Kun Fayakuun, ikut-ikutan?

kekeliruan helmy yahya dalam menerbitkan film kanak-kanak “Joshua oh Joshua” sepertinya terjadi lagi. di tahun 2000, “petualangan sherina” mira lesmana meraih sambutan luar biasa dari penikmat film indonesia. film sherina itu ditahbiskan menjadi awal kebangkitan kembali film nasional setelah terpuruk beberapa lama. belum selesai kesuksesan film sherina meraih angka pasti, helmy yahya merilis film joshua. namun sambutan masyarakat terhadap film joshua ini tidak seantusias film sherina. bahkan banyak yang menganggap ikut-ikutan. akibatnya film joshua tidak memperoleh rating yang sama dengan film sherina.


di tahun 2008, “ayat-ayat cinta” hanung bramantyo memperoleh sambutan luar biasa dari masyarakat pecinta film nasional yang mencari nuansa berbeda dari genre film yang sudah ada. bahkan berbagai propaganda positif maupun negatif yang saling kontra ikut memperkaya khasanah dan membuat “ayat-ayat cinta” menjadi film yang “wajib” ditonton oleh masyarakat bahkan presiden republik indonesia. padahal sebagai film yang dianggap mengusung nilai religi, banyak aspek syariah yang dilanggar oleh film ini. tetapi indonesia telah memilih, dan “ayat-ayat cinta” menjadi “a must see film” dan novel kang Abik menjadi “a must read novel” bagi yang penasaran dengan polemik di balik ketidaksesuaian antara film dan novelnya.

walaupun kampanye perbaikan moral ustad yusuf mansur dimulai jauh sebelum suksesnya novel kang Abik, dan gaung pembuatan film Kun Fayakuun beredar sebelum Hanung meminang “ayat-ayat cinta” tetapi dekatnya masa peluncuran kedua film tersebut membuat film ustad yusuf mansur gurem. masyarakat sedang asyik membicarakan “ayat-ayat cinta” bahkan tukul arwana merasa berbahagia kedatangan pemeran utama film tersebut di empat mata, sehingga suara Kun Fayakuun tidak terlalu digubris dan dianggap ikut-ikutan.

padahal nilai moral yang diusung Kun Fayakuun jauh lebih kaya daripada Ayat-ayat Cinta, begitu juga aspek syariah sangat dijaga seperti tidak saling menyentuhnya anggota badan antara pemain laki-laki dan perempuan walau berperan sebagai suami istri, begitupun dengan penutup kepala yang tidak dibuka oleh pemeran perempuan. beda banget kan di ayat-ayat cinta ditampilkan vulgar kalau sudah jadi “suami-istri” apapun boleh, bahkan buka jilbab di hadapan penontonūüėÄ

sebenarnya mau nulis review filmnya lebih komplit tapi ga pas disatuin di posting ini, namun begitu kami merekomendasikan film Kun Fayakuun ditonton oleh semua keluarga Indonesia yang punya akses ke bioskop. psstt…ngomong-ngomong guremnya film joshua ternyata ada kesamaan pada film kun fayakuun, yaitu desy ratnasari… jangan-jangan…, doh! (stop jangan ngegosip :p)

Satu Balasan ke Kun Fayakuun, ikut-ikutan?

  1. Sismanto mengatakan:

    ngingeti aku sama Ustadz Yusuf Mansoer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: