terlambat berbuat baik

12 September, 2008

Seorang nenek tua renta tertatih menyusuri jalan. Sesaat berhenti untuk menghela nafas, sesaat melangkah penuh payah. Saya duduk di belakang kemudi memerhatikan tingkah laku orang-orang dari jendela mobil yang tersendat merayapi kemacetan. Sosok sang nenek sedari tadi mencuri perhatian di sudut penglihatanku, namun jarak antara mobilku dengannya menyulitkan saya menawarkan bantuan kepadanya. Saat mobilku bersisian dengannya tiba, kucoba membuka jendela dan hendak menanyakan keperluannya. Tetapi seorang perempuan telah lebih dahulu menghampiri sang nenek, meraih tangannya dan mengajaknya pergi. Tinggallah saya memaku diri di belakang kemudi, memandang kaca spion mengikuti kedua sosok tadi pergi. Perempuan muda itu mendahuluiku berbuat baik kepada si nenek tua renta yang kepayahan meniti jalan.

Dalam kemacetan yang berbeda, seorang pengendara motor yang terjatuh dari sepeda motornya, kemudian duduk dan melakukan sendiri pemampatan laju darah di kakinya tanpa seorangpun yang menolongnya. Mata saya menangkapnya sebelum saya menyadari harus ada sesuatu yang saya perbuat untuknya. Ketika saya hendak meminggirkan mobil yang saya kendarai untuk kemudian keluar dan membantunya, beberapa orang mendatangi si pengendara motor dan mengantarkannya ke klinik terdekat. Saya kembali memaku diri, ketika saya tidak berbuat baik kepada yang membutuhkan, Tuhan mengirimkan orang lain untuk berbuat baik kepadanya, dan menyisakan penyesalan pada diri saya.


%d blogger menyukai ini: