semua gak mau macet! (2)

petrol4.gif 

kemacetan di jakarta dan kota-kota besar lainnya adalah keniscayaan bagi negara berkembang. perlu kesabaran dan ketekunan dalam mengatasinya. dan terlebih lagi, perlu dukungan dari masyarakat kota tersebut untuk bekerja sama menyelesaikan masalah dengan arif bijak, bukan dengan menentang kebijakan pemkot.

tetapi kita tidak bisa bilang kemacetan hanya menjadi tanggung jawab pemkot. perlu penyelesaian lebih global melalui kacamata pemerintah pusat. kalau saja para wakil rakyat itu banyak berkoar solusi yang aneh-aneh. saya yang cuma anggota masyarakat punya sebuah solusi: kebijakan BBM.

BBM adalah darah bagi kendaraan dan industri, kebijakan BBM yang bersubsidi jelas tidak membuat masyarakat lebih arif menyikapi kenaikan harga minyak dunia. buktinya mereka tetap adem ayem meluncurkan mobil di jalan-jalan kota besar yang sarat kemacetan untuk arisan membuang energi besar-besaran.

dalam Republik Mimpi, dikatakan bahwa menaikkan harga BBM menyebabkan peningkatan kemelaratan 100 juta penduduk. Ya jelas kalau itu dipukul rata. seharusnya kebijakan BBM bersubsidi harus lebih mengena.

Subsidi BBM jika diterapkan hanya untuk industri, kendaraan umum, kota-kota kecil, daerah terpencil akan memberi jawaban yang pasti akan mengurangi kemacetan secara drastis. Karena masyarakat akan memilih penggunaan transportasi umum daripada pribadi. Bayangkan jika sebuah mobil yang dapat diisi 8-10 orang hanya ditumpangi seorang saja, sedangkan sebuah bus dapat diisi 60-80 orang, atau sebuah gerbong kereta dapat diisi hingga 100 orang.

Cukup tinjau ulang subsidi BBM, insya Allah kemacetan teratasi, masyarakat akan lebih bijak menggunakan kendaraan pribadi dan memilih transportasi umum untuk bepergian. kemudian tugas pemerintah selanjutnya adalah membuat kebijakan transportasi massa yang aman dan nyaman 🙂

bacaan sebelumnya

One Response to semua gak mau macet! (2)

  1. […] pembatasan subsidi BBM baru 3 bulan yang lalu saya tulis jurnal mengenai kebijakan BBM (baca di sini), harian media indonesia pada 11 februari 2008 mengangkat judul editorial “Beban Rakyat Pada […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: