Tupperware promo

31 Juli, 2008

klik gambar untuk memperbesar


untunglah bukan wapres

31 Juli, 2008

terkait dengan kunjungan wapres ke gedung kantor kami kamis ini, beberapa blok parkir yang tersedia di pelataran depan sudah dipesan untuk kendaraan dinas wapres dan para menteri yang akan mengiringinya. biasanya blok parkir tersebut diisi oleh kendaraan para pejabat di gedung kantor. gedung kantor kami tidak hanya diisi oleh perusahaan kami, tetapi juga banyak penyewa lainnya. sehingga kejadian kamis ini sangatlah menjadi perhatian semua pekerja di gedung kami.

beberapa saat sebelum kedatangan wapres dan para menteri, di beberapa lokasi dilakukan penyisiran oleh pasukan pengawal. pada saat kunjungan, lift dijaga sehingga yang turun kesulitan untuk naik kembali, jalan masuk gedung pun dijaga sehingga yang keluar kesulitan untuk masuk kembali. penjagaan super ketat dan tampak begitu merepotkan untuk menjaga seorang wapres dan para pembantu presiden (baca: menteri).

untunglah saya bukan wapres, sehingga pergi dan pulangnya saya dari gedung kantor tidak perlu merepotkan para tamu maupun penyewa gedung. saya sendiri juga tidak perlu penjagaan super ketat yang diwajibkan oleh protokoler. untunglah juga saya terjaga dari mimpi di siang bolong. kunjungan wapres yang direncanakan ternyata batal, dan semua penjagaan bubar jalan segera setelah kabar pembatalan diterima. ah… untunglah saya bukan wapres. 😀


[pendidikan] telling the truth

31 Juli, 2008

Dalam sebuah episode Sesame Street dikisahkan anak-anak playgroup Gina yang antusias dalam menanggapi cerita Elmo tentang sirkus. Telly si pencemas merasa cerita tentang sirkus membuat setiap orang menjadi populer sedangkan dirinya sama sekali tidak menyukai sirkus. Maka Telly mulai mengarang cerita tentang pamannya sebagai pimpinan sirkus, dengan demikian semua perhatian teman-temannnya beralih kepadanya. Sehingga teman-teman Telly berharap dapat melihat si paman dalam pakaian sirkus dan melakukan gerakan-gerakan menakjubkan. Kenyataannya, paman Telly bukanlah pemain sirkus.
lalu bagaimana dong


[keluarga] confession

31 Juli, 2008

Tersadar di dalam sepiku, setelah jauh melangkah.
Cahaya kasihmu, menuntunku kembali dalam dekap tanganmu.

Terima kasih cinta untuk segalanya, kau berikan lagi kesempatan itu.
Tak akan terulang lagi semua kesalahanku, yang pernah menyakitimu.

Tanpamu tiada berarti, tak mampu lagi berdiri.

Lagu Terima Kasih Cinta yang dinyanyikan oleh Afgan dalam album Confession No. 1 tersebut menjadi populer karena liriknya yang jujur dan lantunan musiknya yang menggugah perasaan. Keterbukaan sangat diperlukan dalam rumah tangga, jika tidak biduk yang kita kayuh serasa
hampa mengarungi masa.

Kesalahan manusia terhadap Tuhannya tentu dihapuskan dengan cara taubat yaitu pengakuan dan tidak mengulanginya lagi. Maka kesalahan sesama manusia dihapuskan dengan saling terbuka, jujur, percaya, dan saling memaafkan. Mudah-mudahan kehangatan berumah tangga menjadi keseharian dalam hidup kita.


[inspirasi] modalnya cuma jujur

31 Juli, 2008

Selesai shalat magrib di masjid dalam perjalanan pulang dari kantor, kulihat terdapat dua gerobak baso yang diparkir di pelataran masjid. Dua orang pedagangnya sedang duduk mengobrol ketika kuhampiri. “Yang mana nih tukangnya?” tanyaku sambil menunjuk salah satu gerobak. “Terserah yang mana yang mau dibeli, mas,” sahut salah seorang pedagang. Akupun menuju salah satu gerobak, “Yang ini saja,” sambil diikuti pedagangnya yang berkata, “Alhamdulillah, masih rejeki saya,” dengan penuh senyum.

“Jangan pakai mecin ya, mas,” pintaku. “Maaf, mas,” pedagang itu memandangku dengan rasa sesal, “kuahnya sudah saya taburi mecin.” “Ya sudah,” sahutku dengan rasa tidak enak hati, “kalau begitu jangan ditambahi lagi di mangkuknya ya, mas,” sambil diikuti senyuman si
pedagang.

Dagangan baso yang digelutinya hanyalah mengambil dari pemilik usaha dan menyetorkan sejumlah uang setiap hari. Namun ia menjalani pekerjaannya dengan penuh harapan supaya dapat menghidupi keluarganya yang ditinggal di kampung, membiayai pendidikan anak-anaknya. Omzet per hari baginya tidak dapat ditentukan karena, “Semua sudah ada yang ngatur, mas. Namanya juga dagang, kadang ramai kadang sepi.” Aku pun menyambung, “Iya mas, kita cuma menjalani peran yang harus kita lakukan. Selebihnya Allah yang memberi.”

“Modalnya cuma satu mas,” si pedagang duduk mendekatiku, “jujur. Kalau kita jujur, insya Allah segala urusan lancar.”


%d blogger menyukai ini: