baba sayang radya

31 Oktober, 2010

padahal hanya 2 hari dalam seminggu baba punya waktu buat radya dan itupun berbagi dengan tsuraya. karena di hari kerja, baba berangkat ketika radya dan raya baru bangun, dan pulang di saat keduanya beranjak tidur.

kolokan radya mulai dari pipis di celana, dimandikan, disuapi makan oleh baba, hingga bikin tsuraya menangis. disadari oleh baba sebagai bentuk cari perhatian. namun masih saja baba terpaksa berteriak atau mengancam.

rengekan radya minta dibelikan mainan robot, hot wheels, atau lego di warung, indomaret, toko mainan, bahkan hipermarket, seringkali berujung penolakan dan janji bersyarat.

berisiknya radya saat salat di masjid karena bermain sendiri ataupun dengan teman-teman, sesekali membuat cubitan di badan atau jeweran di telinga radya.

dan masih banyak lagi yang jika diingat keburukannya tak akan ada habisnya. padahal usiamu saja belum 5 tahun, dan hidupmu masih panjang harapan untuk dipenuhi kebaikan.

sehingga baba harus sangat menyesalinya saat memandang wajahmu tanpa dosa yang terlelap di malam hari. semua kekesalan baba dijadikan sebagai apologi kasih sayang baba yang ketakutan membayangkan seandainya serapahannya dicatat malaikat sebagai mantra ataupun doa.

dan ketika radya memergoki baba yang duduk terpaku di pinggir ranjang, baba hanya mampu mengatakan, “maafkan kekesalan baba hari ini, baba sayang radya.”

Iklan

banjir atau tergenang air

29 Oktober, 2010

barangkali pak gubernur harus menegur asistennya yang memilihkan penggunaan frase “genangan air” pada peristiwa kebanjiran di jakarta pekan ini.

merujuk kepada KBBI, walau kata “kegenangan” serupa dengan kata “kebanjiran”, makna kata dasar keduanya jauh berbeda.

banjir adalah kondisi dimana air banyak dan mengalir deras, karena meluapnya sungai akibat tingginya curah hujan atau arus pasang naik. sedangkan genang adalah kondisi tertutupi atau terendam air karena terhenti mengalir.

bagaimanapun, mestilah jadi prioritas gubernur dki untuk meminimalisasi dampak kebanjiran jakarta berikutnya.


tukang patri

29 Oktober, 2010

“patri bu!”
seru si tukang berkeliling kampung. ia mendatangi ibu-ibu rumah tangga yang hendak memperbaiki peralatan masak yang bocor tapi sayang untuk dicampakkan. apalagi mahal jika membeli yang baru. patri menjadi solusi terbaik.

seruannya punya canda tersendiri pada masa yang berbeda. ketika harga kebutuhan masih murah, “masak matri doang 4 ribu, bang?” ketika harga-harga melambung, “4 ribu aja deh bang, he he.”

mematri adalah menyolder yaitu menambal dengan logam. mirip dengan mengelas. dengan dipatri, peralatan masak yang bocor dapat digunakan kembali.

pada saat ini mematri mungkin merupakan hal yang asing mengingat menyolder tak lagi dipelajari di sekolah umum tetapi mungkin hanya di sekolah kejuruan.

dalam hal bahasa kita mengetahui kiasan “terpatri di dada” yang artinya kira-kira “menempel erat sebagai keyakinan”. namun entahlah apa masih ada pelajar yang memahaminya?

begitu juga nasib tukang patri saat ini. sudah jarang orang yang menggeluti profesi ini dan kalaupun ada tentulah menyedihkan. di zaman serba instan lebih sering orang membeli baru daripada memperbaiki.

tapi Allah memang Mahaadil, tukang patri masih memperoleh rizki-Nya, walau mesti mengais dan bersusah payah.


radya jajan

27 Oktober, 2010

pagi ini radya menghampiri baba dan bilang mau minta uang. baba tanya untuk apa. radya bilang untuk beli momogi, o-ring, susu, dll. baba kasih selembar uang 2 ribu. kata radya kurang. baba kasih lagi selembar 2 ribu jadi ada 2 lembar 2 ribuan di tangan radya. radya bilang masih kurang. baba tanya bubu berapa harga barang yang hendak dibeli radya. kata bubu momogi 5 ratus dan o-ring seribu. baba keluarkan selembar uang 5 ribu dan mengambil 2 lembar uang 2 ribu dari tangan radya. radya menangis keras tiba-tiba. baba bingung. ternyata radya ingin uang pas dan tidak perlu kembalian. karena radya belum bisa berhitung. oh…


antara iman dan cinta

24 Oktober, 2010

Sebait syair yang dinyanyikan oleh Marcel terekam olehku pada perjalanan pulang dari Bandung dalam sebuah kendaraan umum: “… /aku untuk kamu/kamu untuk aku/namun semua apa mungkin/iman kita yang berbeda/tuhan memang satu/kita yang tak sama/haruskah aku lantas pergi/meski cinta takkan bisa pergi/…”

Lirik lagu itu memang menyayat hati, tentang kegelisahan dua insan yang memadu kasih namun terhalang oleh perbedaan iman di antara mereka. Berdalih dengan Tuhan yang satu, mereka mempertanyakan apakah harus berpisah meski saling mencintai. 

Jika kita merujuk kepada para sufi yang hidup dalam agama cinta tentulah “mengizinkan” percintaan itu terjadi. Dan dengan dalih cinta serta pengagungan terhadap hak asasi manusia telah meleburkan semua perbedaan iman di antara mereka, mencampakkan ketentuan agama dan bahkan (secara kasarnya) berani mempertanyakan kebijakan Tuhan. 

Secara kaidah, iman dan islam jika disebut bersama-sama memiliki makna yang berbeda sedangkan jika disebut sendiri sendiri memiliki makna yang sama. Dengan demikian jika seseorang mengaku beriman, secara otomatis dia harus menjalankan keimanan itu di atas dasar-dasar Islam. Dan Islam tidak mengakui adanya perbedaan iman, karena orang yang tidak beriman secara Islam dia disebut kafir (mengingkari), musyrik (menyekutukan) atau munafik (berpura-pura).

Karena kaidah iman dalam Islam menyatakan demikian, maka orang-orang yang beriman dituntut untuk saling mencintai karena Allah saja. Dan orang-orang yang mengaku mencintai Allah akan dengan sadar mengikuti apa yang dibawakan oleh Rasulullah yang mulia dan mencampakkan semua prasangka maupun inovasi yang bertentangan dengan semangat iman.

Lalu bagaimanakah solusi bagi kedua insan yang berada pada kondisi syair di atas? Maka apabila salah satunya adalah orang yang beriman, hendaklah ia merujuk kepada Alquran dan Assunnah yang telah membimbing kita untuk beragama dengan lebih baik dan lebih selamat dunia dan akhirat, daripada sekadar memenuhi rasa cinta (baca: nafsu) yang ada pada diri mereka.


pemberhentian terakhir

22 Oktober, 2010

33:16

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS Al-Ahzab 33:16)

Baca entri selengkapnya »


awas!

20 Oktober, 2010

“penyeberang jalan mendadak”
“awas! sudah banyak nyawa melayang di sini!”

begitu bunyi banner yg terpasang di jl. surabaya, cepu. jalan penghubung antar kota itu memang dilalui oleh truk, bus, mobil dan motor berkecepatan tinggi. wajar bila perlu dipasang peringatan tsb.


%d blogger menyukai ini: