ketika hanya kita

31 Oktober, 2006

kawan, ada rasa sedih yang mungkin nyangkut di hati kita ketika menyadari bahwa ternyata hanya kita yang sedang bergerak sementara “dalam kacamata kita” orang lain tidak turut bergerak bersama kita. bahkan perasaan sedih itu semakin menjadi ketika “penglihatan” kita orang lain bukan hanya tidak turut bergerak bersama kita tetapi justru berseberangan dan menjauh dari kita. padahal, “menurut pemahaman” kita apa yang kita lakukan adalah kebaikan yang tentu saja bermanfaat juga bagi orang lain.

ketika hal itu hadir, justru kita sedang “diminta” untuk memperbaiki apa-apa yang telah kita lakukan. apakah niat kita untuk sebuah ketulusan (dan pamrih kita hanya dari Tuhan) atau untuk sebuah popularitas belaka?

“don’t stop! the champion never stop” demikian slogan berisi semangat yang dapat kita temukan di buku-buku inspiratif. benar, kawan jangan pernah berhenti selama kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan dan kita melakukannya dengan kebenaran. dan jika harus “mengaso” untuk mengumpulkan tenaga baru dan kembali berkiprah, marilah kita manfaatkan waktu istirahat itu adalah waktu yang paling berharga.

ref QS 9:105
IJS-16


%d blogger menyukai ini: