10 Off 2

[pob.04.03] down to Matak. 410jam 5 sore kami sampai di Matak, bertemu dengan pak Arifin Sjukur dan dr. Ary yang sedang menuju landasan untuk jogginng sore itu. Kebetulan helikopter yang kami tumpangi adalah penerbangan terakhir. Kami diminta menempati kamar 410, karena kamar 112 yang pernah kami tempati pada Off 1 lalu sedang ditempati oleh teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan oil spill sejak tanggal 1.Kamar 410 memang bukan kamar yang disarankan untuk pekerja pihak pertama maupun pihak kedua. Barak 4 adalah barak untuk pihak ketiga, para subkontraktor. Tetapi yang mengesalkan kami adalah perbedaan pelayanan dalam perawatan kamarnya. Coret-coretan di kayu tempat tidur, bantal yang bau apek. Walaupun dilucuti sarung bantalnya dan spreinya, tetap saja bau. Waaa… malam itu tidur tanpa bantal dan sprei. Hanya selimut dan itupun bau matahari. Hiks…[pob.05.03] main tennis. Tidur siang. Main ke pulau Langu dan berenang bersama pak Arifin dan teman-teman oil spill training.

Pagi itu kami main tennis, berkenalan dengan orang surveyor, dan menjemur bantal! Siang yang panas bikin bantal yang berpulau-pulau itu menguap baunya. Beberapa orang dari peserta pelatihan oil spill adalah teman-teman yang pernah kami jumpai di LGP. Jam 4 ½ kami dijemput pak Arifin dan menuju jetty. Dengan rescue boat kami meluncur ke pulau Langu dan bersenang-senang sampai magrib.

Makan malam kami saat itu spesial, barbeque dari berbagai macam ikan, ayam dan daging sapi. Wow.

[pob.06.03] main ke Terempa. Tidur siang. Jalan cepat di landasan.

Jam 6 ½ pagi kami bergegas menuju dermaga Payalaman, alhamdulillah mendapat tempat duduk di pompong. Perjalanan menuju Terempa lebih lambat daripada perjalanan kami sebelumnya. Sesampainya di Terempa, kami mampir ke kedai Murai, minum secangkir teh atau kopi. Setelah itu kami berjalan menyusuri pantai sebelah barat. Beberapa rumah penduduk berada di daratan, sebagian lain bertopang susunan kayu di atas pantai.

Ada batu yang dibelah menjadi jalan orang lewat. Kami terus berjalan sampai ke vihara yang berada di tebing. Untuk mencapainya harus menaiki undakan. Bangunan vihara ini terlihat menarik ketika kita berada di dalam pompong pada perjalanan dari dan ke Tarempa. Beberapa komunitas keturunan tionghoa hidup di sekitar vihara, bekerja sebagai pedagang, nelayan maupun petani. Pemandangan dari halaman vihara amat indah. Kita dapat memandang perairan teluk dan selat, maupun kota kecil bernama Tarempa yang berada di teluk sebelah utara pulau Siantan.

Dari vihara, kami kunjungi penginapan tanjung Indah yang dibangun menjorok ke teluk untuk mendapat pemandangan teluk Tarempa yang indah. Di depan penginapan, terdapat perajin pompong bernama pak Sabli. Saat kami kunjungi, beliau sedang mengerjakan pesanan pompong dengan panjang 8 meter. Di Tarempa, hanya dia perajin pompong saat ini. Kayu penyusun pompong diusahakan papan solid yang panjangnya sesuai panjang pompong yang diinginkan dan tidak terpotong. Untuk membuat lekukan perahu, papan tersebut dibakar sebelum dilekukkan. Setiap celah antara papan diisikan dengan kulit kayu gelam yang dapat mengembang ketika terkena air. Menyambungkan antara papan sebagian besar dengan pasak kayu dan sebagian lagi dengan paku atau murbaut besi.

Kami lanjutkan perjalanan ke pasar, mencari sandal berpelindung tumit, dan tidak kami dapatkan satupun. Kemudian menuju penjahit untuk menjahit celana pendek kami bertiga yang sobek. Dan makan di kedai pinggir laut yang dekat dermaga dan menghadap ke teluk.

Di kedai kami berkenalan dengan Sabri, seorang petugas dinas kesehatan yang berasal dari Medan. Beliau lulusan Akademi Kimia Analis dan pernah bekerja di Papua sebagai analis laboratorium Freeport. Resah hatinya meninggalkan sanak keluarga membuatnya keluar dari pekerjaannya dan menjadi petugas dinas kesehatan di Terempa. Walaupun penghasilannya tak seberapa dibandingkan dari pekerjaan sebelumnya, ia lebih merasakan ketenangan.

Ada banyak hal yang tidak kita pahami mengapa seseorang berbuat sesuatu yang menurut kacamata materi mengherankan, tetapi justru itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik🙂Belajar dari pengalaman pertama kami ke Tarempa ([jou.13.02]) kami segera masuk ke pompong walaupun pompong baru akan berangkat setengah jam kemudian. Bersyukur kami tidak perlu duduk di atas atap perahu lagi. Berkenalan dengan pak Bukhari, seorang pekerja community development dari perusahaan partner kami.
Sesampainya kembali ke base, kami tidur siang. Sore itu saya pergi ke landasan untuk berjalan cepat. Beberapa orang saya temui sedang jogging di sore itu. Waktu 45 menit dihabiskan untuk berjalan cepat menjelang magrib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: