Untuk inilah kami minta

Banyak perempuan Bumiputera yang terpelajar, bahkan lebih terpelajar dan jauh lebih cakap daripada kami, yang baginya tersedia segala sesuatu. Yang baginya tidak mungkin tidak ada kesempatan untuk mengisi ruhaninya dengan santapan berbagai ilmu, yang baginya sama sekali tak ada hambatan dalam mencerdaskan ruhaninya. Yang baginya apa saja yang dikehendakinya dapat terjadi. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Tidak dapat mencapai apapun, untuk meningkatkan derajat sesama perempuan dan bangsanya.

Mereka jatuh lagi ke dalam adat kebiasaan lama atau sama sekali hanyut dalam dunia kehidupan Eropa. Berarti bangsanya kehilangan mereka, padahal mereka sebenarnya mampu memberi rahmat kepadanya. Asalkan mereka mau, mereka seyogyanya memimpin bangsanya ke dunia yang terang benderang, ke tempat itu mereka diantarkan oleh pendidikan.

Bukankah merupakan kewajiban tiap orang, yang lebih berbudi dan lebih pandai, untuk membantu dan memimpin bangsanya yang terbelakang daripadanya itu dengan kepandaian dan pengetahuannya yang lebih tinggi itu? Memang tidak ada undang-undang yang nyata mewajibkannya berbuat demikian, tetapi atas budi baik ia berkewajiban yang demikian itu.


(10 Juni 1901, surat Kartini kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya di Jena)


Alangkah bahagianya laki-laki, bila istrinya bukan hanya menjadi pengurus rumah tangganya dan ibu bagi anak-anaknya saja, melainkan juga menjadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya, menghayatinya bersama suaminya. Bagi kaum laki-laki hal ini tentulah tak ternilai harganya. Ini bila dia tidak angkuh dan picik pandangannya. Tentu tidak sedikit orang-orang yang memandang minat istri atas pekerjaannya sebagai kehendak ingin tahu dan campur tangan.

Sedikit demi sedikit saya masuki bidang emansipasi wanita. Bidang ini tentu sudah lebih dari cukup tuan dengar di Eropa. Apabila soal perempuan ini sudah menarik minat tuan, dalam tahun-tahun kedepan minat tuan akan bertambah besar, sebab sekarang tuan sendiri juga mempunyai anak didik.

Apabila kami di sini meminta, ya mohon, mohon dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukanlah karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini. Melainkan karena kami yakin akan pengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan. Kami hendak menjadikan perempuan menjadi lebih cakap dalam melakukan tugas besar yang diletakkan oleh ibu alam sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu – pendidik umat manusia yang utama!

Bukankah pada mulanya dari perempuan juga manusia memperoleh pendidikannya, yang dalam banyak hal selama hidupnya, memiliki arti penting.

Perempuanlah, kaum ibu, yang pertama-tama meletakkan bibit kebaikan maupun keburukan ke dalam hati sanubari manusia, yang biasanya tetap terkenang sepanjang hidupnya.

Bukan tanpa alasan orang berkata: “Baik laki-laki maupun perempuan telah menelannya bersama-sama air susu ibu.”

Pada waktu yang lampau, kami mengira bahwa orang yang lebih berpengetahuan, lebih mulia pula budi pekertinya. Sayang! Dengan cepat kami terjaga dari mimpi itu. Kami mulai menyadari, bahwa berpengetahuan banyak itu belumlah sekali-kali menjadi ijazah tanda mulia budi pekerti orang itu.

Hati kami sangat terharu dan pedih perih ketika memaklumi hal itu. Ketika kami terlepas dari rasa haru ini, perkara itu lebih lanjut kami selidiki dalam-dalam. Kami mencari sebab-sebabnya. Dan kami pun sampailah pada kebenaran yang kedua: “Bukan saja sekolah yang harus mendidik jiwa anak, tetapi juga yang terutama adalah pergaulan di rumah harus mendidik! Sekolah mencerdaskan pikiran sedangkan kehidupan di rumah tangga hendaknya yang membentuk watak anak itu!”

Kepada kaum ibu, pusat kehidupan rumah tangga, dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya; bagian pendidikan yang membentuk budi pekertinya. Berilah pendidikan yang baik bagi anak-anak perempuan. Siapkanlah dia masak-masak untuk menjalankan tugasnya yang berat itu.

Wahai, hendaknya semua ibu, mengetahui apa jadinya bila mereka dikaruniai kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi perempuan, yaitu kemewahan ibu! Bersama-sama dengan menerima anaknya, didapatnya pula masa depan.

Wahai, di depan matanya secara jelas dan terang tergambar kewajiban yang dibebankan keibuannya kepada dirinya. Mereka mendapat anak bukan untuk dirinya sendiri. Mereka harus mendidiknya untuk keluarga besar, keluarga raksasa yang bernama masyarakat, karena anak itu kelak akan menjadi anggotanya!

Untuk inilah kami minta pendidikan dan pengajaran bagi gadis-gadis. Kami yakin seyakin-yakinnya, bahwa peradaban bangsa Jawa tidak akan pesat majunya selama kaum perempuan dijauhkan dari usaha memajukan bangsa itu.

Pekerjaan memajukan peradaban itu haruslah diserahkan kepada kaum perempuan. Dengan demikian maka peradaban itu akan meluas dengan cepat dalam kalangan bangsa Jawa. Ciptakanlah ibu-ibu yang cakap serta berpikiran, maka tanah Jawa pasti akan mendapat pekerja yang cakap. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkan kepada anak-anaknya. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula, sedangkan anak-anak yang laki-laki kelak pasti akan menjadi penjaga kepentingan bangsanya.

Aduhai, bilakah masanya saudara-saudaraku setanah air setuju dengan faham ini? Saya khawatir hal itu masih jauh, jauh sekali! Tetapi kalau tidak dimulai, akan lebih jauh lagi. Dan kedatangannya pun akan lebih lama lagi.


(4 Oktober 1902, surat Kartini kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya)


Rujukan:
Surat-surat Kartini, diterjemahkan dari Door Duisternis Tot Licht, cet. ke-4, penerjemah Sulastin Sutrisno, Penerbit Djambatan, cet. ke-3, 1985.

2 Balasan ke Untuk inilah kami minta

  1. […] Dan kami pun sampailah pada kebenaran yang kedua: “Bukan saja sekolah yang harus mendidik jiwa anak, tetapi juga yang terutama adalah pergaulan di rumah harus mendidik! Sekolah mencerdaskan pikiran sedangkan kehidupan di rumah tangga hendaknya yang membentuk watak anak itu!” (4 Oktober 1902, surat Kartini kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: