[inspirasi] modalnya cuma jujur

Selesai shalat magrib di masjid dalam perjalanan pulang dari kantor, kulihat terdapat dua gerobak baso yang diparkir di pelataran masjid. Dua orang pedagangnya sedang duduk mengobrol ketika kuhampiri. “Yang mana nih tukangnya?” tanyaku sambil menunjuk salah satu gerobak. “Terserah yang mana yang mau dibeli, mas,” sahut salah seorang pedagang. Akupun menuju salah satu gerobak, “Yang ini saja,” sambil diikuti pedagangnya yang berkata, “Alhamdulillah, masih rejeki saya,” dengan penuh senyum.

“Jangan pakai mecin ya, mas,” pintaku. “Maaf, mas,” pedagang itu memandangku dengan rasa sesal, “kuahnya sudah saya taburi mecin.” “Ya sudah,” sahutku dengan rasa tidak enak hati, “kalau begitu jangan ditambahi lagi di mangkuknya ya, mas,” sambil diikuti senyuman si
pedagang.

Dagangan baso yang digelutinya hanyalah mengambil dari pemilik usaha dan menyetorkan sejumlah uang setiap hari. Namun ia menjalani pekerjaannya dengan penuh harapan supaya dapat menghidupi keluarganya yang ditinggal di kampung, membiayai pendidikan anak-anaknya. Omzet per hari baginya tidak dapat ditentukan karena, “Semua sudah ada yang ngatur, mas. Namanya juga dagang, kadang ramai kadang sepi.” Aku pun menyambung, “Iya mas, kita cuma menjalani peran yang harus kita lakukan. Selebihnya Allah yang memberi.”

“Modalnya cuma satu mas,” si pedagang duduk mendekatiku, “jujur. Kalau kita jujur, insya Allah segala urusan lancar.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: