tidak pertjaja bahwa mirza gulam ahmad adalah nabi

Judul ini persis dengan tulisan saya sebelumnya di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/02/12/tidak-pertjaja-bahwa-mirza-gulam-ahmad-adalah-nabi/ yang dengan terpaksa dihapus oleh admin kompasiana karena dianggap tulisan hanya copy-paste hasil karya orang lain. Yang sebenarnya adalah saya mengetik ulang dari buku “Dibawah Bendera Revolusi”, Djilid Pertama, Tjetakan Ketiga, 1964, halaman 345-347. Namun waktu 2 jam yang saya habiskan untuk mengetik ulang itu menjadi sia-sia karena kekhilafan saya memahami Syarat dan Ketentuan Kompasiana.

Tulisan yang saya kutip itu ditulis oleh beliau saat berada di pengasingan di Endeh, yang menjadi kesempatan bagi Ir. Sukarno memperhatikan urusan agama daripada sebelumnya. Dalam tulisan tersebut,  beliau membantah reporter surat kabar “Pemandangan” yang memuat berita bahwa beliau telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan menjadi propagandis Ahmadiyah bagian Sulawesi.

“Saja bukan anggauta Ahmadijah. Djadi mustahil saja mendirikan tjabang Ahmadijah atau mendjadi propagandisnja. Apalagi “buat bagian Celebes”! Sedang pelesir kesebuah pulau jang djauhnja hanja beberapa mijl sahadja dari Endeh, saja tidak boleh!”

Ir. Sukarno memang mengakui bahwa dalam beberapa opininya tentang agama terpengaruh pemikiran-pemikiran dari penulis buku-buku yang dibacanya. Beliau mengapresiasi A. Hassan, tokoh Persatuan Islam Bandung yang telah memberikan banyak penerangan tentang Islam. Beliau juga merasa wajib berterima kasih kepada Ahmadiyah.

“Saja tidak pertjaja bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang nabi dan belum pertjaja pula bahwa ia seorang mudjaddid. Tapi ada buku-buku keluaran Ahmadijah jang saja dapat banjak faedah daripadanja:”

“Dan tafsir Qur’an buatan Mohammad Ali, walaupun ada beberapa fatsal jang saja tidak setudjui, adalah banjak djuga menolong kepada penerangan bagi saja.”

Beliau mengakui beberapa manfaat yang didapatkan setelah membaca buku-buku Ahamdiyah di samping membaca buku-buku Islam dari Persatuan Islam, Muhammadiyah, Penyiaran Islam, buku-buku dari India dan Mesir, bahkan buku-buku dari orientalis non muslim.

“Dan mengenai Ahmadijah, walaupun beberapa fatsal didalam mereka punja visi saja tolak dengan jakin, toch pada umumnja ada mereka punja “features” jang saja setudjui.”

yaitu rasionalitas, kelebaran pandangan, modernitas, sistematika analitik yang baik.

“Maka oleh karena itulah, walaupun ada beberapa pasal dari Ahmadijah tidak saja setudjui dan malahan saja tolak, misalnja mereka punja “pengeramatan” kepada Mirza Gulam Ahmad, dan mereka punja ketjintaan kepada imperialisme Inggeris , toch saja merasa wadjib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan jang telah saja dapatkan dari mereka punja tulisan-tulisan jang rationeel, modern, broadminded dan logis itu.”

Namun begitu Ir. Sukarno menekankan beberapa hal dalam mempelajari agama Islam.

“Agama Islam hanjalah bisa kita peladjari sedalam-dalamnja, kalau kita membukakan semua pintu-pintu budi akal kita bagi semua pikiran-pikiran jang berhubungan kepadanja dan jang harus kita saring dengan saringan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Djikalau benar-benar kita saring kita punja keagamaan itu dengan saringan pusaka ini dan tidak dengan saringan lain, walaupun dari Imam manapun djuga, maka dapatlah kita satu Islam jang tidak berkotoran bid’ah, jang tak bersifat tachajul sedikit djuapun, jang tiada ‘keramat-keramatan’, jang tiada kolot dan mesum, jang bukan ‘hadramautisme’, jang selamanja ‘up to date’, jang rationeel, jang gampang maha-gampang, jang tjinta kemadjuan dan ketjerdasan, jang luas dan ‘broadminded’, jang hidup, jang levend.”

Di akhir surat yang ditulis pada 25 Nopember 1936 itu beliau menegaskan kembali, “bahwa saja bukan seorang ‘Ahmadijah’. Tapi hanja seorang peladjar agama jang sudah njata bukan kolot dan bukanpun seorang ‘pengikut jang taqlid sahadja’.”

Pada artikel “Me-‘muda’-kan Pengertian Islam” yang dimuat pada majalah Pandji Islam, tahun 1940, beliau menggambarkan tentang peranan gerakan Ahmadiyah yang cukup besar pengaruhnya bagi reinterpretasi keagamaan, tidak hanya di India juga di luar India, sampai di Eropa dan Amerika. Dimana sistem corak propaganda yang digunakan Ahmadiyah adalah dengan cara apologetic.

“Ahmadijah adalah salah satu faktor penting didalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula didalam propaganda Islam dibenua Eropah chususnja, dikalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnja.”

Pada saat itu, propaganda Ahmadiyah memang ditujukan untuk membuang semua interpretasi yang dianggap salah dan mengajak mencari interpretasi suang baru, bukan yang benar. Berupaya mempertahankan Islam terhadap serangan-serangan dunia Nasrani, tetapi tidak menguatkan akar pondasi akidah umat, bahkan meruntuhkan akidah dengan mengaku sebagai nabi baru.

Begitulah sekelumit pemandangan salah seorang founding father republik ini tentang Ahmadiyah. Tidak sepaham, namun mengakui pengaruhnya terhadap pembaharuan pemikiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: