tentang spiritualisme

14 Januari, 2008

sejak awal munculnya neo spiritualisme seperti SQ, ESQ, Quantum bla-bla-bla, saya justru merasa semua itu tidak sesuai fitrah dan bahkan mengaburkan makna islam dari sumbernya sendiri, ibarat kita mencari mata air tetapi yang ditawarkan kepada kita adalah air mineral berkemasan. tentu saja dikemas secara ekonomis dan komersial, sehingga untuk khusyuk dalam shalat saja harus bayar sekian juta rupiah dengan dalih investasi. padahal Rasulullah saw dan para pendakwah di jalan yang sahih tidak pernah meminta upah apapun dengan dalih apapun kecuali dari Allah berupa surga dan kenikmatannya.

neospiritualisme hanya cocok bagi mereka yang sudah jauh dari sumber ilahiah, dan hal itu pun patut dicatat hanya sebagai langkah pertama menemukan mata air. bagi muslim yang sudah berada di tengah segara justru harus semakin dalam menyelam memanen mutiara keimanan, bukannya kembali mentah lagi ke asal mula pencarian.

seharusnya sebagai muslim yang memiliki warisan yang berharga (alquran dan assunnah) tidak perlu mencari-cari bentuk lain pengembaraan spiritual karena sudah terpampang jelas pada warisan tersebut cara yang mudah dalam menemukan kedamaian di hati, di kehidupan dunia maupun akhirat.


kembalinya si uang hilang

14 Januari, 2008

penggunaan emas dan perak dalam perekonomian sudah setua peradaban manusia di dunia dan dengan memilikinya dapat menunjukkan derajat kekayaan bagi seseorang atau suatu negara. di masa yang tak menentu seperti saat sekarang, memiliki uang kertas yang bejibun tak dapat menyelamatkan lagi karena nilainya selalu turun, sehingga investasi seakan ditelan inflasi. di antara kegelisahan itu muncul kembali semangat memiliki emas sebagai bentuk investasi yang tak lekang dimakan zaman.

jika dahulu emas batangan berkilo-kilo, sekarang bergram-gram (karena harga yang kiloan sulit dijangkau oleh pemodal pas-pasan), jika dahulu beli perhiasan emas, sekarang melirik batangan atau koin (karena nilai jualnya lebih tinggi daripada perhiasan). dan dimulai dari kalangan sufi ortodoks seperti gerakan Murabitun, penggunaan dinar dan dirham merebak ke seluruh lapisan masyarakat muslim yang menyadari perlunya kebangkitan ekonomi yang sesuai dengan fitrah manusia.

lepas dari siapa yang memulai lagi sosialisasi dinar emas dan dirham perak, geliat untuk mengembalikan “si uang hilang” ke dalam kancah perekonomian dunia patut disambut dengan gembira dan tanpa ragu-ragu.

bacaan lebih lanjut di


ketika tanda verboden kehilangan makna

9 Januari, 2008

tanda verboden adalah salah satu rambu lalu lintas yang berbentuk lingkaran yang dicat warna merah dengan strip putih horizontal di tengahnya yang bermakna: dilarang masuk.

penempatan tanda ini pada jalur lalu lintas dapat dimaksudkan untuk memilah kendaraan mana saja yang boleh atau tidak boleh melalui jalur tersebut. tanda ini juga dapat ditempatkan pada pintu-pintu ruang atau akses masuk suatu tempat supaya tidak dapat dimasuki atau dilalui orang maupun kendaraan.

pada setiap persimpangan jalur busway dengan jalur umum akan mudah ditemui tanda ini terpasang di mulut jalur ditambah dua kata: KECUALI BUSWAY. itu berarti yang boleh melaju di atas jalur busway hanyalah bus transjakarta busway. namun ketika ada spanduk putih milik polisi terpasang bertuliskan: “sepeda motor dilarang masuk jalur busway” ambruklah semua tiang tanda verboden itu karena apabila hanya sepeda motor yang tidak boleh memasuki jalur busway, membuka peluang bagi kendaraan umum lainnya dan mobil pribadi untuk menyumbang kemacetan di jalur busway padahal niatnya pak gubernur terdahulu mengurangi kemacetan dengan membangun busway.


mengapa tidak dengan tahun baru hijrah?

9 Januari, 2008

ketika sebagian orang menghabiskan harta di malam tahun baru masehi dan tahun baru umat agama lain dengan berbagai macam acara dan perayaan, mengapa tidak dengan tahun baru hijrah?

ketika sebagian umat meributkan penentuan awal ramadhan, awal syawwal dan awal dzulhijjah, mengapa tidak dengan awal tahun baru hijrah?

karena tahun baru hijrah bukanlah salah satu dari dua hari raya umat islam (‘idul fitri dan ‘idul adha), sehingga tidak memerlukan hiruk pikuk dan kerepotan semacam di atas untuk memeringatinya. toh bagi umat islam, setiap hari adalah hari yang baru, rekreasi yang baru, kehidupan yang baru, tambahan pahala yang baru, pertobatan yang baru. dan karena bagi muslim setiap hari serba baru sebenarnya tidak diperlukan peringatan tahun baru 🙂


dongeng migas: pengantar 4

9 Januari, 2008

[lanjutan]

satu-satunya cara untuk memastikan apakah suatu jebakan berisi sejumlah komersil minyak dan gas adalah dengan cara membor sumur. sebuah sumur dibor untuk mencari lapangan migas baru dan dijuluki sumur wildcat. kebanyakan sumur wildcat adalah kering tanpa temuan migas yang komersil. sumur dibor dengan menggunakan menara pemboran yang disebut rig. rangkaian pipa bor untuk membuat sumur dapat mencapai ribuan kaki panjangnya dengan sebuah pahat di ujungnya. dengan memutar rangakain pipa di permukaan, pahat di dasar akan berputar membuat lubang.

semakin dalam sumur dibor, semakin banyak pipa bor yang dibutuhkan. tenaga untuk menggerakkan peralatan bor ini disediakan oleh mesin diesel. menara baja di atas sumur yang disebut derrick digunakan untuk menaikkan dan menurunkan pipa. lubang sumur yang dibor dapat berupa lubang yang lurus maupun lubang yang miring dengan kemiringan sudut tertentu.

sistem yang paling penting di rig adalah sistem sirkulasi lumpur pemboran. lumpur pemboran dipompakan ke dalam pipa bor yang akan disemprotkan keluar melalui nozzle pada pahat dan kembali ke permukaan melalui ruang antara pipa dan lubang. lumpur pemboran akan mengangkat potongan-potongan batu yang dibuat oleh pahat (disebut cuttings) ke permukaan. hal ini mencegah penumpukan serbuk bor di dasar lubang. selama pemboran, lubang sumur selalu penuh terisi lumpur pemboran untuk mencegah mengalirnya fluida seperti air, gas atau minyak dari batuan bawah tanah ke lubang sumur. jika minyak atau gas dapat mengalir ke permukaan saat pemboran, akan menyebabkan kebakaran. bahkan jika hanya air yang mengalir saja dapat menggugurkan lubang dan membuat kita kehilangan sumur. dengan adanya lumpur pemboran, fluida ini tertahan berada di dalam batuan.  pemboran sumur di lepas pantai hampir sama dengan pemboran di daratan. untuk sumur wildcat di lepas pantai, rig dinaikkan di atas barge, anjungan (platform) terapung, atau kapal yang dapat berpindah. apabila lapangan lepas pantai sudah ditentukan, anjungan (platform) produksi akan dipasang untuk membor sumur-sumur lainnya dan memroduksi migas.

karena lumpur pemboran menjaga agar migas tetap berada di dalam batuan, cadangan migas bawah tanah pun dapat dibor tanpa mengindikasikan adanya migas, sehingga diperlukan evaluasi sumur dengan cara menurunkan peralatan rekam wireline. truk alat rekam dipanggil, menurunkan tabung berisi instrumen yang disebut sonde ke dalam lubang sumur. ketika sonde diangkat keluar lubang, instrumen akan merekam secara elektrik, suara dan radioaktif sifat-sifat batuan dan fluida yang dilaluinya. pengukuran ini direkam pada kertas panjang bergaris yang disebut well log. well log ini memberi informasi tentang komposisi lapisan batuan, pori-pori, dan fluida yang mungkin ada di dalamnya.

dari hasil pembacaan well log, sumur dapat saja ditutup dan ditinggalkan sebagai sumur kering atau diselesaikan untuk diproduksikan. pemasangan pipa produksi adalah cara awal menyelesaikan sumur. untuk memasang pipa, pipa baja panjang yang bergaris tengah besar (disebut selubung atau casing) dimasukkan ke dalam sumur. semen basah dipompakan ke dalam ruang antara casing dan dinding sumur hingga mengeras untuk menjaga lubang sumur. pada kebanyakan sumur, pemasangan casing bertahap yang disebut casing program dilakukan sebagai berikut: bor sumur, pasang casing, bor lebih dalam, pasang casing lagi, bor lebih dalam lagi, dan pasang casing lagi.

[bersambung]

 sumber: Nontechnical Guide to Petroleum Geology, Exploration, Drilling, and Production, 2nd Edition, Norman J. Hyne, Ph.D., Pennwell 2001


“susah diterka”

9 Januari, 2008

“susah diterka”: tulisan yang ditempel di kaca jendela belakang kopaja 602 jurusan ragunan-tanah abang itu terbaca olehku yang sedang menunggu bus transjakarta di halte busway departemen pertanian. pagi yang mengacaukan bagiku, karena bangun kesiangan, karena macet di jalan kahfi dan cilandak kko, ditambah menunggu di halte yang sesak oleh calon penumpang yang sama-sama kesiangan.

kopaja 602 itu adalah kopaja kedua yang melintas sejak aku mulai berdiri di halte pagi ini. alhamdulillah, bus yang kunantikan datang, dan kosong (atau sengaja dikosongkan untuk menjemput penumpang). segera saja calon penumpang berebutan masuk dan dorong mendorong untuk mendapat bangku, tak pedulikan lagi tanda himbauan yang ditempel: utamakan wanita hamil, orangtua, orang cacat.

pilihanku naik busway koridor enam ini adalah waktu tempuh yang cepat dibandingkan jika aku menumpang kopaja 602 atau kopaja p20 untuk mencapai kantorku di bilangan kuningan-gatsu. tetapi kondisi di jalanan memang susah diterka: seperti tulisan yang ditempel di jendela belakang kopaja 602 yang kubaca tadi. jika polisi benar-benar menjalankan tugasnya, tak satupun kendaraan umum maupun pribadi yang boleh melalui jalur busway, dan hanya 20 menit saja aku berada di dalam bus transjakarta yang sesak itu. namun ketika polisi sudah kewalahan menghadapi kemacetan, sebagaimana pak gubernur dki yang baru pusing dengan kemacetan di jakarta: mereka hanya berpayah-payah mengatur kendaraan yang berbalik arah tanpa sempat mengalihkan arus yang hendak masuk ke jalur busway. kalau sudah begini butuh 3 hingga 5 kali 20 menit supaya aku dapat turun di halte busway kuningan timur.

dalam gerutu yang meradang, melihat mobil-mobil berpenumpang kurang dari 2 orang menyerobot sehingga membuat jalur busway ikut merasakan kemacetan (padahal bukan itu tujuan diadakannya busway), terbaca lagi olehku tulisan “susah diterka”. Aduhai! beberapa saat lalu, kopaja itu tertinggal jauh di belakang karena menanti penumpang dan sekarang berada di samping bus yang kutumpangi?


%d blogger menyukai ini: