naik gaji

27 Desember, 2010

naik gaji bagi kebanyakan orang adalah suatu yang didamba-dambakan. beberapa orang bahkan tidak naik gaji sejak bertahun-tahun yang lalu. sebagian lagi malah tidak pernah gajian. namun sejauh mana gajian itu mampu memenuhi penghidupan sendiri maupun keluarga yang ditanggung? sementara daya beli uang di tangan terus menurun seiring kenaikan inflasi yang dipertahankan setiap tahunnya.

saya sendiri, naik gaji cukup disambut dengan rasa syukur alhamdulillah. perusahaan tempat saya bekerja memahami tentang time value of money, sehingga untuk mendukung penghidupan para pekerja, perusahaan selalu berupaya menaikkan gaji pekerja di atas tingkat inflasi yang berlaku. terhadap hal ini saya menyadari bahwa tidak selalu naik gaji sama dengan mendapatkan kelebihan uang. gaya hidup yang saya terapkan hampir selalu sama, baik sekarang maupun beberapa tahun yang lalu. akan tetapi persentase uang yang ditabung maupun yang dihabiskan untuk kebutuhan hidup tetaplah sama.

mendapati hal ini saya membuat suatu cantolan atau mengkonversi nilai gaji saya dengan nilai emas. histori harga emas dapat dengan mudah kita dapatkan di kitco. ternyata sejak pertama kali saya bekerja di perusahaan ini enam tahun yang lalu sampai sekarang, walaupun secara rupiah mengalami peningkatan secara signifikan (300%)  saya hanya menikmati kenaikan gaji senilai 6 gram emas saja.


enstimasi

27 Desember, 2010

bikin penasaran, kata baru yang saya dapati dari postingan pak muhaimin iqbal ini tidak saya dapati dalam KBBI Daring, oleh karenanya saya pun googling untuk mengetahui maknanya. walaupun dimungkinkan tambahan huruf “n” terjadi karena kesalahan pengetikan atas kata ini dibuat tanpa sengaja, saya menyadari bahwa kata ini sebagai pemancing yang efektif untuk mengarahkan pembaca kepada artikel beliau. 🙂


susahnya membuat janji

27 Desember, 2010

Barangkali judul ini bertentangan dengan kebiasaan manusia mengenai “susahnya memenuhi janji”, namun kenyataannya demikian. Beberapa tahun yang lalu Telkom Indonesia pernah membuat iklan layanan masyarakat dengan gambaran  kerinduan seorang kakek dengan cucunya. Si kakek datang jauh-jauh dari kampung halaman menuju ke kota tempat tinggal anak dan cucunya. Dalam guyuran hujan, ia tiba di rumah buah hatinya yang sangat dirindukan itu, tetapi sayang sekali tidak seorang pun yang menyambutnya bahkan untuk memberi kehangatan. Rumah yang ditujunya terkunci karena ditinggalkan oleh anak dan cucunya yang sedang bepergian sekeluarga. Saat itu, pentingnya penggunaan telepon untuk menyampaikan kabar dimasyarakatkan oleh perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Saat ini, dimana berbagai kemudahan ditawarkan oleh para penyedia jasa telekomunikasi, baik lewat telepon, telepon genggam, maupun internet, sewajarnya setiap orang mudah menyampaikan kabar, bahkan untuk membuat janji bertemu. Masih ada saja yang mengandalkan datang langsung, alias go show dengan alasan keseriusan. Akibatnya dia dapat saja tidak diterima dengan baik, entah karena orang yang dituju sedang ada kesibukan atau sedang memenuhi janji yang lain.


%d blogger menyukai ini: