09 Trip 2-2

[pob.20.02] morning meeting. Classroom for HSE Programs and Process Design Overview of FPSO.Dalam morning meeting di FPSO ada agenda yang disebut sebagai safety talks. Berhubung masih banyak orang asing yang bekerja di FPSO ini, the communication is conducted in English language especially for meetings. It’s not bad; as we can improve the capability of these workers in speak English as foreign language. Back to safety talks, juga disampaikan dalam bahasa Inggris. Setiap hari pembicaranya berbeda dari para pekerja dan sudah dijadwalkan dengan rapi.Agenda safety talks merupakan salah satu program dari HSE. Di antara program lainnya adalah sosialisasi prosedur, program championship, program weekly safety leader, audit, fire drill, dan safety training & observation program (STOP).

STOP menjadi tolok ukur keberhasilan penerapan HSE pada pekerja. Kegiatan STOP sendiri adalah menghentikan pekerjaan, memulai pemindaian keadaan dan potensi bahaya, melakukan intervensi, dan mencatat dalam kartu STOP. Kriteria pengisian kartu STOP yang baik harus memenuhi sebesar apa kewaspadaaan dan apa yang dilakukan untuk mengatasi potensi bahaya tersebut, baik kepada alat maupun orang. Setiap orang yang mengetahui dituntut untuk membuat kartu STOP.

Permasalahan laten yang harus diwaspadai oleh HSE advisor dan safety leader adalah ketika kartu STOP banyak dibuat oleh para pekerja dapat berarti tingkat kewaspadaan tinggi atau tingkat potensi bahaya tinggi, sedangkan ketika kartu STOP sedikit dibuat dapat berarti tingkat potensi bahaya rendah atau para pekerja sudah mulai lengah. Oleh karena itu, media safety talks dan safety campaign menjadi perhatian untuk terus mengingatkan para pekerja untuk senantiasa bekerja dengan aman.

Setelah pak Agung Djatmiko menyampaikan materi kelas mengenai HSE program, pak Ramli Pakeh sebagai superintendent operasi mengajarkan desain proses pabrik gas di FPSO.

Mengikuti materi yang disampaikan oleh pak Ramli, ingatan saya melayang ke masa kuliah dulu. Sebagai mahasiswa Teknik Gas dan Petrokimia, salah satu mata kuliah wajib adalah Pengolahan Gas. Kembali saya teringat tentang proses pengolahan gas alam sehingga menjadi liquified natural gas (LNG) dan LPG yang keduanya merupakan NGL (natural gas liquid).

LNG adalah Gas Bumi yang terutama terdiri dari metana yang dicairkan pada suhu sangat rendah (sekitar minus 160º C) dan dipertahankan dalam keadaan cair untuk mempermudah transportasi dan penimbunan. Sedangkan LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya yang pada dasarnya terdiri atas propana, butana, atau campuran keduanya.

Di dalam FPSO proses pengolahan gas alam menjadi NGL mengalami beberapa perlakuan, yaitu:

  • Amine contactor sebagai alat untuk menghilangkan kandungan H2S pada gas alam
  • Mercury guard bed sebagai alat untuk menghilangkan kandungan merkuri
  • Mol sieve dehydration sebagai alat untuk menghilangkan kandungan air
  • Cryogenic Expander plant sebagai alat untuk memperoleh kandungan etana yang tinggi

LNG yang dihasilkan oleh FPSO utamanya untuk ekspor, dan sebagian digunakan sebagai fuel gas dan injeksi sumur. Gas injeksi bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir. LPG yang dihasilkan oleh LPG plant akan ditampung pada FSO untuk LPG yang sedianya baru dioperasikan akhir tahun ini.Dari hasil perbincangan, diketahui bahwa FPSO masih membutuhkan tenaga kerja insinyur proses untuk dapat menghitung dan menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi di FPSO. Tertarik dengan tantangan ini, sempat tergiur juga untuk mencicipi pekerjaan di lepas pantai. Apalagi mendapat sinyalemen dari kantor agar saya belajar apa saja yang dapat mengembangkan kemampuan saya, barangkali dibutuhkan untuk masa depan. Who knows?[pob.21.02] morning meeting. Safety initiatives.

Tak banyak yang dapat diceritakan, sebagian besar pembicaraan mengenai safety sudah diungkap di atas. Saya malah ngeblog dan mulai menulis for dummies seri safety hehehe..

[pob.22.02] morning meeting. Kerja bakti suplai makanan. Management of change presentation.

Ada kerja bakti mengangkut bahan makanan dari container ke gudang dapur. Container terletak di section P2 dan S2 sedangkan gudang dapur berada di section 8 dan di level 2 living quarter. Untuk mencapai level 2, menggunakan tangga 1 level dari deck. Teman-teman yang di bekerja di container, mengeluarkan barang-barang dan menempatkannya ke dalam trolley, ada 3 trolley yang digunakan untuk mengantarkan barang sebanyak 2 container ke dekat gudang. Teman-teman yang di dekat gudang membentuk barisan untuk mengoper barang-barang dari deck ke level 2 diteruskan ke gudang.

Wah, pekerjaan hari itu menyenangkan sekaligus melelahkan.

Presentasi management of change sebagai sosialisasi kepada para leader bahwa setiap pekerjaan yang merubah desain harus dilakukan prosedur MOC.

[pob.23.02] tier-1 audit, housekeeping.

Diajak melakukan audit hosekeeping, dibagi dalam 3 team. Tim pertama ke level 2 gas plant, tim kedua ke level 1 gas plant, dan tim ketiga ke warehouse dan workshop.

[pob.25.02] PTW Review in morning meeting. Power management system with Rahmad Syamsudin.Permit to Work (PTW) merupakan dokumen resmi yang memastikan pekerjaan yang dilakukan sesuai prosedur dan telah mengidentifikasi kaitan dengan unit proses maupun pekerjaan lain serta meminimalisasi potensi bahaya. Prosedur PTW harus dilakukan dengan baik dan dokumen pendukungnya lengkap untuk mempermudah evaluasi.[pob.26.02] electricity touring.

Setelah belajar mengenai power management system pada hari kemarin, kami melanjutkan dengan touring melihat fasilitas pembangkit listrik dan ruang control yang memasok kebutuhan listrik seluruh FPSO. Berbahan bakar gas alam yang sudah diproses di gas plant, menghidupkan generator dan memasok kebutuhan listrik sesuai dengan daya yang dibutuhkan oleh alat-alat di fasilitas. Selain generator gas, FPSO juga memiliki cadangan generator diesel sebagai pendukung saat darurat.

[pob.27.02] Gas export process, operation touring and PTW system at control room with Fujiono.

Pak Ramli sulit ditemui untuk mengajar, beliau disibukkan oleh pekerjaan dan rapat-rapat. Posisinya sebagai superintendent membuat beliau sangat dibutuhkan. Hari itu beliau sangat sibuk, untunglah beliau telah mendelegasikan tugas mengajar kami kepada pak Fujiono.

Bersama dengan beliau kami mendalami proses pengolahan gas ekspor yang dilakukan di FPSO. Setelah cukup memberi pengantar, beliau mengajak kami melihat sosok unit proses secara langsung, menelusuri alur proses dari high pressure separator hingga gas export compressor. Setelah makan siang, kami bertemu kembali untuk mempelajari prosedur dan dokumen PTW.

[pob.28.02] offloading process

hari itu ada tanker yang merapat di single buoy mooring (SBM) untuk membeli minyak dari FPSO. Sebelum proses offloading dimulai, para leader bertemu dan membicarakan pre-job safety. Lamanya offloading proses berlangsung sesuai dengan jumlah barrel yang ditransfer dan kecepatan pompa. Untuk akurasi metering, dilakukan di dua tempat yaitu di tanker penerima dan di tanki pengirim, serta dilakukan running test setiap segmen untuk memastikan kesesuaian jumlah dan komposisi minyak yang dijual.

[pob.01.03] wellhead process with Dody Yuhanes

tidak sempat mengunjungi wellhead platform (WHP) karena kesibukan mentor di FPSO, membuat kami belajar mengenai proses yang terjadi di WHP hanya dari layar monitor di ruang kendali.

[pob.03.03] presentation

sebagaimana trip pertama, di akhir trip kedua ini kami diminta untuk menyampaikan presentasi mengenai hasil observasi dan learning kami mengenai proses operasi produksi, kendala dan usulan untuk FPSO. Kemudian diskusi dilanjutkan mengenai partnership antara perusahaan minyak dengan badan pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi serta konsep kontrak kerja sama yang dibangun oleh keduanya.

Kali ini audiens presentasi kami tidak hanya dari para leader, para pekerja dan pihak ketiga yang berminat dipersilakan untuk hadir. Presentasi yang berlangsung selama 2,5 jam itu berjalan seru dan hidup.

[pob.04.03] down to Matak.

Akhirnya selesailah masa trip kedua kami. Peraturan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan ini, setiap orang diperbolehkan berada di fasilitas produksi maksimal 21 hari dan diberikan masa berlibur minimal 7 hari dalam sebulan. Di awal masa OJT ini kami diberitahu bahwa masa “on” adalah 2 minggu dan masa “off” adalah 1 minggu.

Namun ketentuan perusahaan kami mengenai OJT bahwa peserta OJT tidak diperkenankan kembali ke republik Jakarta (pulau Jawa) selama masa OJT. Sehingga masa “off” kami harus dihabiskan di pulau Matak dan sekitarnya. Banyak hal exciting yang dapat kami alami selama berlibur di pulau Matak, yang tentu saja tidak mudah diperoleh jika kami berlibur di kota.

Teman-teman yang mendapatkan OJT di onshore, memanfaatkan waktu libur di kota propinsi terdekat dengan lokasi OJT. Sedangkan kami, bergumul dengan perahu, air laut, pulau-pulau, hutan dan bukit.

Helikopter yang akan menjemput kami kembali ke Matak, akhirnya datang sore setelah ditunggu sejak siang dan membuat kami sampai di Matak menjelang magrib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: