau dibawa ke rumah, better for me to spend more time at the office than cut my family time to work at home.

Kejenuhan demi kejenuhan akhirnya terobati, segera setelah pekerjaan-pekerjaan mayor saya kelar dan saya dikabarkan berangkat pada tanggal 16 Januari.

[jou.19.01] I think this is the beginning of the journey. On this side, I’d like to hurry to go on my OJT, but on the other side, I have to leave my family, my dear wife and lovely son will be. I love them very much. I don’t have any reason, since I lack of spirit to continue work this way. But the show must go on! I decide to make this 3 months ahead, a precious and exciting journey!

Itulah catatan jurnal pertamaku memasuki masa OJT. But wait! Saya ngga jadi berangkat tanggal 16 Januari. Hal ini disebabkan karena wilayah OJT kami berbeda dengan teman-teman yang lain. Sementara mereka mendapatkan onshore, kami harus bersenang-senang di offshore, yang kota liburannya bukan di kota provinsi, tetapi di sebuah base di kepulauan. Bertiga, saya dan 2 orang teman dikirim ke tengah laut Natuna, dengan jadwal 2 minggu di platform atau floating facility dan 1 minggu di pulau Matak.

Dan karena perlakuan offshore berbeda dengan onshore, masing-masing kami harus mendapatkan orientasi di kantor Jakarta dan mendapatkan sertifikat basic offshore safety emergency training di Merak sebelum berangkat ke lepas pantai. Berhubung sertifikatku masih berlaku, jadi aku ngga ikutan ke Merak deh. Kami direncanakan bertolak ke offshore tanggal 28 Januari. Wah asyik dong! Pulang lebih cepat! Wakks! Mana bisa, ternyata 3 bulan kami baru dihitung per tanggal keberangkatan, bukan per tanggal program. Akhirnya kami pun direncanakan kembali dari OJT tanggal 29 April, hiks…

***


02 memulai darimana ya?

11 Maret, 2006

Saya mendengar kabar tentang kisah wawancara seorang pekerja oleh wartawan suratkabar ibukota di sebuah kafe. Ketika ia ditanya tentang kehidupan sehari-harinya, berapa banyak pengeluaran belanja per hari, dan kebanggaannya bekerja di perusahaan kami. Untuk seseorang dengan kadar seperti dia, masih dianggap wajar jika dia suka nongkrong di plasa senayan, mal-mal bonafide, main dari kafe ke kafe, glamour, dan sebagainya.Mengapa dianggap wajar?
Orang tuanya pegawai BUMN, dia bekerja di perusahaan nasional terkemuka, calon suaminya pemilik perusahaan konstruksi untuk fasilitas perminyakan. Ditambah lagi, jiwa sosialnya juga tinggi… menghabiskan ratusan ribu rupiah per hari untuk belanja baik untuk bersenang-senang maupun untuk sosial, adalah wajar.
Ceritanya hasil wawancara ini dimuat di koran, tetapi gaya penulisan si wartawan, malah menyoroti hal yang berbeda: yaitu menyimpulkan bahwa bekerja di perusahaan kami bisa menghambur-hamburkan uang untuk bersenang-senang! Lho!?

Ujung punya ujung, cerita ini mampir juga di telinga Number One perusahaan kami. Gerah juga mungkin ya denger hal seperti ini. Sebenarnya anak-anak muda perusahaan kami juga pernah bikin gerah para bos-bos itu sebelumnya.

Beberapa pekerja muda senang bermain golf, atau suka makan di resto-resto, dan seringkali diajak oleh rekanan seusia dari kontraktor-kontraktor untuk berlatih golf bersama dan makan-makan bersama. Memang bukan acara resmi yang tersangkut langsung dengan perusahaan. Tetapi ternyata, ulah para rekanan itulah yang bikin kami ditegur. Pasalnya mereka menraktir kami gratis tetapi dicharge sebagai relationship expenditure kepada kantor mereka. Karena perusahaan rekanan adalah kontraktor dari perusahaan kami, otomatis semua biaya pengeluaran mereka akan ditagih ke perusahaan kami. Waduh!

Sst… bisik-bisik aja ya… katanya kalau hal ini terjadi di eselon atas dari perusahaan, ngga pernah ribut-ribut seperti ini. Namun karena ini melanda para pekerja muda…

Ups ga boleh ghibah kan. Hehehe…

Alhasil, manajemen based emotion menetapkan bahwa POKOKnya para pekerja muda harus diasingkan dari peradaban selama 3 bulan tanpa boleh kembali ke pulau jawa, khususnya republik jakarta. Dan program ”pengasingan” tersebut dinamakan OJT.

LHO!?

Ya, benar akhirnya program orientasi bagi para pekerja muda dibuat kelanjutannya. Eh iya. Saya belum ceritakan kalau di awal masuk kerja dulu ada orientasi pekerja baru. 2 minggu belajar di kelas, 2 minggu belajar di lapangan. Untuk kelas berlangsung dengan baik, namun untuk lapangan tidak berjalan baik karena programnya kurang terarah.

Atasan-atasanku mengetahui kekurangan orientasi tersebut dan mengajukan usulan yang jauh lebih baik untuk pembinaanku dan teman-teman. Usulan ini sudah diajukan jauh sebelum kejadian-kejadian di awal, namun tidak menjadi prioritas untuk diperhatikan oleh bagian sumber daya manusia.

Lalu ketika dimunculkan rencana ”pengasingan 3 bulan” itu, para atasanku kembali mempertanyakan nasib usulan mereka (usulan mengenai pembinaan, berisi tentang kurikulum yang lebih spesifik berikut target-target yang hendak dicapai, dan cara penilaian keberhasilan program serta anggarannnya, komplit). Ternyata terdengar bahwa, sebuah divisi menolak program OJT. Waduh!

Siapa yang menolak ya?

Usut punya usut, hal itu karena program OJT yang didukung oleh Number One, ternyata tidak memiliki struktur program dan target yang jelas berikut dengan penilaian keberhasilannya. Tetapi karena program OJT is a must, dan tidak terbantahkan, maka usulan yang baik dari para atasanku itu tertolaklah.

[Catatan:
Sebelum saya melanjutkan, agar menjadi concern bersama bahwa apa yang tertulis pada tulisan ini menjadi lesson learnt yang baik untuk kemajuan. MOHON membuat persepsi yang baik dan segala prasangka agar dikomunikasikan supaya tidak membuat preseden buruk di masa depan.]
*


01 hmmm…

11 Maret, 2006

cuma sekedar pelepas lelah ..
jiwa kelana yang membaca desah kekasihnya:

lihatlah malamku
terusik halimun

udara jadi kaku
cahaya meremang..
tak kudapati jejak kelana
dalam gelapnya..
asa menyerpih, kalut menyergap
rinduku belumlah sampai
ke muaranya..

[c-060307]


%d blogger menyukai ini: