kaidah dalam bertauhid

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

QS Al-Bayyinah, 98: 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.

Telah diketahui bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah dalam rangka beribadah kepada Allah, dan tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul ke tengah-tengah manusia adalah supaya manusia mengenal Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah tanpa mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun dalam peribadatan.

Dalam sebuah kesempatan pengajian kantor disampaikan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghadapi penolakan dari kaumnya bukan karena kebaikan dan akhlak beliau yang telah diakui bahkan beliau telah mendapatkan gelar yang terhormat: Al-Amin (yang dapat dipercaya). Penolakan kaumnya adalah karena risalah yang dibawa oleh beliau, ajakan yang membuat kaumnya selain menolak, juga memerangi beliau. Saya berharap kyai memberi penjelasan tentang risalah dan ajakan yang membuat Rasulullah ditolak bahkan diperangi. Namun amat disayangkan hingga akhir acara, pengharapan saya pupus karena sang kyai lebih banyak berbicara tentang sunnah yang dibaginya sebagai sunnah fisik dan sunnah batin (bagi saya pembagian tersebut adalah terminologi yang asing dalam ranah fiqh).

Pada shalat jumat di masjid yang dikelola oleh ikhwan salafiyyin, khatib menyampaikan empat kaidah penting dalam memahami tauhid. Dan bagi saya, apa yang disampaikan oleh khatib memberi jawaban yang memuaskan atas pertanyaan saya tentang apa yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga beliau ditolak bahkan diperangi oleh kaumnya.

Keempat kaidah ini pertama kali disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang mujaddid dalam agama Islam yang mengusung semangat puritanisme (memurnikan agama sebagaimana kondisi awal agama ini dibawa oleh Rasulullah dan dipelihara oleh para sahabat yang shalih dan khalifah yang terbimbing).

Karena Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, maka sebuah ibadah tidak teranggap sebagai ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah teranggap sebagai shalat kecuali jika disertai dengan bersuci. Karenanya jika ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadats, bahkan hal itu (syirik dalam ibadah) menyebabkan terhapusnya semua amalan pelakunya (musyrik) dan menyebabkan pelakunya menjadi orang-orang yang kekal di dalam api neraka.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

QS An-Nisaa’ 4:116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Kaidah pertama

Orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta, dan yang mengatur segala urusan. Meskipun demikian, hal itu tidaklah lantas menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam.

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

QS Yunus, 10:31. Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa [kepada-Nya].

Kaidah kedua

Mereka (musyrikin) tidak berdo’a dan tidak menyerahkan ibadah kepada sembahan selain Allah kecuali untuk meminta qurbah (kedekatan kepada Allah) dan syafaat (pengharapan bahwa sembahan mereka nantinya akan memberi syafa’at).

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌۭ كَفَّارٌۭ

QS Az-Zumar, 39:3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

QS Yunus, 10:18. Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata: “Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah:”Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu].

Kaidah ketiga

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang beraneka ragam dalam cara penyembahan mereka. Di antara mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, di antara mereka ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan serta di antara mereka ada pula yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka.

Kaidah keempat

Kaum musyrikin di zaman sekarang lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin di masa Nabi. Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit.

فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

QS Al-Ankabut, 29:65. Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah].

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman ini, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit.

Sepulang dari jumatan masih menyisakan tanya dalam benak saya benarkah orang-orang musyrik zaman sekarang melakukan kesyirikan secara terus menerus baik dalam keadaan lapang maupun sempit? Dengan cara-Nya yang membuat saya takjub, Allah Ta’ala menunjukkan kepada saya sebuah tayangan di TV Elshinta mengenai budaya mandi di muara sungai Ci Sakawayana, Pelabuhan Ratu, pada malam purnama bulan Mulud.

Budaya peninggalan nenek moyang itu menurut penghulunya “telah disesuaikan” dengan ajaran Islam, karena diisi dengan zikir dan sekaligus memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sekitar 50 tumpeng nasi ayam dan buah-buahan disajikan sebagai sesaji kepada Ratu Kidul untuk dilarung di lautan setelah upacara mandi yang didahului oleh istigfar dan zikir itu selesai. Beberapa pesertanya terlihat menggunakan identitas muslim (wanitanya mengenakan jilbab dan kerudung). Dalam upacara itu, bercampur baur antara pria dan wanita mengenakan sehelai kain putih sehingga nampak aurat mereka ketika basah terendam air.

Jelas sekali bahwa praktik ini merupakan kesyirikan zaman sekarang. Selain tayangan tersebut, marak kita dapati orang yang ketika menghadapi kesulitan mereka menemui “orang pintar” yang tidak minum tolak angin 🙂 alias dukun atau paranormal. Apakah itu untuk menemukan sesuatu yang hilang atau untuk memperlancar usaha duniawi mereka. Naudzubillahi min dzaalik.

2 Responses to kaidah dalam bertauhid

  1. mohd al hafis berkata:

    assalamualaikum..hidup sy slalu dirunding malang..jadi kawan sy menawarkan pengajian SAKAWAYANA di jawa barat..katanya sekiranya sy pertinent,hidup sy bisa berubah..tetapi apabila mendengarkan cara Dan pembelajarannya bertentangan dengan agama Islam,sy menjadi tidak yakin kerana terang terangan syirik..adakah berdosa sekiranya niat sy hanya untuk mengubah nasib hidup system????

    • andi berkata:

      Waalaikumussalam. berikut ini adalah jawaban dari ustaz Sofyan (Sofyanruray.info) semoga bermanfaat:

      Wa’alaykumussalaam, tidak boleh, mengikuti pengajian yg mengandung syirik atau bid’ah dan penyimpangan adalah dosa besar, dan itulah sesungguhnya kemalangan di dunia ini. Adapun jika kita dirundung malang dengan musibah berupa kemiskinan, masalah rumah tangga, penyakit2, dan musibah2 dunia lainnya maka sesungguhnya di balik itu semua ada kebaikan besar bagi kita, yaitu pahala melimpah jika kita sabar dan terhapusnya dosa2 insya Allah, dan diselamatkan Allah dari kemalangan yg terdahsyat yaitu neraka-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: