bendera, riwayatmu…

24 Maret, 2011

Masih hangat, dan barangkali akan terus hangat, permasalahan pengharaman terhadap penghormatan kepada bendera. Sejak A. Hassan di zaman Sukarno hingga beberapa hari yang lalu KH Cholil Ridwan menyatakan hal demikian. Kali ini pernyataan kiai Cholil menjawab sebuah kasus seorang siswa yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara tak mau hormat bendera, yang dimuat dalam rubrik konsultasi agama di situs Suara Islam Online. Dan gara-gara pernyataan itu, goncanglah jagad media offline maupun online, ramailah twitter dan forum-forum di jaringan sosial. Sahut-menyahut antara yang mendukung dan yang menolak, menghina-hina, bahkan mencaci maki. Sekali lagi, isu agama memang sangat sensitif, yang pada mulanya terbatas hanya pada pemeluknya, jadi meluas, bahkan pemeluk lain agama pun ikut serta. Tetapi demikianlah risiko yang harus dihadapi di zaman informasi.

Melihat persoalan bendera, jika dilihat dari riwayatnya kita akan dengan mudah mendudukkan persoalan, dan dengan mudah menyimpulkan baik secara akal, nurani maupun dalil mengenai penghormatan terhadap bendera.

Bendera telah dikenal oleh peradaban manusia sejak 4,000 tahun yang lalu. Bendera pertama diketahui dibuat dari logam atau lembaran kayu berukiran. 2,000 tahun kemudian bendera dibuat dari kain. Penggunaan bendera pada awalnya sebagai penunjuk. Para ksatria menggunakan bendera sebagai panji untuk membedakan mana kawan mana lawan di medan peperangan. Bendera juga digunakan mengirimkan pesan dari seseorang kepada suatu kaum, misalnya bendera merah sebagai peringatan bahaya, bendera putih sebagai tanda menyerah, bendera semaphore untuk mengirim pesan dalam kepanduan. Para bajak laut menggunakan bendera hitam bercorak tengkorak dan tulang manusia. Selain itu juga menyatakan identitas suatu kaum, digunakan sebagai tanda-tanda dalam pelayaran, penguasaan wilayah dan sebagainya.

Pada abad pertengahan ketika lalu lintas pelayaran sangat diminati untuk transportasi barang dan manusia, bendera digunakan untuk menunjukkan negeri asal muasal kapal. Barulah pada akhir abad ke-18 bendera dimanfaatkan sebagai alat yang memancing emosi dan sentimen nasionalisme. Sebagai perlambang negara, tanpa banyak kata maupun gambar, bendera mencerminkan jati diri dan cita-cita negara tersebut. Sejarah suatu bendera negara dapat menjadi unsur penting dalam membangkitkan sentimen kebangsaan dari rakyatnya.

Melihat sejarah bendera, bagaimanapun hanyalah selembar kain, tidak lebih tidak kurang, walaupun bagi sebagian orang memiliki arti lebih. Meletakkan bendera pada kedudukan asalnya, apakah sebagai identitas suatu negara dan bangsa maupun sekadar kain yang dijadikan dekorasi pada saat perayaan, haruskah menjadi masalah yang sangat fundamental, sampai-sampai mengeluarkan seorang pelajar dari sekolahnya?


boros air, adakah?

5 Maret, 2011

“Jangan boros wahai Sa’ad!” tegur sang Nabi kepada sahabatnya yang sedang berwudhu. “Adakah boros dalam menggunakan air, wahai Rasulullah?” tanya Sa’ad. “Ya, meskipun engkau di sungai yang mengalir,” jawab Nabi.

Dialog yang terjadi antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Sa’ad ibn Abi Waqqash ini diabadikan dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, kitab Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim dan kitab Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi, semoga Allah merahmati mereka, para imam kaum muslimin.

Kata “boros” telah maklum diartikan menghambur-hamburkan uang, barang, tenaga dan waktu. Oleh karenanya sahabat yang mulia Sa’ad, semoga Allah meridhainya, mempertanyakan konteks boros dalam penggunaan air.

Secara sadar atau tidak, kita, yang jauh dari masa hidup kedua orang mulia tersebut, sering memboroskan air ketika berwudhu, mandi, dan mencuci. Jikalau para penggiat “go green” mengampanyekan berbagai kegiatan hemat air untuk keperluan mandi dan mencuci, bahkan melakukan terobosan teknologi untuk mendapatkan air bersih dari pengolahan air limbah ataupun air asin, namun itu semua tidak cukup efektif tanpa kesadaran dan kepedulian individu. Maka sesungguhnya Nabi telah mengajak hemat air dimulai dari aktivitas keimanan, yang diharapkan menjadi model dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa was-was yang timbul ketika berwudhu, apakah wudhunya sudah sempurna, ataukah wudhunya diterima, beranjak dari minimnya pengetahuan seorang hamba tentang ilmu berwudhu. Bisa jadi ia membuka keran lebar-lebar dengan rasa lebih mantap, atau menyapukan air lebih dari tiga kali pada setiap anggota wudhu, atau berdoa pada tiap-tiap anggota wudhu, bahkan mandi sebagai pengganti wudhu. Seandainya seorang hamba mau belajar tentang wudhu sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, tentulah ia akan mencukupkan pada apa yang dituntunkan tanpa melebih-lebihkannya, serta menjadikannya kebiasaan baik, maka akan mudah baginya meninggalkan rasa was-was itu.

Tak disangkal mandi dari shower lebih hemat air daripada dari gayung dan bak mandi. Tetapi betapa banyak dari kita merasa lebih mantap mengguyur tubuh dengan gayung daripada shower. Tapi jika sudah merupakan kesadaran, maka lambat laun kita akan meninggalkan gayung untuk mandi beralih kepada shower. Begitupula dengan berwudhu, kenyamanan dengan segayung air akan terasa jika sudah terbiasa.

Nabi mewanti-wanti bahwa boros air tidak dibenarkan walaupun sumbernya berlimpah seperti di sungai yang mengalir. Jika di negeri padang pasir terpaksa menghemat air, maka di negeri tropis dan bahari dengan air melimpah  pun tidak boleh boros air. Jika diterapkan kepada pengertian boros secara umum: maka tidak dibenarkan boros walau banyak uang maupun barang; tidak dibolehkan boros membuang tenaga dan waktu untuk hal-hal yang tidak diperlukan.


%d blogger menyukai ini: