raya nyemplung di kolam

1 November, 2010

raya suka banget sama ikan.. sendal favoritnyanya yang lungsuran dari radya bergambar ikan, popok kain favoritnya yang tiap hari mbahrenggo (kumbah-garing-dinggo) bergambar ikan, film diego favoritnya edisi lumba2 sungai dan bayi paus bungkuk, makanan favoritnya ikan lele yang dipelihara di kolam..

raya sering sekali main di pinggir kolam ikan kami, sambil bawa-bawa saringan kecil, sendok plastik, bola-bola kecil, dan banyak lagi mainannya.. biasanya bajunya jadi basah dan bau kena air kolam, tau sendiri gimana baunya air kolam ikan lele.. hehehe..

tapi hari ini raya sedang mencoba permainan baru: menangkap ikan.. sampai nyemplung (baca nyungsep) ke kolam segala.. untungnya tadi bubu sedang memasak di dapur, jadi begitu kepala sampai separuh badan raya nyemplung, bubu bisa buru-buru mengangkatnya dari kolam.. raya menangis karena kaget, tapi setelah dibersihkan n diganti bajunya dia ketawa lagi ngeliat gambar jerapah di popok kainnya.. sampai salah nyebut si jerapah dengan rusa 😀

hari ini raya yang pemberani dapat pengalaman baru.. lumayan menegangkan buat yang melihat 😀 tapi mudah-mudahan nggak menjadikannya kapok berenang, supaya kelak bisa terus main sama ikan-ikan favoritnya di kolam yang lebih besar lagi.. 🙂


Nulis Lagi Ahh..

1 November, 2010

Sudah 2 tahun blog ini nggak bertambah entri-nya.. Sejak Baba nggak boleh lagi akses multiply dari kantor n Bubu sibuk jualan di kedaijajakaulan.

Ngeliat blog temen2 yang tetep eksis, Baba n Bubu pun jadi ingin menghidupkan lagi blog yang dulu sempat jadi rumah maya kami ini.. apalagi sekarang udah nggak perlu lagi tergantung sama fasilitas intenet kantor n Bubu nggak perlu nitip2 posting ke Baba segala.. hahaha jadul amat yak? 😀

At the end of October, bulan dimana negeri kita sering ditimpa musibah, kami mulai menulis lagi seperti dulu.. setiap goresan dari tuts keyboard adalah jejak hidup yang mudah2an membawa hikmah, bukan sekedar curcol 😀


Due Date – Semua Ada Waktunya

1 November, 2010

Bismillahirrahmanirrahim..

Dulu saya sempat senewen ketika pada minggu ke-40, kedua bayi saya -pada dua periode- belum juga menunjukkan tanda2 akan lahir.. dokter sudah mewanti-wanti untuk segera induksi tapi saya mangkir karena (jujur) saya takut mengalami sakit berlebihan yang akhirnya membuat saya tidak sabar dan memilih jalan operasi..

Pada akhirnya, dua anak saya lahir pada minggu ke 41 dan 42 secara spontan (bahasa bekennya: normal) tanpa induksi.. walaupun saya mendapat banyak ceramahan dari dokter dan bidan soal mangkirnya saya dari proses induksi..

Menurut beberapa -tapi jumlahnya banyak sekali lho..- dari mereka, kelahiran bayi yang terbaik adalah pada minggu ke-39.. lewat dari itu bisa terjadi beragam komplikasi. Tapi baru saja saya menemukan artikel yang menjelaskan bahwa justru minggu ke-39 adalah waktu tercepat kelahiran bayi jika kita menghendaki bayi yang sempurna (dalam arti tidak ada kesalahan prosedur pembelahan sel pada tahap awal kehamilan).. ternyata proses kelahiran memang lebih baik menunggu kontraksi alami..

Banyak sekali teman dan kerabat saya yang memilih jalan operasi akibat tidak memiliki pemahaman soal ini.. tapi saya juga awam, pengalaman saya tersebut di atas saya lakukan hanya berdasarkan intuisi semata.. ada slogan sederhana yang telah menguatkan saya, yang dihadiahkan seorang sahabat yang sangat plegmatis ketika menghadapi saya yang seringkali begitu melankolis, katanya: “semua ada waktunya”..

Tanpa berpanjang-panjang, berikut saya hadirkan artikel yang saya anggap sudah mendukung intuisi saya tadi

Minggu Akhir yang Menentukan

Mengapa minggu-minggu terakhir di trimester 3 menentukan kondisi terbaik bayi setelah lahir

by Adhiatma Gunawan

Belakangan ini seringkali kita mendengar wanita hamil yang menjalani proses persalinannya dengan cara operasi caesar. Ada yang melakukannya karena alasan medis tertentu (atas anjuran dokter), ada juga yang melakukannya dengan alasan praktis (bahkan karena alasan tidak ingin menimbulkan trauma pada organ kewanitaan).

Hari ini bukan isu operasi caesar yang akan kita bahas, melainkan lebih kepada penentuan tanggal lahir si bayi. Ketika proses persalinannya tersebut merupakan elected date (suatu tanggal yang ditentukan, atau persalinan yang direncanakan), maka hasil penelitian dan para pakar menganjurkan untuk sebisa mungkin proses persalinan paling cepat dilakukan di minggu ke-39.

Pertanyaan yang berikutnya akan muncul adalah: Memangnya adakah perbedaan bermakna jika bayi dilahirkan sebelum minggu ke-39 dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan setelah minggu ke-39? Bukankah setelah menginjak usia kehamilan 37 minggu, bayi dinyatakan telah cukup matur untuk dilahirkan?

Jika bayi dilahirkan sebelum usia 37 minggu, maka kita sepakat bayi tersebut digolongkan pada bayi lahir prematur (persalinan prematur). Nah, tapi apa bedanya jika bayi dilahirkan usia 37 minggu dibandingkan bayi yang lahir sekitar usia kehamilan 40 minggu?

Walaupun hanya selisih sekitar 3 minggu, tapi penelitian membuktikan bahwa di minggu-minggu terakhir itulah perkembangan semua organ tubuh bayi mengalami kesempurnaan. Paru-paru lebih matang dan lebih siap. Demikian juga organ lain seperti otak, liver dan lainnya, akan mengalami kesempurnaan -walau hanya- pada interval waktu 2 minggu tersebut.

Selain itu, berat badan bayi juga mengalami kenaikan signifikan di trimester 3, oleh sebab itu selisih waktu kelahiran 1 minggu saja bisa berdampak pada berat badan bayi lahir. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadinya gangguan pada organ maupun sistem pertahanan tubuhnya.

Kecuali dikarenakan faktor medis, jika ibu hamil ingin melahirkan dengan cara induksi maupun operasi caesar, (elected date) ada baiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter, sehingga tanggal persalinan bisa sedekat mungkin dengan minggu ke-39 atau 40.

Berikut link untuk menuju tulisan aslinya:
http://www.mommeworld.com/post/view/…ng-menentukan/

Semoga tulisan ini menentramkan hati para bumil yang cemas menanti due-date


%d blogger menyukai ini: