07 Jamban

12 Maret, 2006

Setelah bertahun-tahun, secara tidak terduga, saya mendengar kembali istilah “jamban”. Saya biasa menggunakan istilah lain untuk menyatakan tempat buang air itu, seperti “WC”, “toilet”, “kamar kecil”, “lavatory”. Beberapa tempat di Malaysia menggunakan kata “tandas” sebagai padanan kata. Oleh karena itu, ketika saya berkunjung ke rumah pak Safri, saya menggunakan istilah “tandas” – saya mengira bahwa bahasa melayu yang digunakan oleh orang-orang natuna adalah sama dengan bahasa melayu yang digunakan oleh penduduk Malaysia. Akan tetapi, keluarga pak Safri, berikut penduduk desa lainnya, secara maklum menggunakan istilah “jamban”.Saya sedang tidak hendak membahas lebih lanjut istilah “jamban” dalam kaidah bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya. Saya akan kembali kepada tempat di mana saya mendengar kembali istilah itu.Di rumah pak Safri, yang disebut jamban adalah sebuah ruangan berukuran 1×1 ½ meter persegi yang terdapat pada kamar mandi berukuran 2×2 ½ meter persegi. Sebuah lampu minyak yang menempel di dinding ruangan menjadi sumber penerangan di waktu malam hari. Yang menakjubkan bagi saya setelah menunaikan hajat di jamban tersebut adalah ketika mendongakkan kepala ke atas mata saya tidak menangkap bentuk atap di sana, melainkan sebuah pemandangan indah yang amat langka.Pengalaman berada di jamban sebuah rumah pedesaan di waktu malam bulan purnama sangat mengesankan. Menatap langit bertabur bintang, cahaya rembulan membawa suasana syahdu, semilir angin menggoyang dahan-dahan pohon kelapa seakan-akan mereka ikut larut dalam tarian beriring musik fauna malam. Jamban berhasil membawa nuansa eksotik yang menyentuh perasaan saya tentang kerinduan damainya desa yang permai.


%d blogger menyukai ini: