berartinya kawan

29 Februari, 2008

Apalah artinya kawan… mungkin tak banyak di antara kita yang merasakan betapa berartinya kawan. Banyak macam kawan yang dapat kita jalin dalam kehidupan kita, namun berapa banyak kawan berkualitas yang dapat langgeng sampai akhir hayat? Ah terlalu jauh… tetapi ada pelajaran yang dapat kupetik tentang makna kawan dalam perjalananku kali ini.

“hei, gw di surabaya nih, dinner yuk! Ajak keluargamu sekalian ya!” begitu pesan smsku. Berhubung ada beberapa kawan, kuset tiap malam dinner dengan kawan yang berbeda, supaya bisa ngobrol lebih intens sekaligus melepas kangen dengan cara yang berbeda pula.

Tak dinyana, mereka respon luar biasa. Dinner pertama dengan budi-mega, mereka datang di saat gerimis dengan sepeda motor. Surabaya di waktu sore beberapa hari ini selalu disiram hujan. Mereka mengajakku makan “penyet-penyetan” bu Kris yang terkenal dengan sambalnya yang aduhai pedasnya. Mengantarku beli rujak cingur pesanan teman kantor di plasa surabaya. Ngobrol beberapa hal dan kembali ke hotel. Kuajak ngobrol lanjutan di kafe hotel, tetapi sayangnya mereka punya keperluan lain.

Dinner kedua dengan yudis-citra, di saat gerimis juga, tapi kami janjian di tunjungan plaza, pesan hotplate, sambil ngobrol banyak hal, seperti dulu di kantin teknik yang bisa habis semalaman buat ngobrol. Sadar meja-meja foodcourt mulai dibereskan, kami pun menyingkir dan melanjutkan obrolan sampai ke dalam taxi. Sayang juga esok hari kerja, sehingga menghalangi kami mengobrol lebih jauh.

Tak ada yang kurang dari pertemuan dengan mereka, apalagi dinner gratis  maunya sih aku yang mbayari tapi mereka bersikeras. Hal yang serupa kudapatkan ketika aku ke balikpapan dan dinner bareng hosna-rani makan di pinggir pantai. Berangkat gelap-gelapan karena rumah kontrakan mereka mati lampu. Sampai malam menikmati roti cannai dan desiran angin pantai. Atau di saat liburan kuliah dulu main ke bandung mengganggu doni yang masih berkutat dengan ujian semester, tetapi sempat ngajak main dan makan keluar sarangnya di asrama masjid salman. Atau dengan mas agung yang rela jemput tengah malam karena baru pulang dari gresik untuk mengajakku makan rawon setan dan keliling surabaya dengan sedannya. Atau dengan asim yang menjamu dan mengenalkanku kehidupan londoners ketika mampir di london, begitupun dengan jacky yang membantuku mengenali calgary.

Kesemua kawanku itu menjamuku begitu istimewa dengan cara mereka masing-masing. Bukan jamuan bisnis yang penuh pamrih, tetapi jamuan persaudaraan yang penuh cinta. Tak satupun yang mau menerima balasanku secara spontan saat itu. Tak hanya dinner gratis yang kudapat, diskusi, wacana, hikmah dan charging atas jiwa juga kudapat dari mereka. Kurasakan betapa berartinya mereka dalam sekilas kehidupanku.

Sejenak menerawang kepada perlakuanku kepada janji-janji pertemuan dengan kawan-kawan di jakarta. Semua hal bisa jadi apologiku untuk tidak datang: hujan gerimis, kemacetan, urusan kantor, dsb. Aku jadi malu dengan diriku sendiri. Perlakuan kawan-kawan terhadapku telah menampar pipiku keras sekali hingga membelalakkan mata bahwa kawan sejati bukan hanya ada di saat kita senang, justru di saat kita membutuhkan, dan mereka tidak berharap pamrih atas apa yang mereka berikan.

Terima kasih kawan-kawanku, i love you all! Juga kepada kawan hidupku yang mendampingi dan mencintaiku sepenuh cinta yang diajarkan Tuhan kepadanya, may Allah always love you more than your love to me 

[nd, 28022008]

Iklan

nalar tak sampai

16 Februari, 2008

“waduh, itu angkot motong jalan bikin macet aja sih”
“mas, ingat cerita tentang sopir angkot ketika mas jemput de, kita gak ketemu itu?”
“yang menjalankan angkotnya lambat sekali hingga mas pulang de belum sampai juga, itu? memangya mengapa?”
“iya, dia kan cerita ke temannya yang duduk di depan bahwa pernah ditilang polisi gara-gara motong jalur untuk menghindari macet.”
“bagaimana ceritanya?”
“jadi di jalur yang seharusnya dia lalui sedang macet, kemudian dia masuk ke perkampungan yang bukan jalurnya supaya bisa mem-bypass di depan antrian macet. trus kan dia diikuti oleh kendaraan lain. nah pada saat di pintu gang itu dia dicegat polisi dan awalnya disuruh balik, tetapi akhirnya ditilang polisi.”
“trus…”
“iya, dia bilang polisi depok terlalu ketat tidak seperti di jakarta, bypass jalur saja ditilang, dia merasa dengan mem-bypass jalur itu membantu polisi supaya tidak macet.”
“hehehe… mungkin nalarnya tak sampai, de”
“iya, bukankah gara-gara ulahnya itu malah menambah kemacetan baru? di mana membantu tidak macetnya? belum lagi saat mengantar de pulang itu dia lambat sekali membawa angkotnya. dia bilang ke kawannya kalau sedang sepi penumpang lebih baik lambat-lambat toh kemungkinan penumpang tambahan sedikit. apakah dia tidak berpikir penumpang angkotnya saat itu ingin buru-buru sampai ke tujuan?”
“maklumlah, tak semua orang nalarnya sampai ke sana de. sama dengan kebijakan pemerintah begini begitu, sudah ditentang sana-sini. bukankah lebih baik kita berprasangka baik bahwa pemerintah sudah berupaya sesuai kemampuan mereka mengatur negara?”
“iya, padahal berprasangka baik itu kan gak ada ruginya, kok kebanyakan kita seperti sopir angkot yang mikirin diri sendiri aja?”
“begitulah kalau nalar kita tak sampai, selalu mempermasalahkan yang di luar kemampuan kita.”
“adapun oknum pemerintah juga sering nyusahin rakyat, ngurusin perutnya sendiri bagaimana.”
“mas kira, cukup mengasihani mereka, nalarnya gak sampai :D”


freestyle raka

16 Februari, 2008

freestyle glider, jadi salah satu mainan favorit raka sekarang…. awalnya sih khawatir, tetapi melihat dia sudah meneguhkan pijakan dan pegangannya untuk berayun, kami cukup mengawasi dalam jangkauan saja.

ayunan kakinya makin heboh mengikuti irama lagu ricky martin yang diputar, kemudian ia turun dari glider, menggoyangkan tangan, kaki, dan seluruh tubuhnya, memutar badan, dan menari hingga lagu habis.


semua jadi macet :p

15 Februari, 2008

ternyata tidak ada perubahan yang signifikan selama 3 bulan di jalur busway (baca posting 3 bulan lalu di sini). semua koridor kecuali koridor I, bebas dari lancar alias macet selalu.

menjadi polantas atau dishub yang ditugaskan di jalanan tentu sangat pusing dengan kelakuan pengguna jalan yang menyerobot jalur busway. terpaksalah mereka mengatur supaya jalanan tetap lancar dengan mengorbankan penumpang bus transjakarta. bayangkan saja mereka harus berkutat dengan becek dan hujan kadang-kadang panas terik, sementara para pemakai kendaraan pribadi asyik menggerutu dalam belaian AC tanpa perlu kepanasan atau kehujanan.

yang perlu jadi perhatian adalah kemana moral para pengendara mobil pribadi yang menyerobot jalur busway? pengennya sih gak mau macet dengan masuk jalur busway. tetapi ulah mereka malah membuat macet jalur busway. mengapa jalur busway bisa lebih macet daripada jalur biasa? karena jalur busway hanya menyediakan satu lajur, sedangkan jalur biasa lebih dari dua lajur. selain itu jalur busway dibatasi oleh separator sehingga menyulitkan pengguna melakukan manuver salip menyalip yang sangat mudah dilakukan di jalur biasa.

apakah para penyerobot jalur busway itu tidak menyadari bahwa mereka telah bersalah berlipat-lipat? pertama, menyerobot jalur busway adalah pelanggaran karena ada tanda verboden dengan tulisan “kecuali busway”. kedua, menyerobot membuat macet jalur busway sehingga bus transjakarta tidak bisa mengantar penumpangnya secara cepat sesuai harapan mereka. ketiga, menyerobot adalah mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum dan ini merupakan kesalahan. keempat, para penumpang busway menggerutu dan menyumpahserapahi ulah para penyerobot, membuat orang kesal adalah sebuah kesalahan. kelima, para penyerobot berpikir akan lancar tetapi malah membuat macet, ini jelas kesalahan strategi :p.

siapa lagi yang mau menambahi daftar kesalahan?


mengomentari pembatasan subsidi BBM

13 Februari, 2008

baru 3 bulan yang lalu saya tulis jurnal mengenai kebijakan BBM (baca di sini), harian media indonesia pada 11 februari 2008 mengangkat judul editorial “Beban Rakyat Pada BBM Nonsubsidi”. Jelas sekali pada editorial tersebut, khas media indonesia, selalu mengritik kebijakan pemerintah 🙂

memang benar bahwa pemerintah saat ini banyak keliru menerapkan strategi ekonomi secara menyeluruh. seperti benang kusut, akan lama menelusuri ujung dan pangkal supaya semua permasalahan ditangani dengan baik. tetapi tuntutan rakyat meminta pemerintah cepat menyelesaikan permasalahan, sehingga belum selesai satu masalah, muncul masalah yang lain.

lemahnya pemerintah kita dalam mengendalikan ekonomi negara juga lebih banyak ditunjang oleh perilaku para pelaku ekonomi kita yang maunya gampang dan susah diatur. akhirnya pemerintah terburu-buru mengambil kebijakan yang tidak efektif. mau tidak mau kita harus mengakui kekurangan pemerintah tersebut, dan berupaya memberikan jalan yang terbaik buat pemerintah. bukan hanya mengritisi kebijakan pemerintah, tetapi turut serta mendukung kebijakan yang sudah ditetapkan sambil memberi masukan untuk perbaikan.

dalam tulisan saya sebelumnya, saya mendukung kebijakan subsidi BBM diterapkan secara benar dan tepat sasaran. insya Allah jika diterapkan dengan benar kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ini akan menyelesaikan beberapa masalah sekaligus dan bersifat adil. subsidi hanya bagi industri dan fasilitas umum, sedangkan fasilitas pribadi tidak perlu disubsidi. diharapkan penghematan sebesar Rp20 triliun dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas umum.

secara gampangnya, tidak akan ada lagi pemborosan energi secara massal oleh karena kemacetan di jalan-jalan kota besar, karena hanya yang mampu membeli bbm nonsubsidi saja yang akan menjalankan kendaraan pribadi, selebihnya akan menggunakan kendaraan umum 🙂

setelah kebijakan ini diterapkan, pemerintah dapat melanjutkan dengan langkah-langkah lain misalnya yang diusulkan oleh editor media indonesia yaitu menekan pemborosan dalam cost recovery bidang migas yang sejauh ini terus diupayakan (bukan dibiarkan), atau memperbaiki teknologi kilang kita agar efisien sehingga menekan impor BBM (kalau yang satu ini butuh evaluasi lebih lanjut), serta membangun kerja sama dengan negara-negara yang jauh lebih menguntungkan dalam pemenuhan dan investasi bidang energi (hmm… dominasi negara maju masih menguasai bidang ini dibanding negara-negara yang dianggap menguntungkan).

apapun keputusan pemerintah, ada baiknya kita hargai dan kita dukung karena sudah saatnya kebiasaan buruk beberapa kalangan yang selalu merongrong kebijakan pemerintah tanpa solusi jitu diakhiri 🙂

note: satu lagi yang saya kurang suka dari media indonesia yaitu menampilkan sedikit sekali komentar yang mendukung kebijakan pemerintah daripada komentar yang mencela atau menolaknya :p


kemana saja sih?

13 Februari, 2008

kembali lagi ke multiply… ternyata sudah cukup lama kami tinggalkan teman-teman tanpa kabar terbaru dari kami 🙂

sebenarnya bukan tidak mau menuliskan dan berbagi pengalaman dengan teman-teman, tetapi terlalu banyak alasan yang dapat kami buat daripada sekedar minta maaf karena ketidakhadiran kami di kancah multiply untuk sekian lama…anyhow… melanjutkan roda gerobak kehidupan kami seringkali membuat kami tak sempat lagi menuliskan jurnal setiap waktu.

saat ini, raka sudah melalui 21 bulan usia dan sudah pandai merangkai kata menjadi kalimat tidak sempurna namun dapat dipahami. membaca adalah kegemarannya selain bermain. pengayaan emosional diperolehnya pada setiap kelakuan nakalnya, omelan bubunya, permaafan babanya, sehingga secara sportif ia mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan cara yang membuat kami makin sayang kepadanya: mencium tangan, memeluk dan bermanja 🙂

bubunya raka belajar menjahit, dan belajar mengatur emosi serta mempersiapkan diri untuk menjadi ibu dari 2 anak yang cerdas dan aktif 🙂 doakan ya teman-teman…

babanya raka, masih berkutat dengan rutinitas pekerjaan… mencari peluang bersekolah lagi, dan mencoba memantapkan diri berkarier sambil berinvestasi untuk persiapan masa depan keluarga 🙂

salam dari kami buat teman-teman, pengunjung dan pelalu… semoga Allah senantiasa menunjuki kita ke jalan yang diridhai-Nya. amin


menurutmu rumah itu apa sih?

6 Februari, 2008

“mas, banyak orang yang menjadikan rumah cuma sebagai tempat singgah,”

“tempat singgah bagaimana, de?”

“iya, pergi pagi-pagi sekali, pulang malam sekali, di rumah cuma buat makan-tidur-mandi,”

“padahal dia punya keluarga?”

“ya begitu, istri dan anaknya tidak pernah disapa,”

“kasihan sekali ya orang itu,”

“mana sempat buat ngobrol, dunianya seperti tanpa keluarga. belum lagi kalau akhir pekan dia habiskan waktu untuk tidur. atau kalaupun terjaga, biasanya dia gunakan untuk kumpul dengan teman-temannya atau ngurusin pekerjaan yang dibawa ke rumah,”

“kok, istrinya bisa bertahan ya?”

“kemungkinan karena mereka punya anak, dan istrinya itu belum punya penghasilan pribadi,”

“hmm, apakah istrinya tidak pernah obrolin hal itu sama suaminya? entah, minta pengertian lah, atau paling tidak menggunakan waktu liburan di akhir pekan atau hari liburnya untuk bercengkerama dengan keluarga?”

“gak sempat kali, mas.”

home sweet home, its not just a house to stay, its a home to live 🙂


%d blogger menyukai ini: