ketika hanya kita

31 Oktober, 2006

kawan, ada rasa sedih yang mungkin nyangkut di hati kita ketika menyadari bahwa ternyata hanya kita yang sedang bergerak sementara “dalam kacamata kita” orang lain tidak turut bergerak bersama kita. bahkan perasaan sedih itu semakin menjadi ketika “penglihatan” kita orang lain bukan hanya tidak turut bergerak bersama kita tetapi justru berseberangan dan menjauh dari kita. padahal, “menurut pemahaman” kita apa yang kita lakukan adalah kebaikan yang tentu saja bermanfaat juga bagi orang lain.

ketika hal itu hadir, justru kita sedang “diminta” untuk memperbaiki apa-apa yang telah kita lakukan. apakah niat kita untuk sebuah ketulusan (dan pamrih kita hanya dari Tuhan) atau untuk sebuah popularitas belaka?

“don’t stop! the champion never stop” demikian slogan berisi semangat yang dapat kita temukan di buku-buku inspiratif. benar, kawan jangan pernah berhenti selama kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan dan kita melakukannya dengan kebenaran. dan jika harus “mengaso” untuk mengumpulkan tenaga baru dan kembali berkiprah, marilah kita manfaatkan waktu istirahat itu adalah waktu yang paling berharga.

ref QS 9:105
IJS-16

Iklan

jika ramadhan usai

20 Oktober, 2006

kawan, aktivitas ibadah ramadhan telah menghanyutkan kita dalam semangat bergelora yang belum pernah kita capai di hari-hari lain. kerelaan kita berpuasa, menjaga hati dan lisan, salat malam, mengarungi makna alquran, dan bersedekah setiap hari, adalah untuk mengejar berkah dan keutamaan ramadhan.

jika ramadhan usai, tibalah saatnya kembali berbuka sebagai hari raya yang ditetapkan Allah untuk mengagungkan Dia supaya kita menjadi hamba yang bersyukur.

keuntungan yang kita peroleh jika menjadi hamba yang bersyukur (sebagaimana janji Allah) adalah kesyukuran akan mengantarkan kita kepada jalan yang benar dan membuat hidup kita senantiasa dalam kesuksesan.

apakah kita merasa belum menjadi hamba yang bersyukur? sudah sebaiknya kita hilangkan keraguan untuk memulai, dan hapuskan rasa takut sudah terlambat. selama Allah memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati hidup, tidak ada kata terlambat untuk menyusul rombongan orang-orang yang bersyukur.

jika ramadhan usai, tibalah saatnya kita meneruskan semangat ramadhan dalam hari-hari kita ke depan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah. semoga Allah menerima ibadah ramadhan kita semua dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang kembali dan menang.

ref QS 2:185
IJS-15


bersyukurlah, karena masih boleh berpuasa

10 Oktober, 2006

jika pagi ini (begitu juga pagi-pagi lainnya dalam bulan ramadhan) kita harus bangun lebih pagi untuk bersahur, menantikan subuh berjamaah di masjid kemudian berangkat bekerja, tentu saja membutuhkan usaha dan niat yang teguh dalam rangka memenuhi ibadah puasa kita. tentu saja tak boleh ada keluhan yang mengisi hari-hari kita karena kita yakin keluhan itu akan merusak makna puasa kita.

jika sepulang bekerja, kita bergumul dengan kemacetan demi mengejar waktu berbuka di rumah, kemudian menantikan shalat isya berjamaah di masjid yang disusul tarawih dan witir serta tadarus quran, tentu saja membutuhkan rasa senang dan ikhlas dalam rangka menggenapi ibadah puasa kita hari itu. tentu saja tak mengenal rasa letih dalam beribadah karena kita yakin bulan ramadhan adalah bulan obral pahala dari Allah.

kawan, sudah semestinya kita bersyukur, karena Allah masih membolehkan kita berpuasa, sementara banyak kawan-kawan kita yang sudah menghadap-Nya tak lagi duduk tarawih di samping kita; sementara banyak kawan-kawan kita yang harus menikmati masa sakit sehingga menghalangi mereka untuk berpuasa; sementara banyak kawan-kawan kita yang sepanjang tahun berpuasa karena tak cukup punya makanan untuk mengganjal perut mereka.

kawan, jangan berhenti bersyukur, karena puasa kita bulan ramadhan ini jika dilakukan dengan baik dan ikhlas akan menghapus dosa-dosa kita yang lalu dan yang akan datang. alhamdulillah.

IJS-14


%d blogger menyukai ini: