06 Off 1

[pob.12.02] turun ke matak (yesterday bad weather). makan ketam di ds Langir, rumah pak Safri.

Sesampainya di Matak, kami bertemu dengan pak Asep Sadikin, yang diserahi tanggung jawab mengelola operasi di Matak sementara pak Arifin Sjukur sedang off duty. Untuk tempat tinggal, kami mendapat kamar 112, menghadap ke taman. Siang itu kami gunakan untuk beristirahat setelah sekilas melihat-lihat fasilitas akomodasi yang terdapat di Matak Base.
Hujan yang mengguyur sepanjang waktu istirahat kami, cukup menyejukkan suasana (kabarnya di Matak jarang hujan). Sekitar jam 4 ½ sore, seseorang mengetuk pintu kamar kami. Ternyata Johan datang.

Johan adalah kenalan kami selama berada di LGP, dia senang berkenalan dengan kami, dia datang sore itu untuk memenuhi janjinya mengajak kami jalan-jalan di pulau Matak. Saya ikut dengannya untuk mengambil sepeda motor sebuah lagi di rumah kakaknya di desa Payaklaman. Kemudian kami berdua kembali ke base untuk menjemput bagus dan bayu.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah teluk Payaklaman, dimana dermaga pompong berada. Pompong adalah nama yang diberikan penduduk untuk sejenis perahu sebagai sarana angkutan air, mungkin nama itu berasal dari kesamaan bunyi mesin perahu: “pom-pom-pom-pom-pong!”

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Langir. Sebelum sampai desa Langir, kami mampir di kebun kelapa pak amir dan membeli beberapa buah kelapa muda, kemudian kami minum airnya dan makan daging buahnya menggunakan sudu. Namun kabarnya lebih enak menggunakan sabut kelapa untuk mengoyak daging buahnya daripada menggunakan sudu (“sudu” adalah sebutan orang melayu untuk “sendok”).

Perjalanan ke desa langir melalui hutan dan jalan yang berbukit-bukit, beberapa kali tidak kuat sepeda motorku mendaki, kadang terpeleset pada lumpur, dan harus berhati-hati menjaga laju supaya tidak tertinggal jauh di belakang. Berpacu dengan gelap, akhirnya tibalah kami di desa langir, dan langsung menuju rumah pencari ketam (“ketam” adalah sebutan untuk “kepiting” atau “rajungan”).

Setelah membeli sekantung ketam, kami mampir di masjid yang berada di atas air untuk salat magrib. Selesai menunaikan salat, kami mengunjungi rumah pak Safri. Di rumah beliau, ketam yang kami beli dimasak oleh bu Safri, kemudian kami makan bersama-sama menikmati ketam dan sambal jeruk buatan bu Safri sambil berbincang banyak hal.

Pak Safri adalah seorang petani yang boleh dibilang sukses untuk ukuran desa tersebut, selain mengelola kebun cengkeh, beliau juga mengelola peternakan sapi. Beliau sering berpartisipasi dalam program community development yang diselenggarakan kontraktor di pulau Matak.

Malam itu juga kami kembali ke base.

[pob.13.02] jalan-jalan ke Terempa berbelanja.

[jou.13.02]
morning was out when we decided to go to Terempa. Before 7 am we arrive at jetty. A sailboat called “pompong” brought us to Terempa, a district city. What a pleasure sailing to Terempa took only an hour from Payaklaman bay. At Terempa, we look around the market and took a coffee morning at a coffee shop (kedai). We walked around Terempa city and had a lunch at seashore restaurant with menus: kerang, ikan and telur penyu.
We’re almost left behind when the pompong sailed back to Payaklaman. We can’t sit at the passenger’s seat because there was full with goods, so we took the roof for our seats and showered by the sunray.
We reached the matak base from the jetty for 30 minutes walk.

[pob.14.02] mancing di pulau langu. Dapat ikan kerisi dan kerapu.
[jou.14.02] we planned to go fishing in island. That morning we walked to Johan’s place and prepare some fishing tools. We rented a speed boat to take us to pulau Langu. We run that day with fishing activities, an unforgettable experience. Gamed some fish from 9 am to 2 ½ pm. A pompong was arrived to pick us back to Payaklaman. Our skin was burnt of the sunray. We brought the fishes to the kitchen and ask the cook to have it fried for our dinner.

[pob.15.02]
main tennis. Tukar obat malaria karena allergy obat. Makan kerang di langir.

Sepulang dari Terempa kemarin, kami menemui dr. Ary untuk mendapatkan obat malaria sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit malaria, nyamuk hutannya ganas-ganas. Tetapi setelah makan sebutir pil, saya dan bayu malah menderita gatal-gatal, sepertinya alergi terhadap obatnya. Melihat kedua kawannya alergi obat, bagus tidak mengonsumsi obat tersebut.
Rabu itu saya datang menemui dr. Yuri, back-to-backnya dr. Ary, oleh beliau saya diberikan obat yang tidak mengandung antibiotic tertentu yang membuat alergi. Hanya saya yang menukar obat itu, sedangkan bayu dan bagus tidak lagi mengonsumsi obat yang diberikan, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada mereka.

[jou.15.02] this morning we play tennis, I learn to hit the balls correctly. After dusk, johan came to pick us to Langir. In pak Safri’s house we eat some kerang. We collect some rupiahs and give those bucks to bu Safri as our thank you for her kindness providing us the meals.

[pob.16.02]
pagi main tennis, malam ikut yasinan di masjid.

[jou.16.02]
I woke up late this morning. After breakfast we played tennis again. We watched some movies and took a nap that whole day.

[pob.17.02]
main tennis. Salat jumat. bakar sotong dan ikan. Nonton pertandingan bola kaki di Ladan.

Siang itu selepas salat jumat, kami ke tempat johan untuk membakar sotong dan ikan. Kami makan siang (lagi) sampai jam 3 sore. Kemudian kami berangkat ke lapangan bola desa Ladan untuk menonton pertandingan bola kaki antara desa batu ampar melawan desa putik.

Sepulang ke base, kami harus bersiap-siap mengepak barang untuk keberangkatan kami ke trip kedua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: