merokok, haram?

Menyimak acara pro-kontra di TVOne mengenai fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh majelis tarjih Muhammadiyah, membuat hati miris. Betapa urusan halal-haram yang merupakan ranah hukum agama diperdebatkan dengan segala kondisi aktual. Sebagian mengatakan bahwa fatwa tersebut adalah ijtihad yang boleh diikuti atau tidak. Sebagian lagi mengatakan bahwa urusan halal-haram bukan sekedar boleh ikut atau tidak tetapi berdampak akhirat. Sebagian meminta agar tetap dimakruhkan saja. Sebagian mempertanyakan kredibilitas yang mengeluarkan fatwa. Sebagian menyayangkan fatwa tersebut dikeluarkan tanpa ada solusi bagi rantai produksi tembakau dan nasib para petaninya. Sebagian memilih supaya rokok diatur melalui peraturan pemerintah sebagaimana miras telah diatur.

Memang urusan agama jika ingin diperdebatkan dan dimasukkan ke dalam logika berpikir manusia, apalagi yang membahasnya adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni, maka akan panjang urusannya. Untunglah, Karni Ilyas sang moderator yang juga perokok berat, menutup perdebatan dengan mengatakan bahwa ranah agama harus dikembalikan kepada Alquran dan Hadits, kemudian mengajak hadirin maupun pemirsa untuk bersama mencari arah solusi positif atas dampak fatwa tersebut.

Rokok memang secara lugas tidak terdapat di dalam Alquran dan Hadits karena ia merupakan hal baru yang tidak ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasalam, sehingga masuk ke dalam perkara syubuhat (samar). Dan ianya menjadi dialog panjang para ulama. Sebagian ulama mengambil hukum makruh (dibenci dan tercela), sedangkan sebagian besar ulama mengambil hukum haram (terlarang dan berdosa) karena rambu-rambu fikih mengarahkan rokok dan merokok lebih cenderung kepada haram.

Jika sesuatu yang samar-samar itu dibenci dan tercela, tentulah lebih baik bagi seorang muslim menjauhi perkara tersebut, supaya tidak terjatuh kepada hal-hal yang dapat menjerumuskannya kepada yang haram, sebagaimana hadits dari sahabat Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara samar (syubhat/tidak jelas halal haramnya) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka siapa yang berhati-hati dari perkara samar (syubhat) ini berarti ia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh dalam perkara syubhat berarti ia jatuh dalam keharaman, seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir ia melanggar daerah larangan tersebut. Ketahuilah, setiap raja itu memiliki daerah larangan. Ketahuilah, daerah larangan Allah adalah perkara-perkara yang Allah haramkan. Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila baik segumpal darah itu maka baik pula seluruh jasad. Sebaliknya apabila rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati”. (Hadits riwayat Bukhari no. 52, 2051 dan Muslim 1599)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: