raka dan si burung bulbul

13 Maret, 2008

rencananya ngajak raka dan bubu nonton wayang si bulbul di erasmus huis. raka senang sekali diceritakan bahwa kami akan menonton wayang si bulbul. berangkatlah kami bertiga habis magrib ke erasmus huis di bilangan kuningan, jakarta selatan. pentas wayang si bulbul dikemas dalam bentuk konser kolaborasi antara ensemble kamar musik belanda (DCME) dengan dalang wayang kulit slamet gundono dan narator sitok srengenge. kemasan ini dibuat oleh komposer belanda Theo Loevendie. kisah si bulbul sendiri mengambil kisah HC Andersen yang bercerita tentang burung bulbul (nightingale) dan kaisar cina.

memasuki erasmus huis, penjaga bertanya apakah raka dapat mengikuti konser dengan baik dan tidak ribut? kami jawab, “ya” karena biasanya jam delapan malam adalah waktu tidur raka sehingga dimungkinkan ia akan tertidur saat konser berjalan. sebelum acara dimulai, dibacakan program dengan urutan penampilan musikal: Kutang, Petualangan Ajaib Baron Von Munchhausen, rehat, Si Bulbul. wayang si bulbul berada pada penampilan terakhir.

selama penampilan musikal Kutang, raka dapat dengan tenang mengikuti musik DCME yang memainkan not-not berantakan karya Slamet Abdul Syukur. Selama sepuluh menit itu kami lega karena raka tidak ribut. namun ketika penampilan kedua hendak dimulai, suara kecil raka terdengar nyaring pada auditorium yang senyap: “pulang”

buru-buru baba membawa raka keluar ruangan dan mengajak bicara supaya raka tidak ribut ketika konser. raka menanyakan bubu yang masih berada di dalam ruangan. karena akan mengganggu jalannya konser jika keluar masuk, baba mengajak raka keluar gedung untuk menikmati appletaart dan segelas air mineral.

baba berpikir bagaimana caranya menidurkan raka yang mulai lelah. diajaklah berjalan-jalan ke taman erasmus huis yang terlihat eksotik di malam hari. tetapi raka tak juga terlelap. akhirnya kami bermain imajinasi tentang ikan-akuarium-laut-terumbu-hiu. permainan yang biasa kami mainkan sejak setahun belakangan teruatama di saat raka mulai memaksakan kehendaknya. biasanya cukup ampuh. rajukan raka mereda, kami menonton televisi berbahasa belanda di ruang tunggu sambil menunggu rehat konser.

saat rehat, bubu bercerita tentang kelucuan dalam petualangan ajaib baron von munchhausen, kemudian kami melihat-lihat pameran foto indonesian dreams di ruang pamer. saat gong dibunyikan tanda waktu rehat berakhir, kami mengajak raka masuk ruangan konser menonton si bulbul, tujuan utama kami malam itu ke erasmus huis.

baru saja duduk, suara kecil raka kembali terdengar nyaring: “pulang”
dengan behave-nya, raka kembali meminta: “ba, pulang”

menghela napas, kami tinggalkan ruangan konser, mungkin lain kali jika raka sudah agak besar, baru bisa menonton konser dengan tenang. pesona raka membuat penjaga erasmus huis gemas. ketika sampai di pintu keluar raka bilang: “ba, hiu, di luar”

ah, rupanya raka teringat permainan imajinasi beberapa saat lalu. kami pun melanjutkan permainan imajinasi itu tentang kapal selam rusia yang membawa kami pulang kembali ke rumah, hingga raka terlelap tidur di pangkuan bubunya…


[nd, 130308]


antara dua tukang ojek

1 Maret, 2008

mengejar waktu rapat di hotel novotel bogor yang terletak di kawasan bogor raya, tak mudah jika menggunakan kendaraan umum sehingga kugunakan ojek dari seberang terminal baranangsiang.

aku sudah lupa berapa biaya ojek ke hotel novotel, karena sudah lama tidak berojek ke sana.
kugunakan saja patokan Rp3 ribu per kilometer mengingat aku sering menggunakan ojek dari
rumahku ke jalur angkot yang berjarak kurang lebih satu kilometer dengan ongkos tiga ribu
rupiah saja. jarak dari pos ojek ke hotel novotel berkisar lima kilometer.

di hari pertama, aku sengaja tidak menanyakan dahulu ojek yang kutumpangi mengenai
ongkosnya. setibanya di tujuan barulah kutanyakan ongkos ojeknya. dijawab olehnya Rp20 ribu. kucoba menawar sepuluh hingga lima belas ribu rupiah, akhirnya tukang ojek itu menerima tiga lembar uang lima ribuanku. ia berlalu hanya dengan senyum canggung.

di hari kedua, perjalanan ojekku diiringi gerimis. aku tak perlu lagi bertanya dan langsung
saja kuberikan Rp15 ribu sesampai di hotel. baru saja kulangkahkan kaki tuk pergi, tukang
ojek itu memanggilku, “Pak”.

“ada apa pak? ongkosnya kurang?”

“tidak pak, justru saya mau bilang terima kasih”

tukang ojek itu pun berlalu meninggalkan aku yang merasa takjub. entah untuk alasan apa
tukang ojek itu berterima kasih, mungkinkah apa yang kuberikan melebihi standar ongkos? atau

aku adalah penumpang pertama sejak pagi ia berjaga di pos ojek? atau hal-hal lain? satu hal
yang kukagumi adalah ia telah melakukan hal yang luar biasa, berbeda dengan tukang ojek yang pertama: berterima kasih.
terima kasih sudah membaca ūüôā

[nd, 22022008]


bila dvd tak berjodoh tv

1 Maret, 2008

raka senang sekali nonton film anak-anak. tetapi raka memilih menonton vcd atau dvd daripada program anak-anak di televisi. alasannya adalah raka tidak suka dengan iklan: mengganggu jalan cerita :p kami memang biasa menonton bersama, tetapi kami juga boleh membiarkan raka menonton sendiri film yang kami pilihkan.

namun jadi masalah baru ketika raka minta diputarkan dvd/vcd film anak-anak. berhubung kami belum punya dvd player, kami gunakan komputer untuk memutarnya. sayangnya raka sering meminta di saat bubu sedang bekerja dengan komputer untuk menyelesaikan pesanan desain rumah.

nah, kebetulan ada penawaran DVD LG dengan potongan 100 ribuan di hypermart, sehingga baba berharap dapat mengatasi persoalan tadi. sesampainya di rumah, kami menayangkan Postman Pat dengan DVD player LG yang baru itu. teman-teman raka yang kebanyakan usia SD ikut menonton sambil bermain ular tangga di evamat raka.

belum ada 3 jam, anak-anak berteriak memanggil baba karena ada asap keluar dari televisi. segera baba mencabut kabel yang terhubung ke stopkontak. untunglah DVD playernya selamat. tetapi entahlah dengan televisinya.

rencananya besok akan baba antar tivinya ke tukang reparasi. begitulah jika dvd tidak berjodoh tv ūüėÄ


%d blogger menyukai ini: