belajar dari pak kartono

21 Desember, 2006

“Saya Kartono, Pak”, begitulah dia memperkenalkan dirinya kepada saya dalam perjalanan menuju Gresik. Pak Kartono adalah supir yang menjemput saya di bandara Juanda, Surabaya. Seperti yang sudah-sudah, saya selalu menggunakan waktu tempuh itu dengan berbagai obrolan dengan supir untuk memecah kebekuan perjalanan. Biasanya saya memulainya dengan kejadian terbaru, pendapatnya tentang sesuatu hal, sampai kemudian membicarakan kehidupan pribadinya.

Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan saya dengan hal membicarakan kehidupan pribadi seseorang, namun percayalah, satu hal yang sangat disenangi orang untuk dibicarakan adalah kehidupan pribadinya. Tak banyak orang yang suka mendengar kisah hidup orang lain, tetapi kenyataannya mereka akan sangat antusias mengisahkan cerita tentang diri sendiri.

Kembali kepada pak Kartono, dari ceritanya saya peroleh informasi bahwa ia memiliki keluarga yang tinggal di Bojonegoro. “Lebih enak tinggal di desa, Pak, tidak terlalu banyak keinginan dan lebih hemat,” begitulah alasan mengapa dia memilih tinggal di desa. Bekerja dengan sistem 10-10 (10 hari bekerja dan 10 hari libur) di rental mobil yang disewa oleh perusahaan yang akan saya kunjungi itu menurutnya lebih nyaman, “karena operasi migas selalu dibutuhkan 24 jam, akan sulit bagi saya harus mondar-mandir rumah – lapangan setiap hari.”

Pak Kartono sudah 10 tahun menjadi supir rental di perusahaan itu. “Lulus SMP, bapak saya bilang ngga bisa melanjutkan membiayai pendidikan saya. Akhirnya saya pergi ke pasar dan cari pekerjaan,” ujarnya memulai kisah hidupnya. “Bagi saya, bekerja apa saja asal halal jauh lebih terhormat daripada menganggur, Pak,” begitu menurut pandangannya. Saya melihat semangat menyala di rona wajahnya.

Dia sempat menjadi kenek untuk minibus antar kota, kadang-kadang dia menggantikan supir untuk membawa minibus. Dia juga sempat berjualan kerupuk, mengambil dari agen dan mengantarkannya ke warung-warung. Hasil keuntungannya juga lumayan sehingga ia dapat menyekolahkan adiknya ke jenjang yang lebih baik. Namun karena kedengkian seorang rekannya usaha kerupuknya tidak berkembang lagi, sehingga dia keluar dan mencari pekerjaan baru sebagai kenek di toko bangunan. Ternyata toko bangunan tempatnya bekerja membutuhkan supir, jadilah ia supir yang mengantar bahan bangunan ke pelanggan.

Pak Kartono tidak pernah menolak perintah atasannya untuk mengantarkan bahan bangunan. Tetapi sikapnya yang selalu menerima perintah ini tidak disenangi supir yang lain, dan bahkan ia difitnah untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Walaupun atasannya tidak mempercayai fitnah tersebut, ia meminta agar atasannya rela melepaskan dia. Pak Kartono tidak dapat bekerja dengan baik di lingkungan yang tidak dapat menerimanya.

Akhirnya masuklah ia ke perusahaan rental mobil, ternyata ia disewa perusahaan migas yang beroperasi di daerah Jawa Timur dan bertahan hingga saat ini. Orang yang pengalamannya telah mengajarkannya untuk menerima, tidak menggugat, dan tetap bersyukur, secara tidak disadarinya telah mengajarkan kepada saya ilmu kehidupan. Malam harinya, setelah saya menyelesaikan urusan saya, ia kembali mengantarkan saya ke Surabaya. Terima kasih, Pak Kartono.

[Lesson on December 10, 2006]

Iklan

menilai kembali qurban kita

21 Desember, 2006

kawan, ada yang biasa berqurban setiap tahun untuk setiap anggota keluarga, ada juga yang berqurban satu ekor kambing saja untuk sekeluarga karena ibadah ini sunnah kifayah, ada lagi yang berqurban bila tabungannya sudah cukup atau jika mendapat bonus dari tempatnya bekerja, dan banyak yang sementara hanya berkeinginan saja karena secara kemampuan memang belum termasuk yang wajib berqurban.

kita terharu mendengar kisah-kisah luar biasa dari masyarakat ekonomi rendah yang berusaha berqurban dengan segala kemampuannya, sehingga kita secara tak sadar melupakan kisah orang-orang kaya yang diberikan banyak nikmat oleh Allah dengan qurban mereka yang melimpah setiap tahun. padahal keduanya adalah kebaikan yang tak pantas bagi kita memandang baik di satu sisi dan memandang sebelah mata di sisi lainnya, hanya karena kita menganggap sudah sepatutnya para orang kaya berqurban yang banyak.

justru saat inilah kita memanfaatkan waktu untuk menyelami sejauh mana kita sudah berqurban sebagai ketaatan dan rasa syukur kita atas karunia yang Allah limpahkan.

apakah kita menjadikan qurban sekedar realitas ritual dan rutinitas ibadah? atau karena kesadaran bahwa banyak hal dari diri kita yang perlu kita qurbankan? sudahkah kita menyempurnakan qurban kita dengan keikhlasan? mempersembahkan yang terbaik dari yang kita cintai untuk Tuhan, untuk kemaslahatan umat manusia? sebagaimana Habil putra Adam mempersembahkan qurban yang terbaik walaupun harus dibenci saudaranya?

ref QS 108:1-3
IJS-20


bercukup ketika miskin

19 Desember, 2006

perbedaan yang nyata antara orang miskin dan orang kaya adalah bagaimana mereka menyikapi kondisi mereka, begitu para penceramah motivasi mengajari kita. namun baik itu kekayaan maupun kemiskinan hanya merupakan titipan saja, sewaktu-waktu dapat saja diambil oleh Yang Mahapunya. sebagai hamba yang bersyukur, kawan, sudah seharusnya kita mensyukuri segala kondisi yang dititipkan oleh Allah kepada kita.

jika kemiskinan hadir pada diri kita, sudah sepatutnya kita merasa cukup dengan apa yang ada, tanpa perlu mengeluh, tetapi terus berusaha memenuhi kebutuhan kita. mungkin banyak keinginan yang muncul ketika kita miskin, mungkin juga dengki dengan keberhasilan dan kekayaan orang lain, bahkan mempertanyakan keadilan Tuhan pada diri kita yang merasa “sudah beribadah dengan baik” kepada-Nya?

kawan, miskin boleh jadi sarana yang Allah sediakan bagi kita untuk semakin mendekat kepada-Nya, miskin boleh jadi sarana ujian dari Allah bagi hamba yang dicintai-Nya, miskin boleh jadi sebuah tahapan sebelum kita dijadikan kaya oleh-Nya? mengapa kita merasa kurang dan tidak bersyukur?

Ref QS 24:32, 4:32
IJS-19


agar qurban lebih bermanfaat

15 Desember, 2006

Tidak boleh dilupakan oleh kita bahwa qurban sebagai sebuah bentuk peribadatan umat Islam telah mengalami transformasi sejak jaman Nabi Adam as. hingga sempurna pada masa Nabi Muhammad saw. Dengan berqurban, manusia membuktikan ketaatannya kepada perintah Allah swt. sebagai Sang Pencipta. Dengan begitu, upacara qurban sendiri harus merujuk kepada ketentuan yang Allah dan Rasul-Nya tunjukkan kepada kita.

Selama bertahun-tahun, kita mengalami hari raya qurban yang begitu-begitu saja, datang ke panitia qurban dengan menuntun kambing atau sapi, kemudian disembelih dengan nama Allah dan takbir, dagingnya dibagi-bagikan kepada para tetangga dan orang-orang miskin. Namun sadarkah kita bahwa seiring waktu kondisi di sekitar kita telah membaik, sehingga tanpa kita sadari, hari raya adha kini menjadi pesta bagi orang-orang yang mampu? Sementara itu jauh dari tempat kita berada, di desa, di pelosok, di daerah bencana, di daerah yang kekurangan, makan daging kambing atau sapi sudah seperti menikmati hidangan surga?

Alhamdulillah, sejak hadirnya LSM keislaman yang tepercaya, qurban menjadi lebih bermanfaat dan lebih bermakna. Qurban tidak hanya dinikmati oleh orang-orang mampu, orang-orang kota, tetapi sampai ke desa, ke daerah bencana, ke daerah yang membutuhkan. Sebut saja program Tebar Hewan Kurban dari Dompet Dhuafa, Sebar Qurban Nusantara dari PKPU, dan SuperQurban dari Rumah Zakat Indonesia menawarkan asas kemanfaatan dari qurban kita. Bahkan RZI memberikan kemudahan baru membayar qurban dengan kartu kredit dan memaketkannya dalam bentuk kornet agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih panjang.

Kemanapun kita berqurban, ingat selalu NIATKAN SEMATA KARENA ALLAH. Selamat berqurban!


bercukup ketika kaya

12 Desember, 2006

sudah menjadi lumrah kehidupan manusia di dunia dipenuhi dengan keinginan-keinginan, dan tak akan pernah puas dahaga tersebut walaupun beribu keinginan telah terpenuhi. ketika sengsara pastilah memiliki harapan untuk bahagia, ketika miskin pasti memiliki keinginan untuk kaya, namun ketika keinginan tersebut dapat dipenuhi apakah kita masih mengingat kondisi sebelumnya?

kawan, kekayaan sama halnya dengan titipan yang harus dipelihara dengan baik, bahkan harus bermanfaat bagi lebih banyak orang daripada dinikmati oleh kita sendiri. katakanlah kita mampu membeli keinginan senilai 1 juta rupiah tetapi sebenarnya kebutuhan kita hanya 100 ribu rupiah, bukankah seharusnya kita dapat berhemat 900 ribu rupiah? mungkin kita juga dapat berbagi dengan orang lain yang lebih membutuhkan?

bukankah bercukup ketika kaya juga merupakan bentuk kesyukuran kita?

ref QS 14:7, 24:22
IJS 18


Hello world!

11 Desember, 2006

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

dan sejak pertama kali belajar bahasa pemrograman, kalimat pertama yang diajarkan adalah judul tulisan ini…

seolah-olah kita dihadirkan kepada sebuah dunia baru yang menarik dan banyak hal yang dapat kita cari daripadanya, memperkaya pengalaman dan pemahaman kita…

apapun, sekarang saya membuka blog di wordpress, barangkali wp menawarkan sesuatu yang tidak saya dapatkan di fasilitas blog lain?


kembali ke blogger

7 Desember, 2006

memang susah kalau akses internet mengandalkan fasilitas kantor, selalu terbatas, belum kalau akses ke url tertentu diblok. alasan diblok juga macam-macam, dari yang bikin orang ngga pada kerja (seperti YM, friendster, dll) sampai bikin orang ketagihan (judi, porno, bisnis online, dll). dan yang namanya fasilitas kantor yah bakal pukul rata, ngga peduli sama kepentingan khusus. padahal beberapa orang menggunakan internet untuk kemudahan berkomunikasi.

sampai beberapa waktu yang lalu saya menggunakan multiply dan hampir-hampir melupakan blogger yang ternyata ketika diakuisisi oleh google, bikin akses lebih mudah. multiply sudah jadi kesibukan setiap awal hari dan akhir hari kerja saya (tentu saja di tengah2nya saya harus bekerja). multiply jadi ajang tukar pikiran dan “meracuni pikiran orang lain” hehehe…

tapi sekarang entah sampai kapan…. akses ke multiply diblok oleh fasilitas kantor, hiks. seperti kehilangan semangat, MP dengan fasilitas yang luar biasa menawan, membuat saya jatuh cinta dan hampir melupakan blogger. Kini dengan nasib seperti sekarang, mengakses MP cuma bisa di luar kantor, saya coba kembali ke blogger sampai suatu saat nanti ada fasilitas ngeblog yang lebih asyik…


%d blogger menyukai ini: