antara kartini, bumi dan aku

Hampir tak satupun orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa 21 April adalah hari kelahiran Kartini, anak putri Bupati Jepara yang dikokohkan sebagai pahlawan nasional Indonesia karena pemikirannya untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Kartini memang baru menjajaki tararan pemikiran karena Sekolah Kartini baru berdiri 8 tahun setelah meninggalnya beliau. Perjuangan pemikirannya justru terlaksana oleh Dewi Sartika dengan berdirinya Sakola Istri di tahun 1904 (tahun ketika Kartini wafat). Namun malangnya gagasan yang mulia tentang pendidikan bagi perempuan[1][2] diartikan secara sempit sebagai emansipasi.


Dan para pengusungnya pun menyangsikan tujuan mulia itu bahkan mengira perjuangan Kartini kandas setelah ia menggenapkan separuh agamanya (menikah)[3]. Padahal boleh jadi Kartini akan menangis memandang putri-putri Indonesia masa kini yang jauh dari semangat perjuangan yang telah digagasnya[4].

22 April telah ditetapkan secara konsensus oleh warga bumi sebagai Hari Bumi. Adalah Senator Gaylord Nelson dari Amerika Serikat berjuang selama tujuh tahun sejak 1962 dimulai dengan membujuk Presiden Kennedy untuk memiliki visi konservasi lingkungan dalam kiprah politiknya, barulah pada tahun 1970 Hari Bumi pertama digelar dengan sukses oleh spontanitas oleh para massa pendukung yang peduli dengan isu lingkungan dan penyelamatan Bumi dari kerusakan[5].

Begitulah hingga saat ini setiap tanggal 22 April diperingati sebagai hari bumi oleh warga bumi yang peduli[6], sejenak memperhatikan lingkungan dan berupaya mencegah kerusakan yang lebih banyak dengan melakukan kegiatan konservasi mulai dari yang sederhana seperti menanam pohon[7] hingga yang canggih seperti membuat proposal kota efisien[8]. Padahal sudah 14 abad suara dari langit terus memperingatkan akan kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah manusia[9].

Lalu bagaimana denganku sendiri, yang telah dikaruniai oleh Tuhan kehidupan selama 28 tahun? Apakah kiprah yang telah kupersembahkan bagi sesama yang disenangi oleh Allah sebagai rasa syukur[10]? Di hari aku dilahirkan ini bukanlah ucapan selamat hari lahir semata yang kuharapkan dari orang-orang terkasih di dalam hidupku, namun ketulusan doa agar keberkahan senantiasa menyertai hidupku[11].

Sebagaimana doa seorang pengemis yang menerima dariku sore ini selembar uang yang cukup untuk dua kali makan[12]: “Terima kasih banyak, semoga Allah memberkahimu selalu, dalam rizki dan kehidupanmu.”

[andi, 23042008]


[1] “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukankewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]
[2] Cuplikan nota Kartini untuk Rooseboom:
“…Berilah pendidikan kepada perempuan Jawa, gadis-gadis kami! Didikalh budinya dan cerdaskan pikirannya. Jadikanlah mereka perempuan yang cukup cakap dan berakal, jadikanlah mereka pendidik yang baik untuk keturunan yang akan datang! Dan bila pulau Jawa mempunyai ibu-ibu yang cakap dan pandai, maka peradaban satu bangsa hanyalah soal waktu saja.”
[3] http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg74374.html
[4] http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg74563.html diambil dari buku “Tragedi Kartini Sebuah pertarungan Ideologi”, Asma Karimah, Syaamil 2007
[5] http://earthday.envirolink.org/history.html
[6] http://ww2.earthday.net/
[7] http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=138796
[8] http://www.greenpeace.org.uk/files/efficiencity/index.html
[9] “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS Ar-Ruum, 30:41]
[10] “Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” [QS Saba’, 34:13]
[11] “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” [QS Al Ahqaaf, 46:15]
[12] aku menyesal karena dengan doanya seharusnya aku memberi lebih banyak

2 Responses to antara kartini, bumi dan aku

  1. andi berkata:

    lam kenal juga

  2. duniadownload berkata:

    aloo…salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: