12 Sepercik Semangat dari Matak Kecil

6 April, 2006

Kampung terdekat Matak Base adalah Gunung Cak, Payamaram dan Payalaman. Di seberang jetty terdapat kampung Batuampar. Sedangkan yang agak jauh adalah Putik, Ladan, Tebang, Candi, Teluk Gali, Piabung dan Kampung Baru. Pada jalan yang lain adalah Langir. Dari Gunung Cak ada jalan menuju Matak Kecil. Dari Payamaram terdapat jalan menuju Teluk Sunting. Semua kampung tersebut terletak di pulau Matak. Kebanyakan kampung berada di pesisir pantai.Pulau Matak adalah salah satu pulau di kepulauan Anambas yang berada di Laut Natuna Selatan. Batuan vulkanik merupakan pondasi pulau-pulau di Anambas. Sebagian besar pantainya bercadas, hanya sebagian kecil yang berupa pasir putih.

Hutan-hutan di pulau Matak digunakan sebagai ladang karet, durian, singkong, kelapa dan cengkeh. Hewan-hewan penghuninya diantaranya adalah kancil, ular, anjing, bangau, biawak, elang dan kalong. Hewan ternak yang dipelihara penduduk antara lain: ayam, itik, kerbau, dan sapi.

Sore yang cerah, kami memutuskan untuk berjalan menuju Matak Kecil. Keluar dari pos penjagaan Matak Base ke arah kanan melalui kampung Gunung Cak, kemudian berbelok ke kiri menyusuri jalanan tanah yang mendaki. Pendakian landai namun melelahkan karena treknya panjang sekali. Sesampainya di dataran pada sebuah tempat yang dapat disebut puncak kami bertemu dengan seorang petani karet yang sedang beristirahat. Karet ia ambil dari hutan di atas bukit, kemudian dengan gerobak dan pikulan ia bawa karet tersebut menuju Matak Kecil. Terbayang betapa besar usaha yang dilakukannya untuk mencari nafkah. Dari Matak Kecil, ia harus menyusuri selat menuju Tarempa dengan menggunakan pompong. Di Terempa-lah karet-karet itu akan dijual.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menuruni bukit, sebagian telah dikongkrit dengan peluran semen dan pasir. Namun jalan menurun ini sangat curam dan licin oleh pasir tanah. Hingga sampailah kami di dekat dermaga PT. PAN. Di sisi bukit kami temui dua orang sedang membakar batu. Batu tersebut sudah dibakar selama 3 jam, dan terus dibakar hingga cukup rapuh untuk dipecah. Pecahan batu akan digunakan sebagai pondasi rumah penduduk.

Kami berkenalan dengan salah seorang dari pembakar batu itu, namanya Erwan. Ia mengajak kami mampir di rumahnya. Rumahnya langsung dapat dikenali dari jauh, karena warna cat yang berbeda dengan rumah sekitar. Erwan pernah bekerja sebagai pegawai catering di Matak Base, namun ia berhenti karena mendengar PT. PAN membutuhkan pekerja. Akan tetapi sampai saat itu ia masih belum bekerja di PT. PAN.

Di rumahnya, Erwan mengusahakan warung kebutuhan sehari-hari. Ia menyuguhi kami dengan botol air mineral dan sebungkus kacang kulit. Sambil menikmati udara pantai di sore hari, kami ngobrol banyak hal. Dari obrolan itu kami ketahui bahwa Erwan yang kelahiran Matak pernah merantau ke Ranai ketika ia menginjak kelas 2 SD. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkan beliau hingga tamat. Dengan bekal semangat ia pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Ranai di kepulauan Natuna Besar. Di perantauan, ia tinggal bersama orang yang mau menampungnya. Ia rela disuruh mengerjakan segala pekerjaan asalkan ia tetap dapat sekolah. Ketika menginjak SLTA, ada seorang pejabat lokal yang bekerja di PLN mengangkatnya sebagai asuhan. Erwan dibiayai sekolahnya hingga selesai. Namun, orang baik itu harus bertugas di Padang, ia menyarankan kepada Erwan agar meminta ijin orang tua jika hendak mengikut beliau ke Padang.

Pulanglah Erwan ke Matak Kecil dan menyampaikan maksudnya kepada orang tuanya, tetapi orang tuanya mencegah kepergian Erwan. Tidak berapa lama, sang ayah meninggal dunia, menyusul pula sang ibu beberapa waktu kemudian. Erwan dititipi amanah menjaga adik-adiknya perempuan. Karena khawatir akan pengurusan adik-adiknya, Erwan menikah dengan seorang gadis di kampungnya dengan maksud istrinya mampu menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya.

Sampai kini Erwan memiliki semangat untuk tetap berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Ia juga masih punya harapan untuk hidup lebih baik.

Senja pun tiba, setelah membayar minuman dan snack, kami berpamitan dan berlomba dengan malam untuk mencapai Matak Base sebelum gelap.

Iklan

%d blogger menyukai ini: