[lessons] Hidup hanya seperti parkir

29 Januari, 2007

Wajah lelaki usia setengah baya itu hampir setiap hari menyapa saya dengan senyum dan keramahannya yang khas. Ajaibnya dia selalu punya tempat untuk memarkirkan motor saya (maklum, kalau sering telat ngantor, tempat parkir pun selalu penuh). Sepetik percakapan setiap kali mengisi pertemuan kami. Entah tentang solat subuh, puasa sunah, dan masalah ibadah lainnya (beliau beberapa kali memanggil saya ustad karena sempat mengisi kultum di masjid). Kadang-kadang dia membicarakan keluarganya, mulai dari liburan sekolah yang mengajak mereka pergi menengok sanak saudara di kampung, anak pertamanya yang kontrak kerjanya sudah habis, kebutuhan praktik anak keduanya yang sekolah di STM dan kemanjaan anak ketiganya yang masih duduk di kelas 2 SD.

Sejauh yang saya kenal mengenai dirinya adalah kebersahajaannya. Beliau punya semangat untuk memelajari agama dan hidup sederhana. Pekerjaan sebagai penjaga parkir di gedung perkantoran kami sudah dilakoninya bertahun-tahun. Rasa terima kasihnya atas kebaikan orang lain dia wujudkan dalam bentuk pelayanan yang totalitas. Kadang-kadang saya sampai malu sendiri dilayani beliau yang usianya jauh lebih tua daripada usiaku.

Saya teringat pelajaran tukang parkir yang disampaikan oleh Aa Gym, bagaimana bagus dan banyaknya kendaraan yang berada di lahan parkir tetap tidak membuat si tukang parkir menjadi sombong, apalagi rasa kehilangan apabila kendaraan itu semua diambil oleh pemiliknya. Rasa memiliki si tukang parkir diwujudkan dalam menjaga kendaraan yang diparkir supaya tetap aman dan pemilik kendaraan merasa nyaman. Dan dari sisi kendaraan itu sendiri, kadang-kadang ia parkir di suatu tempat, kemudian berpindah ke tempat lain.

Begitulah hidup hanya seperti parkir, kadang berada di sini kadang berada di sana. Dan begitu juga si tukang parkir, hidup yang dijalani hanyalah untuk memelihara amanah yang dititipkan kepadanya.

Bagi pak Mahmudin, tokoh yang saya ceritakan di atas, tugasnya sebagai penjaga parkir sudah harus selesai per tanggal 25 Januari 07 kemarin walau usianya baru 47 tahun dan beliau kini tidak perlu lagi memusingkan permasalahan hidup yang dihadapinya. Tetapi bagi saya, dengan selesainya tugas beliau sapaan ramah dan obrolan singkat di pelataran parkir tak akan lagi ada. Pertama kalinya saya sowan ke rumahnya kemarin adalah untuk mengantarkan beliau kepada tempat istirahatnya yang terakhir.

Selamat jalan pak Mahmudin, hidup memang hanya seperti parkir.

[lesson on 26012007]

 

Iklan

resolusi niat

21 Januari, 2007

niat

Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mndapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhori Muslim)***catatan kali ini tidak bermaksud untuk men-syarah hadits tersebut, dimana sudah banyak para ahli hadits dan ulama yang membahasnya. namun memasuki tahun hijriah 1428 ini, kami sekeluarga mengucapkan:

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1428!

Semoga semangat berhijrah senantiasa menghiasi hari-hari kita. Menjadikan setiap kesulitan sebagai jalan mendekati Allah, dan menjadikan segala kemudahan sebagai sarana syukur atas nikmat dan karunia-Nya.

 


jika suami membantu istri

12 Januari, 2007

Tak banyak para suami yang mau membantu istrinya, paling tidak begitu menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan. Secara ilmiah, survey diambil dari obrolan antara teman-teman yang sudah jadi suami maupun yang akan jadi suami, diskusi yang saya ikuti di dunia maya, ditambah dengan diskusi dengan istri saya yang sering mendengar atau jadi curhatan para ibu-ibu tentang kelakuan suaminya. Adapun yang dimaksud dengan membantu istri di antaranya adalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga (mengurusi pakaian kotor, membersihkan rumah dan perabotan, memasak makanan), berbelanja kebutuhan rumah tangga, mengurusi dan mendidik anak.

Entah apa yang ada di dalam benak masing-masing suami terhadap “membantu istri”, ada yang bilang bahwa itu semua pekerjaan perempuan. Saya ingat tentang pendapat seorang ahli yang saya lupa namanya, bahwa keluarga yang dibangun memiliki 2 macam:
1) memisahkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini juga terbagi 2 yaitu:
a) peran suami di luar rumah lebih besar daripada istri
b) peran istri di luar rumah lebih besar daripada suami
2) menyeimbangkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini berusaha secara adil dan melihat kondisi, peran siapa yang dapat lebih besar, dan dapat saling melengkapi satu sama lain.

Secara sejarah, macam yang pertama merupakan warisan nenek moyang dimana para lelaki berburu dan berperang, para perempuan berkebun, menyiapkan makanan dan mengurus anak. Sedangkan macam yang kedua hadir sebagai kebutuhan budaya, kesadaran akan kesetaraan, dan keimanan.

Ketika sejarah mencatat bahwa nilai perempuan di mata lelaki tidak berarti, dianggap menyusahkan dan tidak produktif, bahkan menjadi tempat pemuasan nafsu belaka, sejarah juga mencatat bahwa perempuan dihormati 3 kali daripada lelaki, kedudukannya di mata Allah adalah setara sehingga harkat dan martabat perempuan terangkat, peran perempuan dan laki-laki sama dalam melahirkan peradaban yang berbudaya.

Nabi sendiri amat mencintai istri-istrinya dan menempatkan mereka pada kedudukan yang terhormat dan mulia. Di saat tidak berperang, beliau mencari nafkah, memasak untuk kebutuhan makanan keluarga sampai-sampai beliau menjahit sendiri pakaian dan sandalnya yang putus talinya. Nabi juga mencintai anak-anak dan cucu-cucunya, mengurusi mereka tatkala ibu mereka sedang sibuk, dan berperan besar dalam mendidik mereka menjadi generasi yang kuat dan tangguh.

Pada masa beliau, peran perempuan menjadi jelas dan nyata, eksistensi perempuan menjadi lebih kentara dan diakui seiring dengan produktifitas karya yang dibuat oleh kaum perempuan. Dengan begitu perempuan menyadari posisinya sebagai pendamping laki-laki dalam membesarkan dan mendidik generasi, sehingga para perempuan dengan senang hati dan ikhlas karena Allah, membantu tugas suami dalam menjalankan roda rumah tangga.

Belajar dari cara Nabi dan para sahabat dalam mengurusi rumah tangga, suami tidak sepatutnya menuntut banyak hal kepada istrinya di luar kemampuan mereka. Justru ketika suami mengabdikan dirinya dalam mengurusi rumah tangga, para perempuan salihah itu akan serta merta berpartisipasi. Ini merupakan bentuk pendidikan keluarga, dimana anak-anak akan melihat bagaimana ayah mereka memuliakan ibu mereka, kelak mereka juga akan memuliakan perempuan. Sebaliknya jika suami tidak berbuat demikian, sangat mungkin keluarga yang dibangun akan kehilangan kebahagiaan dan berpotensi gagal dalam melanjutkan pelayaran kehidupan berkeluarga.

Saya berterima kasih kepada Allah yang memberikan orangtua yang mendidik saya untuk memuliakan perempuan sebagaimana juga merupakan ajaran dari Nabi-Nya, dengan begitu saya berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan rumah tangga saya dengan membantu istri dan berusaha mewujudkan keluarga yang salih. Maka ketika saya pulang ke rumah, satu hal yang paling membahagiakan diri saya adalah saya diakui sebagai suami sekaligus ayah.

[lesson on 12012007]


menikmati segarnya udara jakarta

11 Januari, 2007

Ketika saya ditanya, “mengapa musim hujan terhenti?”, saya tertegun sejenak menyadari bahwa sudah lebih dari dua minggu Jakarta tidak diguyur hujan, tepatnya sejak Natal 2006 yang lalu. Cuaca selama itupun sangat cerah, siang hari dapat terlihat jelas langit biru, awan putih dan pemandangan yang sangat jelas dari jendela ruanganku yang terletak di lantai empat belas gedung kantor. Udara sangat bersih, bebas debu dan polusi. Sedangkan di malam harinya dapat menikmati bintang-bintang yang sinarnya menembus ruang dan waktu, dan bulan yang cahayanya tak terhalang mendung. Benar-benar kondisi yang sangat mahal untuk suasana di Jakarta.

Sayapun membuat analisis kecil-kecilan, bahwa pada akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007 ini begitu banyak hari libur, Natal, Idul Adha, Tahun Baru ditambah dengan liburan semester anak sekolahan. Kondisi ini juga membuat orangtua dari anak-anak yang bersekolah mengambil cuti untuk menemani keluarga berlibur. Dengan begitu volume penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya di Jakarta pun berkurang, hal ini mengurangi jumlah pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor dan membuat langit cerah, udara bersih, dan segar tak tercemar.

Sebaliknya, pada hari-hari biasa para pekerja yang memiliki kendaraan bermotor memenuhi ruas-ruas jalan raya dan menimbulkan kemacetan di mana-mana, belum lagi ditambah dengan tekanan batin (baca: stress) akibat kemacetan justru sering menambah keruwetan, dan juga anak-anak bersekolah sehingga jumlah penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya bertambah. Hal ini masuk akal, karena anak-anak sekolah itu pergi ke sekolah dengan mengendarai sendiri atau diantar oleh ortu maupun sopirnya. Semua kendaraan bermotor itu memroduksi pencemaran udara.

Mengapa anak-anak di masa sekarang pergi ke sekolah dengan kendaraan pribadi? Begitu banyak alasan yang dapat dibuat, di antaranya kekhawatiran ortu terhadap keamanan anaknya di jalan, jauhnya jarak sekolah dari rumah, kenyamanan berkendaraan pribadi karena kalau naik kendaraan umum berpeluh dan berpolusi, dan sebagainya. Padahal jika mau kilas balik ke masa di mana kendaraan pribadi masih sedikit, atau jika mau berkaca kepada negara yang penduduknya memilih berjalan kaki, berkendaraan umum atau naik sepeda, semua alasan tadi perlu dipertanyakan lagi. Ini sebab akibat, seperti mempermasalahkan mana duluan ayam dengan telur.

Jika kita sendiri memiliki niat memperbaiki udara kota Jakarta tidak hanya bersih di saat liburan tetapi sepanjang waktu, tentu saja kita harus mendukung program langit biru dengan mengurangi keseringan kita menggunakan kendaraan pribadi dan memilih kendaraan umum, karena terus terang jika kita telusuri yang menjadi sumber kemacetan adalah kendaraan pribadi, kendaraan umum hanya menjalankan tugasnya mengantar penumpang dan mereka mendapatkan upah dari pekerjaannya itu, sedangkan kendaraan pribadi hanya memuaskan pemiliknya saja.

Upaya penjernihan udara Jakarta sudah dimulai beberapa elemen masyarakat baik secara pribadi, kelompok maupun pemerintahan, misalnya dengan menanam pohon di rumah masing-masing, bersepeda ketika berangkat ke kantor, dan busway. Saya berpikir, ketika semua orang mau menggunakan fasilitas umum, ketika pemerintah mau menyediakan fasilitas umum yang memadai dan nyaman untuk digunakan masyarakat, dan semua bekerja sama untuk membersihkan langit Jakarta dari polusi, insya Allah kesegaran udara Jakarta bukan lagi impian di saat liburan 

Pagi ini, dari balik jendela ruangan kantor saya sudah mulai terlihat lagi asap hitam yang menghalangi pemandangan indah pegunungan di timur dan selatan Jakarta serta pemandangan gedung-gedung perkantoran dan hotel di sebelah utara dan barat. Ah, ternyata para pekerja yang cuti sudah mulai kembali masuk kerja, dan senin besok anak-anak sekolah di Jakarta mulai meramaikan lalu lintas. Itu semua berarti saya harus kembali berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan, saya menjawab, “yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya, mungkin Allah menghendaki kita dapat menikmati suasana indah kota Jakarta sebelum kita kena tekanan batin oleh keruwetannya lagi.”

[lesson on 11012007]
happy birthday to dober, keep in faith bro!


bahwa hidup bukanlah selebar layar monitor

3 Januari, 2007

Dahulu ketika IRC berjaya, hampir tiap hari chatting, bisa berjam-jam sampai mata perih dan lupa tidur. Kaget-kaget, tagihan telepon membengkak tiga ratus persen. Terpaksa menyisihkan uang saku buat bantu mama bayar telepon. Sampai sempat berseteru dengan ortu, ngga pulang ke rumah – di kos aja. Akhirnya dikejutkan dengan waktu kuliah yang sudah lewat tujuh semester. Hari-hari kemudian diisi oleh mencari bahan penulisan skripsi dan berjuang menyelesaikan kuliah dalam sembilan semester.

Kenalan dengan messenger dari yahoo maupun msn, belum lagi tertarik membuat website, serta menyelancari dunia milis membuat dunia internetku tetap berlanjut. Kadang-kadang terperosok dan menghabiskan waktu di situs-situs “dewasa” (saya kira justru itu situs “kekanak-kanakan”, karena orang dewasa kan harusnya tidak menghabiskan waktu untuk membuat atau menikmati situs tersebut, hehehe). Untunglah diselamatkan oleh modem yang tersambar petir, sehingga akses internet pun terhenti.

Pesawat ponsel yang mengakomodasi jaringan gprs masih mahal ketika promo gprs masih gratis. Ketika aku dapat membeli sebuah pesawat ponsel sederhana yang memiliki fasilitas gprs, promo itu sudah berubah menjadi bayar dua puluh lima ribu rupiah per bulannya. Bermodalkan kabel data seharga seratus ribuan, keasyikan berselancar pun kembali dijalani sampai dengan suatu waktu penyedia layanan gprs merubah tarifnya menjadi sepuluh rupiah per kilobyte data. Tagihan ponselku melewati angka satu juta rupiah!

Beruntunglah aku masih dapat mengakses internet selama delapan jam sehari di kantor, sehingga kekecewaanku akibat menutup langganan ponsel terobati. Blogging menjadi sarana yang baik untuk memulai kembali budaya menulis yang sudah lama tak kujalani. Dengan aktivitas internet belakangan itu telah mempereratkan aku kepada seseorang yang kini menjadi ibu dari anakku.

Blogging nyaris menjadi kebutuhan utama selain sandang-pangan-papan, di mana tertulis semua keseharian, buah pikiran serta rekaman gambar-gambar. Belum lagi ditambah dengan komentar-komentar pengunjung yang memranalakan situs blog kami pada situs blog mereka. Pertemanan di dunia maya selayaknya di dunia nyata, berbagi cerita dan pengalaman, menjadikan blogging pengobat kerinduan. Semua itu menjadi sebuah ketagihan yang “memaksa” diri untuk blogging setiap ada waktu.

Tersadar akan kenyataan di antara delapan jam waktu kerja hanya empat jam saja yang benar-benar bekerja, tetap tidak mengurungkan kesibukan blogging. Bahkan aktivitas internet pun bertambah menjadi moderator di berbagai milis, menanggapi tulisan dan membuat sanggahan, atau membuat “khutbah” pribadi. Seakan-akan “that’s the real job”. Dan kenyamanan itu sampai juga pada batasnya ketika mengetahui aktivitas blogging menjadi salah satu penyebab tingginya bandwith yang disediakan oleh kantor. Oleh administrator server, akses ke dunia blogging yang mengarah kepada chatting dan semua situs yang tidak relevan sama sekali dengan pekerjaan diblokir.

Dengan rasa sedih dan terpaksa dinyatakan, “blogging is temporarily suspended”.

Di depan monitor ini, kupalingkan wajah ke sisi lain meja kerjaku, di atasnya menumpuk dokumen-dokumen. Baik yang sudah selesai diproses maupun yang belum tersentuh sama sekali, bahkan melirik tarikhnya sudah lewat berminggu-minggu. Belum lagi menengok kolong meja yang juga terisi bertumpuk dokumen yang belum sempat dirapikan kembali. Tersentak aku kaget, “ternyata selama ini pekerjaanku hanya menyelesaikan yang mendesak saja”.

Kini, ketika blogging tidak lagi terlalu kebutuhan, aku bisa membenahi kembali kehidupan normalku. Pekerjaan yang kusia-siakan, masih saja memberikan aku pemasukan setiap bulannya yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Alhamdulillah, Allah, yang selalu teringat ketika waktu salat sudah hampir berganti, masih mengaruniakanku kesempatan untuk teringat kepada-Nya dan mengingatkanku bahwa hidup bukanlah selebar layar monitor 🙂

[lesson on early january 2007]


%d blogger menyukai ini: