menghidupkan kembali ukuran dalam Islam

“Untuk apa?”, barangkali itulah pertanyaan yang muncul ketika saya menelurkan judul di atas, “bukankah sudah ada konversi?” Bagi kebanyakan orang memang terlihat sepele, dengan adanya teknologi masa kini memungkinkan kita menggunakan konversi bahkan untuk suatu ukuran yang tinggal kenangan. Namun kenyataannya jika dikaitkan dengan ibadah yang nash-nya tertulis jelas dalam bentuk ukuran “kenangan” itu, tentu akan menyulitkan dan pasti akan timbul pertanyaan, “berapa sih konversinya?” Itulah yang saya alami ketika menelusuri takaran zakat fitrah.

Perbedaan konversi yang ditengahi oleh MUI Jatim dengan menghimbau supaya zakat fitrah menjadi 3 kg juga dilatarbelakangi oleh tidak adanya takaran standar yang diberlakukan di masa kini. Takaran itu masih sekedar kenangan. Tetapi ketika ditanyakan kepada banyak ulama apakah takaran zakat fitrah berubah setiap tahunnya, maka selalu dijawab tidak berubah. Nash hadits jelas menyatakan bahwa kewajiban zakat fitrah adalah 1 shaa’, dimana 1 shaa’ adalah 4 mud. Lalu mengapa terjadi perdebatan berapa liter atau berapa kilogram?

Shaa’ (gantang) dan mud (cupak) adalah takaran atau ukuran yang menyatakan volum. Seharusnya dalam ukuran metrik dinyatakan dalam liter. Kok bisa dinyatakan dalam kilogram, sedangkan kilogram adalah satuan massa?

Hal ini terjadi ketika benda yang ditakar kemudian ditimbang, maka yang tadinya terukur dalam volum menjadi dalam massa. Hasil penimbangan ini akan bergantung kepada massa jenis benda yang ditimbang dan lokasi penimbangan. Tentu saja massa air akan berbeda dengan massa beras. Tentu saja menimbang di khatulistiwa akan berbeda dengan menimbang di subtropis karena perbedaan pengaruh gaya gravitasi, menimbang di darat juga berbeda dengan di air karena pengaruh gaya apung air yang melawan gaya gravitasi.

Dalam zakat maal ukuran dinyatakan dalam misqal (dinar) dan dirham, yaitu setiap 20 dinar dizakatkan 1/2 dinar dan setiap 200 dirham dizakatkan 5 dirham. Dari penelusuran ilmiah tentang ukuran dinar dan dirham diperoleh bahwa di masa Rasulullah, dinar adalah kepingan emas seberat 4,25 gram sedangkan dirham adalah kepingan perak seberat 2,975 gram. Dari sinilah kemudian berlaku konversi nisab zakat emas adalah 85 gram dan zakat perak adalah 595 gram. Walau begitu ada juga yang menyatakan nisab emas adalah 91, 93 atau 96 gram, karena perbedaan karatnya

Dengan upaya beberapa lembaga pemerhati dinar dan dirham, telah dihidupkan kembali pencetakan emas dalam bentuk dinar dan perak dalam bentuk dirham dalam ukuran seperti di masa Nabi. Walaupun baru sebatas sebagai emas dan perak simpanan dan belum diberlakukan kembali sebagai mata uang resmi, cetakan dinar dan dirham ini setidaknya memudahkan umat Islam dalam mengukur zakat maal yang harus dikeluarkan.

Dengan tidak menafikan adanya perbedaan ukuran yang terjadi pada sejarah kerajaan-kerajaan Islam, jika belajar dari dinar dan dirham yang mulai dihidupkan kembali, apakah suatu saat akan ada yang memulai kembali menghidupkan gelas takar shaa’ (gantang) dan mud (cupak) untuk menyelesaikan perbedaan zakat fitrah di masyarakat muslim?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: