did i feel what you feel?

25 Juli, 2006

just an afternoon walk to look for a fresh air, enjoy the city of Yogya from stasiun Tugu to Keraton. after a little jogg around the north alun-alun, i stretch my legs in front of the old building of Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. my eyes catch a homeless man who leant on the fence, he was writing, i didn’t know what was he wrote, i thought a journal. this man seems like a scholar, but why he dressed like a beggar?my tummy ask for a mie ayam, so i went to the nearer mie ayam seller. i still see that man from my desk, another man came to him and had some dialog. i wondered why…

after paying my meal, i look at my watch, the time was around dusk and nearby adzan magrib. i swing my step to Masjid Gedhe, an historical mosque in Yogya. while my eyes catch a man paw the soil and eat some peanut from it. what a poor man… but i thought he was a madman, or a beggar? i can’t stand to saw him pawing the soil to find something to eat, so i take my purse and find some rupiahs. i aproached him and i gave him the money so that he can buy something better to eat. he was very grateful and said thanks a lot of the money…

just a little question after magrib prayer:
“dear God, too many suffering people in this world, did i feel what they feel?”

[ndi, 240706]

Iklan

hujan kemarin sore…

21 Juli, 2006

akhirnya bisa hujan-hujanan lagi!

pulang kesorean kemarin sore, karena asyik nge-net di kantor bikin andi pulang setelah jam 5 sore, biasa dengan kemcetan sore, pas di mampang prapatan ngelihat langit yang gelap, wah pertanda hujan nih…

perjalanan dengan sepeda motor aman sampai ragunan, walaupun harus bergelap-gelap dengan mendung, tapi di kampung kandang tersiram juga deh. daripada harus menunggu reda, sekalian aja menerobos hujan yang ternyata semakin deras sampai di kampung curug tanahbaru.

masuk ke teras rumah, minta handuk ke citra lalu mandi dan segar! habis salat magrib, bermain bersama raka sampai dia tertidur sementara gerimis masih mengguyur sampai lewat isya. kami pun makan malam bertiga: raka menetek ASI, andi makan sambil menyuapi citra 🙂

malam tadi, tidak selembab malam-malam sebelumnya, cukup nyaman untuk tidur dan menikmati buaian 🙂


4:15 PM

19 Juli, 2006

maksudnya mau nerusin tulisan yg tadi… tapi dah capek gipula dah kesorean, daku mau salat asar trus balik ke rumah… ingin memeluk bayiku 🙂 biar hilang semua kesah


4:06 PM

19 Juli, 2006

setelah beberapa lama absen dari blogger, eh maksudnya “jendelaku”, pengen deh menulis sesuatu tentang yang kualami, terutama hari ini… kalo mo dibilang seberapa banyak sih pengalaman hari ini, ga banyak juga, tapi paling tidak mencoba menumpahkan isi hati…

ini sore harusnya aku dah pulang kembali ke rumah.. tapi baru aja selesai rapat yang dimulai dari jam 9:30 AM dengan break untuk makan siang dan salat zuhur. butek banget… ketemu sama orang yg ga incharge trus tiba-tiba dia nuntut ini itu, dengan alasan “gue kan baru dateng”… trus ketemu lagi sama pejabat baru yang “maksudnya sih memperbaiki” tetapi justru malah menyalahi kontrak… sebabnya programer yg ada dikontrak untuk sekop tertentu, tetapi permintaan si pejabat malah diluar sekop tersebut.., wah harus ngurus kontraknya dulu dong bos!

memang masalah program database itu, baru bisa jalan kalau datanya komplit, kalau belum ada data gimana kita bisa evaluasi… dus.. data juga harus valid, kalau ga valid gimana bisa diterima? nah, programer kan dikontrak cuma bikin rumahnya, untuk urusan isinya ya urusan yg punya rumah dong… artinya kami sebagai user jadi kena tanggung jawab buat ngisi datanya??? waduh ngurusin kerjaan yg sekarang aja dah numpuk ditambah input data? harus ada komitmen nih, berapa $ per data? hehehe…


menikmati keringanan salat

14 Juli, 2006

kawan, banyak pendapat mengenai keringanan salat ketika bepergian (safar). sebagian menganggap boleh saja meringkas (qashar) salat yang empat rakaat menjadi 2 rakaat saja, sebagian tetap mengerjakan jumlah rakaat yang sama hanya saja salatnya digabungkan (jamak) yaitu zuhr-ashr dan maghrib-isya, sebagian malah meringkas dan menggabungkan, tetapi ada juga yang berpendapat kalau memiliki waktu yang luang alangkah lebih baik untuk tetap mendirikan salat tanpa diringkas atau digabung. dan masing-masing pendapat memiliki referensi hadist yang benar.

salat adalah ibarat hutang kita kepada Allah. bagaimanakah kita jika kita berhutang sebanyak Rp5 juta kepada seseorang kemudian orang tersebut memberi keringanan kepada kita untuk membayar hanya Rp3 juta saja dan hutang kita dianggap lunas? wah, pemurah sekali orang itu ya? apalagi dong, Allah pasti Mahapemurah 🙂

orang yang dalam perjalanan tetap mendirikan salat (baik itu diringkas, digabung, atau seperti biasa) yang jelas mereka telah menunaikan kewajiban mereka kepada Allah. daripada mempertikaikan pendapat tersebut, bukankah lebih baik kita mengingatkan kawan-kawan kita yang belum salat? 🙂

IJS-10


abadilah engkau

3 Juli, 2006

kau adalah hening dalam ceracau laraku
yang mengurai gundahnya
warnai sepinya
pelipur rindunya

duhai bayang jiwa
abadilah engkau di kisahku

[chee]


lara

1 Juli, 2006

lihat..
pekat saja bertabur bintang..

lalu adakah lara
tak sisakan bahagia?

[chee, pd melati, 010706]


%d blogger menyukai ini: