susu kambing, mbeeekkk!

14 April, 2008

sudah sejak lama kami berminat mengonsumsi susu kambing setelah membaca beberapa artikel online maupun offline tentang kelebihan susu kambing. tetapi sepertinya untuk memulai banyak saja hal yang merintangi. sekian waktu berlalu hingga suatu kejadian adik saya harus masuk rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama 6 bulan tak boleh putus karena divonis terjangkit virus TBC.

penelusuran melalui google menghampirkan kami kepada website yang pernah kami kunjungi. pengalaman pasien yang sembuh dari berbagai penyakit paru-paru karena minum susu kambing, dan kisah bahagia lainnya membuat secercah harapan kami untuk membantu adik saya. apalagi setelah mengetahui biaya yang harus dikeluarkan selama pengobatan terbilang besar. sampai miris hati mendengar keluhan dari keluarga pasien lain di tempat adik saya dirawat: “biaya berobatnya aja bikin mati orang gak punya”.

sebenarnya ada program DOTS yang digulirkan WHO bersama pemerintah, pengobatan gratis buat penderita TBC, dan saya juga menyarankan hal itu diambil oleh adik saya. tetapi karena termakan komersialisasi dokter dan upaya menakut-nakuti dengan alasan obatnya banyaklah dan dosisnya rendahlah… taklah jadi adik saya mengikuti program DOTS itu.

berpikir positif bahwa ortu saya mampu membiayai pengobatan adik saya, saya berupaya “meracuni” pikiran mereka tentang alternatif yang lebih baik: konsumsi susu kambing.

kami sekeluarga harus jadi pilotnya, bagaimana membuktikan khasiat susu kambing jika kami sendiri tidak memberi contoh? sejak raka, si dua tahun kami konsumsi susu kambing di usia 18 bulan sebagai pelengkap ASI dan MPASI tubuhnya lebih tahan terhadap penyakit. artinya jarang sekali keluhan alergi dan demam dia alami lagi. bahkan apabila timbul gejala flu dan langsung dihantam susu kambing, flunya segera hilang dan raka tak perlu mengalami demam. saya sendiri sebagai konsumen susu kambing merasakan manfaat yang baik untuk jasmani. istri saya tidak perlu dibelikan susu ibu hamil karena susu kambing mencukupi kebutuhannya.

kami mencoba menyosialisasikan susu kambing kemasan 200 ml seharga enam ribu rupiah itu ke tetangga, beberapa yang positif merasakan manfaatnya terutama bagi balita mereka yang kini lebih sehat. begitu juga yang menderita alergi paru-paru. walau ada beberapa yang negatif, kami menganggap informasi yang mereka terima masih minim.

adik saya, selain mengonsumsi susu kambing juga menyosialisasikan kepada tetangga dan teman-temannya. begitupun ayah saya, juga ibu mertua saya dan adik ipar saya yang pelanggan tetapnya adalah bosnya di kantor. terpaksa modal ditambah buat memperlebar jaringan sosialisasi 😀


sms cinta dari pak gubernur

14 April, 2008

sms dari nomor 0818-0859-8888 itu selalu mampir di hp-ku pada setiap keluhan yang kulayangkan buat pak gubernur dki jakarta. sebagai warga pengguna setia jalur busway, aku sempatkan mengirim keluhan, pujian, ataupun saran dalam penanganan jalur busway. sejak itu pula selalu ada sms balik dari pak gubernur. anggaplah pak gubernur yang membalas, walau pada hakikatnya ia punya team untuk menjawab sms e-dki secara normatif maupun aktif 🙂

jawaban tersingkat adalah: “SMS-DKI: Terima kasih atas partisipasi anda.”

jawaban lainnya: “SMS-DKI: Warga yang terhormat terima kasih atas dukungannya kepada Pemprov DKI. Dan kami juga akan terus memberikan pelayanan yang lebih baik lagi.”

jawaban terpanjang, adalah tergantung masalahnya, seperti masalah sterilisasi jalur busway selain koridor tahap pembangunan.

entah mengapa, sejak aku mengirim sms keluhan dan saran ke nomor itu, aku semakin nyaman menjadi pengguna busway, karena suara kecil ini didengarkan dan ditindaklanjuti oleh pak gubernur. hanya satu yang belum kurasakan dari keluhan betapa sedikitnya armada busway sementara peminatnya semakin banyak….


%d blogger menyukai ini: