efisiensi berkereta

kereta api masih jadi alternatif kendaraan saya dari bandung ke jakarta, terutama pada long weekend kemarin, dimana hampir semua shuttle already fully booked sedangkan mencapai terminal leuwi panjang memakan waktu lebih lama dan harus melewati beberapa titik kemacetan. dengan biaya yang sama dengan karcis bus bandung-lebak bulus, saya peroleh tiket argo gede plus mendapatkan snack kotak berupa roti dan air minum. waktu tempuh bandung jakarta juga tidak jauh berbeda pada kisaran 3 jam. ketika kereta berhenti di jatinegara, pada pukul 21:30 saya memikirkan alternatif kendaraan: taxi dari jatinegara, busway, KRD atau KRL.

kemudian saya teringat kisah seorang teman tentang bagaimana tidak efisiennya kereta api ketika ia mau pindah kereta api harus membeli lagi karcis di luar peron. barangkali jika saya turun juga di jatinegara untuk pindah ke KRD dan KRL saya juga harus keluar dulu dari peron dan membeli karcis. lalu saya melihat alternatif lain bahwa saya tetap turun di gambir untuk menaiki KRL AC ekonomi jurusan pasar minggu, atau busway dari gambir-harmonie-dukuh atas-ragunan.

ketika kereta melalui stasiun manggarai tanpa henti, saya melihat stasiun itu begitu lengang, padahal masih jam 21:35. akhirnya argo gede berhenti di gambir. sayang sekali, untuk sebuah stasiun persimpangan luar kota dan dalam kota, gambir yang hanya memiliki dua sepur sangat memprihatinkan. dan kembali lagi merepotkan. apabila saya mau mengambil KRL AC ke pasar minggu, saya harus turun dulu dan kembali naik ke peron setelah membeli karcis.

sayangnya lagi, untuk  kapasitas mass transportation di kota seperti jakarta, pembatasan kereta hanya sampai jam 22 bagi saya mengherankan. ketika mampir di london, UK beberapa waktu lalu, saya masih mendapat kereta pada jam 23-24. begitu pula di calgary, Canada, kota yang kecil dan hanya memiliki  3 tujuan akhir kereta itu juga beroperasi hingga jam 1 pagi, bahkan pada saat weekend atau acara tertentu, jalur kereta dibuka hingga dini hari.

barangkali perlu dipikirkan kembali, pemisahan peron luar kota dengan dalam kota, penumpang yang hendak berpindah rute kereta tidak perlu keluar peron untuk membeli karcis lagi, atau penerapan karcis terusan untuk harian, 3 hari, seminggu, sebagai alternatif daripada karcis sekali jalan dan abonemen bulanan.

3 Balasan ke efisiensi berkereta

  1. […] melanjutkan tulisan kemarin keluar dari stasiun gambir, saya melewati  parkiran taksi bluebird langsung menuju halte busway, […]

  2. andi mengatakan:

    salam kenal juga,
    saya juga jarang naik kereta😀 tetapi agak aneh aja kalau dibanding dengan naik busway😀

  3. masmpep mengatakan:

    saya selalu beranggapan kereta sebagai moda transportasi yang eksotis. entah kenapa. mungkin karena banyak novel atau film menggunakannya sebagai salah satu setting dalam fragmen atau adegan. adegan romantis, klasik, atau humanis dibuat di kereta. fragmen buas, liar, preman, distereotipkan pada bus (kota).

    meski demikian saya jarang naik kereta. untuk alasan praktis:
    1. saya suka fleksibel. tidak seperti kereta yang terjadwal.
    2. jalur bus umumnya melintasi kota-kota. saya bisa cucui mata. sedang kereta lewat sawah, kebun, hutan, belakang rumah orang, teras rumah orang, tengah pasar. pemandangan yang tak eksotik.

    salam kenal.
    masmpep.wordpress.com

    ps: mungkin kalo saya sudah menjajal kereta di UK–sampai sekarang belum pernah ke luar negeri–saya baru bisa menikmati kereta, he-he-he.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: