fasilitas

17 Mei, 2010

Selalu ada kompensasi: atas fasilitas berlebih yang diterima tentu ada fasilitas yang dikurangi

Saya telah meminta pihak sponsor untuk membiayai hotel saya selama berada di London dengan pertimbangan acara yang saya hadiri diselenggarakan di ruang konferensi di hotel Novotel London West yang sekarang saya tempati, akibatnya saya mengalami pemotongan uang saku dari kantor sebesar 35% per hari. Namun saya tidak merasa rugi karena harga sewa per hari kamar saya ternyata lebih besar daripada potongan uang saku saya. Walaupun sebenarnya saya bisa mendapatkan harga jauh lebih hemat sekitar GBP55 saja jika mengambil hotel di sekitarnya, atau GBP17 saja jika menginap di Wisma Siswa Merdeka, namun hal itu membuat saya harus berangkat lebih pagi, berjalan lebih jauh, menggunakan Tube dan pulang lebih larut.

Dan kebanyakan hotel ternama kelas dunia tidak menyediakan Wi-Fi akses secara gratis, sedangkan hotel-hotel kelas dua atau B&B menyediakannya. Begitupula dengan hotel ini, saya harus menyamankan diri mengantri untuk menggunakan fasilitas internet gratis di komputer umum yang tersedia di lobby hotel secara bergantian dengan tamu lain. Dengan demikian tidak bisa selalu update status dan posting 🙂


debu vulkanik eslandia

17 Mei, 2010

Awan debu gunung Eslandia kembali mengancam keselamatan dan jadwal penerbangan di Inggris. 14 bandara di Inggris ditutup untuk mengantisipasi akibat yang ditimbulkan bencana tersebut.

Yang cukup mengherankan saya adalah pada presentasi ahli di televisi BBC News menunjukkan debu vulkanik itu menyebar ke arah timur, melewati hampir seluruh wilayah udara Irlandia, sebagian wilayah udara Inggris, kemudian menghilang di wilayah udara Eropa barat bagian utara. Jika benar bahwa bumi berputar pada porosnya ke arah timur, mengapa pula angin yang membawa debu vulkanis itu mengarah juga ke timur? Bukankah sewajarnya mengarah ke sebaliknya yaitu arah barat? (jika kita berlari tentu kita merasakan angin menerpa wajah bukan menerpa punggung, bukan begitu?)

Pada bulan April lalu, atasan saya terjebak selama satu minggu di London setelah mengikuti acara di Aberdeen. Kali ini saya tidak berharap untuk terjebak, namun sangat berharap supaya bencana alam ini dapat segera berlalu dan perjalanan ribuan orang kembali lancar. Mudah-mudahan setiap orang dapat mengambil hikmah darinya.


bahasa untuk komunikasi

17 Mei, 2010

Kemampuan berbahasa seringkali dikaitkan dengan pendidikan yang berbeda. Beberapakali saya ditanya oleh orang yang baru saya kenal, apakah saya belajar di sekolah swasta. Mengingat Indonesia bukan negara bekas jajahan Inggris, namun kemampuan berbahasa Inggris saya terbilang cukup baik. Bukan maksud berbangga hati, nilai prediksi TOEFL saya memang di atas 550, saya katakan bahwa saya dibesarkan dalam pendidikan sekolah negeri. Dan saya menikmati untuk menggunakan bahasa yang saya kuasai untuk lebih mahir berkomunikasi supaya dapat mengerti pembicaraan dan menghindarkan kesalahpahaman.


wajah nenek moyang

17 Mei, 2010

Tak sedikit yang mengatakan saya bukan asli Indonesia ketika melihat perawakan dan wajah saya. Beberapa orang mengatakan saya mirip dengan orang Libya, Libanon bahkan India selatan, beberapa mengatakan mirip orang Cina, Singapura, Filipina atau Thailand. Saya sendiri melihat keberanekaragaman di dalam keluarga besar orangtua saya, untuk kemudian menyimpulkan bahwa barangkali suatu waktu di saat yang lampau, nenek moyang saya berasal dari semua wilayah tersebut kemudian mereka hidup dan berketurunan di Indonesia.


tower bridge trip

17 Mei, 2010

Berkenalan dengan orang baru adalah hal biasa di London, namun masih saja mengenal kewilayahan asal. Biasanya orang eropa lebih sering berkenalan dengan orang eropa, begitupun orang afrika, timur tengah, bahkan asia timur. Barangkali penyebabnya adalah kemiripan budaya dan keserupaan pola pikir. Entahlah, mungkin perlu studi sosiologi lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Kenalan baru saya adalah seorang pria senior, keturunan Cina, berkebangsaan Malaysia, sedikit berbahasa Melayu namun lancar berbahasa Inggris, mantan perancang grafis, sedang berlibur di London, dan seorang yang soliter. Saya tidak mendapat info yang cukup mengenai keluarganya. Kami habiskan waktu bersama dari Stasiun Liverpool Street, berkeliling Tower Bridge, mengambil beberapa gambar, naik-turun dan mengejar bus, menyeruput capuccino di Starbucks setelah putus asa mencari Cafe Nero, berjalan dalam gerimis, menikmati gedung teater kerajaan yang unik karena liftnya dapat bernyanyi, menonton badut di Covent Garden, akhirnya kami pun berpisah di stasiun Leicester Square. Dengan pengetahuan yang cukup banyak tentang London karena begitu seringnya ke sana, ia menjadi pemandu wisata saya selama beberapa jam itu.


sunday market

17 Mei, 2010

Hari minggu adalah hari berlibur, begitupula yang terjadi di London. Hampir semua kantor dan tempat usaha tutup, hanya pertokoan dan restoran di tempat keramaian saja yang tetap buka. Banyak orang memilih berlibur, atau menikmati jalan-jalan dan belanja di hari libur. Tidak hanya di Indonesia, kita dapati juga pasar tumpah di London. Sunday Up Market yang mengambil tempat di bangunan kosong bekas gudang, Bishopgate Market di lobby pertokoan, atau Middlesex Street di jalan kecil, adalah di antaranya. Tempat-tempat itu dapat diraih dengan jalan kaki dari stasiun Liverpool Street.

Barang-barang baru hingga bekas berkualitas dijual dengan harga murah mulai dari 50p (setara Rp7 ribu). Kebanyakan menjual garmen ataupun cinderamata. Alternatif yang menarik dan ekonomis. Beberapa lapak menjual tas dan koper. Memudahkan pengunjung yang belanja untuk langsung memasukkan belanjaannya ke dalam koper baru mereka. Di beberapa sudut ada penjual makanan dan minuman kaki lima dengan harga sangat murah, memudahkan pengunjung yang haus maupun sekedar mengganjal perut sambil berbelanja. Namun begitu kebersihan sangat dijaga, jarang sekali dijumpai sampah di sepanjang pasar tumpah. Jadi kangen pasar tumpah di Kukusan UI.


travel for london

17 Mei, 2010

Terdapat banyak cara menikmati transportasi umum di London: bus, Tube, tram, DLR, London Overground, kereta, taxi, kapal. Kecuali taxi dan kapal, membayar tiket perjalanan dapat dilakukan dengan kartu perjalanan yang disebut kartu Oyster. Semacam kartu tap yang berisi deposit uang yang dapat digunakan berkali-kali serta dapat diisi ulang. Mirip kartu toll bank mandiri, tap bca, atau “busway tap” bank dki. Kartu Oyster ditap pada: setiap pintu masuk dan pintu keluar stasiun Tube, DLR, Overground dan kereta; setiap masuk bus dan tram. Kartu Oyster juga dapat digunakan untuk mendapat diskon kapal sungai, atau tempat-tempat wisata dengan program yang berganti-ganti.

Sangat diakui, moda transportasi umum di London sangat mahal, untuk jarak tempuh 30 km dengan Tube (angkutan paling ekonomis) harus dibayar 4.50 sterling (setara dengan Rp75 ribu). Dan kondisi stasiun akan sangat ramai pada jam-jam berangkat dan pulang kerja. Bahkan sering dijumpai kemacetan apabila menumpang bus atau taxi.


%d blogger menyukai ini: