kasus bullying dan pemberitaan lebay

(belajar dari kasus geng di sman 34) 

sejak kasus sman 34 jadi headline kompas minggu 11 november 2007 lalu, milis-milis dan forum online yang dikelola oleh alumni dan siswa sman 34 ramai dengan thread diskusi. ada yang bertanya-tanya, ada yang mengecam, dan ada yang mencoba mengurai permasalahan, ada yang mencoba mengklarifikasi, bahkan ada yang bersaksi mengenai kejadian sebenarnya berdasarkan apa yang diketahui. tentu saja hal itu bermanfaat bagi keluarga alumni sman 34 karena mendapat informasi yang lebih valid daripada informasi berlebih-lebihan yang terdapat di media massa.

terus terang, pemberitaan “lebay” (baca: berlebih-lebihan) oleh media massa lebih sering berasal dari pihak “korban”, namun sedikit sekali yang berasal dari pihak “pelaku” atau counter part-nya. pemberitaan tidak seimbang akan membuat opini yang tidak sehat dan cenderung pointing finger kepada tersangka. padahal belum tentu semua yang diungkapkan oleh “korban” adalah kenyataan di lapangan. karena “korban” sendiri secara sadar lebih tepat menjadi korban dari persepsi dirinya sendiri atau pelapor (yang notabene adalah ayah “korban”).

ayah mana yang tak tergerak untuk melaporkan kepada pihak berwajib apabila menemukan keganjilan pada anaknya? tentu saja ini wajar. namun jika harus menjadi berita nasional yang dampaknya memperburuk citra sekolah, walaupun pada awalnya “hanya” berniat mengungkapkan adanya “geng” dan “kenakalan” remaja siswa sman 34 (dimana anaknya bersekolah), tentu saja ini menjadi berlebihan. apalagi dengan kelakuan aneh para pencari warta, yang pengen denger sendiri kesaksian “korban” akhirnya malah menjadi bumbu penyedap yang bikin gerah para alumni sman 34.

akhirnya ada beberapa alumni sman 34 menjadi informan para pencari warta, dengan maksud bermacam-macam. tentu saja “kepedulian” seperti ini diperlukan untuk mengembalikan citra positif sman 34. namun bukan aneh apabila ada saja oportunis yang justru memperburuk keadaan dengan membongkar kisah yang seharusnya hanya jadi “rahasia keluarga”. tanpa sadar pemberitaan yang semakin heboh ini menjadi perbincangan berbagai kalangan yang lebih luas, memperburuk keadaan dan tentu saja akan menguatkan eksistensi kepopuleran “korban” dan ayahnya.

dengar-dengar, gubernur dki akan makan es campur (baca: mendukung) “pembasmian” geng yang ada di sman 34 itu. waduh! benar-benar “lebay” !!!

apakah pak gubernur yang terhormat sudah selesai dengan program 100 hari mengatasi kemacetan dan banjir?

lalu apa langkah selanjutnya untuk kasus ini?
perilaku “kriminal” para tersangka memang patut ditindak secara hukum, namun asas peradilan yang berimbang harus mendampingkan para tersangka dengan bantuan hukum supaya mereka mendapat keadilan dari “fitnah” (baca: bumbu-bumbu berita) yang disebarkan media.

perlu ketegasan dari pihak sekolah mengenai sikap mereka menghadapi kasus semacam ini. sudah seharusnya pihak sekolah membangun kembali komunikasi yang baik dengan siswa. terus terang, munculnya geng dan kelakuan aneh siswa dapat saja dipicu oleh kebijakan sekolah yang menuntut teralalu banyak dari siswa, sedangkan potensi siswa sebenarnya tidak diapresiasi dengan baik oleh sekolah.

perlu dukungan lebih baik dari alumni sman 34 yang masih peduli untuk melakukan langkah nyata dalam memperbaiki “kaderisasi” kebaikan kepada para siswa sman 34 dan membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah, bahwa: “ini lho, para alumni berniat baik dan mendukung sekolah”.

perlu kebijaksanaan para orang tua siswa untuk melihat permasalahan lebih komprehen. bangun komunikasi yang positif dengan anak-anak mereka, sehingga tidak perlu “menunggu” tiga bulan untuk mengendus “keganjilan” perilaku anaknya. tindakan represif ortu kepada anaknya dapat menjadi sikap bullying, karena memaksa anak menuruti kehendak ortu. padahal secara fisik dan kejiwaan, usia sma sudah bukan anak-anak lagi, tetapi orang dewasa yang memiliki pemikiran dan pilihan sendiri. di sinilah peran ortu untuk mengarahkan, bukan memaksakan, supaya perjalanan hidup anaknya lebih mengarah positif dan bermakna.

terakhir, perlunya menghentikan ulah para pencari warta dalam membesarkan kasus internal keluarga sman 34 ini. karena ulah mereka sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan, justru memperburuk keadaan. serahkan saja kepada pihak-pihak yang “bertikai” untuk berdamai. toh mereka bukan selebriti, selebriti seperti Roy Marten saja butuh privasi apalagi para pelaku kasus ini?

ah, tulisan ini hanya segelintir pemikiran dari seorang alumni sman 34.
[andi]

9 Balasan ke kasus bullying dan pemberitaan lebay

  1. Dr MANDANG MICHAEL mengatakan:

    Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

  2. […] nyangka tulisan tentang bullying menjadi tren lagi di statistik blog ini setelah kejadian di SMA Don Bosco pada pekan lalu. Berita […]

  3. meita mengatakan:

    Assalam…

    Saya alumni SMA 34. Lulus tahun 1984, lalu kuliah di FISIP UI.
    Ada pejabat Diknas yang mengatakan bahwa Bullying sudah kulturnya SMA tersebut. Maaf saja, komentar tersebut salah, kami juga prihatin dengan kasus tersebut. tapi jaman kami dahulu tidak ada Bullying. Kami sagat akrab dan saling mendukung satu sama lain.. bahkan hingga kini silaturahim tetap terjalin. Kami (tetap) bangga dengan SMA 34, karena melalui sekolah tersebut kami bisa menapaki hari-hari kami dengan gemilang. Alhamdulillah..

    Terima kasih ya..

    meitasari@gmail.com

    http://www.meitasari.blogs.friendster.com
    http://www.alumnisma34.blogspot.com
    http://www.intasari.blogs.friendster.com

  4. andi mengatakan:

    saudara dita, andi mengajak kamu membaca kembali tulisan andi, adakah andi menyetujui adanya bullying di sekolah? kalau kamu baca dengan seksama, justru andi memberi solusi sederhana yang jitu (namun implementasinya butuh kesungguhan) terhadap kasus tsb.

    dalam organisasi saja anak yang baru gabung kena orientasi dan kadang-kadang ada sedikit kadar bullying di dalamnya🙂 namun bukan itu yang jadi concern kita. komunikasi yang baik dan penyadaran yang mendidik adalah lebih utama daripada memberi cap kriminal bagi anak baru gede.

    bagaimana masa depan mereka kemudian? apakah kita tidak menyadari bahwa dulu pernah ada “kenakalan” yg kita lakukan ketika masih SMA?

    masalah keroyokan atau tidak, tentu harus ditelusuri lebih lanjut, dan itu wewenang penegak hukum untuk mengusutnya. namun biasanya kalau hasilnya tidak menggembirakan bagi pers maka hasil tsb tidak akan ditayangkan oleh media🙂
    gak menjual …

    mental anak dibentuk dari lingkungannya. kalau lingkungannya adalah lingkungan yang suka menyalahkan (bukan memperbaiki atau mencari solusi) si anak akan semakin menjadi dan bahkan selalu menyalahkan orang lain, berprasangka buruk, dan mudah menghakimi orang lain tanpa melakukan cek dan ricek🙂

  5. dita mengatakan:

    jadi saudara setuju dengan adanya bullying di sekolah ya??? saya lihat, sah2 aja kalo org tua si korban akhirnya melapor ke polisi karena anaknya menjadi korban bullying. orang tua mana yang diem aja kalo anaknya disakitin. berantas aja geng2 gak bener di sekolah. anak tuh harusnya belajar, ikut organisasi (osis, paskibra) yg BERMANFAAT. bukan dengan gebukin temennya. apalagi keroyokan. mau jadi apa bangsa kita kalo selalu diisi dengan kekerasan. pihak sekolah harus jeli dengan fenomena ini yang kayaknya udah banyak di sekolah2. jangan salahin pihak sekolah juga, mang bisa apa semua anak di awasin. harus kembali lagi ke mental tuh anak.

  6. ully mengatakan:

    emang ada apa sih di 34? …aduh…ketinggalan berita nih!^_^, jadi gak nyambung

  7. roni mengatakan:

    bagus neh.. artikelnya.. gmn klo artikel ini bisa dimuat di koran pak?

    yah paling ga ada opini yang lain yang ga memojokkan pihak tertentu terus..

    sehingga publik juga bisa mengerti, dan dibuka wawasannya juga…

    ada informasi yang berimbang pula….

    eniwei.. gw jg alumni 34 angkt.2000, GAZPER juga…

  8. andi mengatakan:

    heri, blog ini portalnya keluarga kami, materi tarbiyah, kalau yang kamu maksud adalah artikel keislaman silakan buka jendela surau sedangkan jika kamu ingin baca materi pengajian yang lebih mendalam silakan rujuk ke Asy Syariah

    mohon maaf kalau belum memenuhi harapan kamu, kami pun sedang berkembang. mari saling mendoakan dalam kebaikan.

  9. Heri MC mengatakan:

    jujur bingung pertama kali buka bloq ini..:( tapi materi tarbiyahnya mana yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: