kereta api dan nasib masinis

Sabtu lalu, 2 Okt 2010, bersamaan dengan kejadian tabrakan kereta di stasiun Petarukan, Jawa Tengah, saya dan keluarga sedang menikmati hari berkereta di taman mini indonesia indah (tmii) untuk mengenalkan kepada anak-anak saya tentang perkeretaapian. Mulai kereta mini yang bergerak di rel di atas tanah, titihan samirono aeromovel yang bergerak di rel atas angin, hingga kereta gantung yang bergerak di rel kabel. Kegembiraan yang berbeda-beda dirasakan dan ditunjukkan oleh kedua anak saya yang antusias naik ketiga jenis kereta tersebut.

Cukup Rp50 ribu per orang untuk dapat menikmati ketiga wahana tersebut, di luar tiket masuk tmii tentunya. Kereta mini mirip dengan kereta yang bergerak di atas rel atas tanah, menaikkan dan menurunkan penumpang di setiap stasiun, membunyikan loncengnya jika menyeberangi jalan umum, serta peluit khasnya saat mendekati stasiun. Kereta ini digerakkan oleh masinis dipandu oleh sinyal yang dikirimkan stasiun.

Titihan samirono Aeromovel adalah kereta yang bergerak di atas rel bantalan angin (elektromagnet), mirip monorel yang relnya tidak di atas tanah melainkan di atas jalur yang dipasang di antara tiang-tiang beton, dan untuk mencapai peron stasiun harus naik tangga. Kereta ini dikendalikan dari stasiun oleh sejumlah sinyal elektromagnet yang dikirimkan, dan masinis hanya serep untuk memacu awal dan berjaga.

Kereta gantung adalah kereta yang digantung di kabel yang dipasang pada tiang-tiang yang sangat tinggi dan kabel tersebut digerakkan dari stasiun. Pemandangan di atas kereta gantung lebih menarik karena berada di posisi terbangnya burung-burung (maksudnya bisa melihat ke bawah dan jauh pandangan). Di tmii, danau dan pulau-pulau buatan yang menggambarkan indonesia serta anjungan budaya yang mengelilinginya dapat dilihat dari atas kereta gantung.

Karena kereta api merupakan sistem yang terintegrasi antara masinis, rel, stasiun dan sinyal, maka melihat kembali kecelakaan kereta yang terjadi tidak melulu tepat menjadikan kelalaian masinis sebagai penyebabnya. 

Nonton SIGI malam ini, saya jadi prihatin dengan nasib masinis yang begitu tulus menjalani pekerjaannya. Sangat disayangkan apabila profesi ini tidak menjadi daya tarik dibandingkan dengan pilot atau nakhoda. Diperlukan perhatian dari pemerintah dan dukungan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan masinis demi kemajuan perkeretaapian Indonesia. 

Bacaan lebih lanjut:

http://sosbud.kompasiana.com/2010/10/06/jangan-ngimpi-jadi-masinis-nak/

http://b0cah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=865&Itemid=1

http://www.kereta-api.co.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: