[lessons] Hidup hanya seperti parkir

Wajah lelaki usia setengah baya itu hampir setiap hari menyapa saya dengan senyum dan keramahannya yang khas. Ajaibnya dia selalu punya tempat untuk memarkirkan motor saya (maklum, kalau sering telat ngantor, tempat parkir pun selalu penuh). Sepetik percakapan setiap kali mengisi pertemuan kami. Entah tentang solat subuh, puasa sunah, dan masalah ibadah lainnya (beliau beberapa kali memanggil saya ustad karena sempat mengisi kultum di masjid). Kadang-kadang dia membicarakan keluarganya, mulai dari liburan sekolah yang mengajak mereka pergi menengok sanak saudara di kampung, anak pertamanya yang kontrak kerjanya sudah habis, kebutuhan praktik anak keduanya yang sekolah di STM dan kemanjaan anak ketiganya yang masih duduk di kelas 2 SD.

Sejauh yang saya kenal mengenai dirinya adalah kebersahajaannya. Beliau punya semangat untuk memelajari agama dan hidup sederhana. Pekerjaan sebagai penjaga parkir di gedung perkantoran kami sudah dilakoninya bertahun-tahun. Rasa terima kasihnya atas kebaikan orang lain dia wujudkan dalam bentuk pelayanan yang totalitas. Kadang-kadang saya sampai malu sendiri dilayani beliau yang usianya jauh lebih tua daripada usiaku.

Saya teringat pelajaran tukang parkir yang disampaikan oleh Aa Gym, bagaimana bagus dan banyaknya kendaraan yang berada di lahan parkir tetap tidak membuat si tukang parkir menjadi sombong, apalagi rasa kehilangan apabila kendaraan itu semua diambil oleh pemiliknya. Rasa memiliki si tukang parkir diwujudkan dalam menjaga kendaraan yang diparkir supaya tetap aman dan pemilik kendaraan merasa nyaman. Dan dari sisi kendaraan itu sendiri, kadang-kadang ia parkir di suatu tempat, kemudian berpindah ke tempat lain.

Begitulah hidup hanya seperti parkir, kadang berada di sini kadang berada di sana. Dan begitu juga si tukang parkir, hidup yang dijalani hanyalah untuk memelihara amanah yang dititipkan kepadanya.

Bagi pak Mahmudin, tokoh yang saya ceritakan di atas, tugasnya sebagai penjaga parkir sudah harus selesai per tanggal 25 Januari 07 kemarin walau usianya baru 47 tahun dan beliau kini tidak perlu lagi memusingkan permasalahan hidup yang dihadapinya. Tetapi bagi saya, dengan selesainya tugas beliau sapaan ramah dan obrolan singkat di pelataran parkir tak akan lagi ada. Pertama kalinya saya sowan ke rumahnya kemarin adalah untuk mengantarkan beliau kepada tempat istirahatnya yang terakhir.

Selamat jalan pak Mahmudin, hidup memang hanya seperti parkir.

[lesson on 26012007]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: