boros air, adakah?

“Jangan boros wahai Sa’ad!” tegur sang Nabi kepada sahabatnya yang sedang berwudhu. “Adakah boros dalam menggunakan air, wahai Rasulullah?” tanya Sa’ad. “Ya, meskipun engkau di sungai yang mengalir,” jawab Nabi.

Dialog yang terjadi antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Sa’ad ibn Abi Waqqash ini diabadikan dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, kitab Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim dan kitab Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi, semoga Allah merahmati mereka, para imam kaum muslimin.

Kata “boros” telah maklum diartikan menghambur-hamburkan uang, barang, tenaga dan waktu. Oleh karenanya sahabat yang mulia Sa’ad, semoga Allah meridhainya, mempertanyakan konteks boros dalam penggunaan air.

Secara sadar atau tidak, kita, yang jauh dari masa hidup kedua orang mulia tersebut, sering memboroskan air ketika berwudhu, mandi, dan mencuci. Jikalau para penggiat “go green” mengampanyekan berbagai kegiatan hemat air untuk keperluan mandi dan mencuci, bahkan melakukan terobosan teknologi untuk mendapatkan air bersih dari pengolahan air limbah ataupun air asin, namun itu semua tidak cukup efektif tanpa kesadaran dan kepedulian individu. Maka sesungguhnya Nabi telah mengajak hemat air dimulai dari aktivitas keimanan, yang diharapkan menjadi model dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa was-was yang timbul ketika berwudhu, apakah wudhunya sudah sempurna, ataukah wudhunya diterima, beranjak dari minimnya pengetahuan seorang hamba tentang ilmu berwudhu. Bisa jadi ia membuka keran lebar-lebar dengan rasa lebih mantap, atau menyapukan air lebih dari tiga kali pada setiap anggota wudhu, atau berdoa pada tiap-tiap anggota wudhu, bahkan mandi sebagai pengganti wudhu. Seandainya seorang hamba mau belajar tentang wudhu sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, tentulah ia akan mencukupkan pada apa yang dituntunkan tanpa melebih-lebihkannya, serta menjadikannya kebiasaan baik, maka akan mudah baginya meninggalkan rasa was-was itu.

Tak disangkal mandi dari shower lebih hemat air daripada dari gayung dan bak mandi. Tetapi betapa banyak dari kita merasa lebih mantap mengguyur tubuh dengan gayung daripada shower. Tapi jika sudah merupakan kesadaran, maka lambat laun kita akan meninggalkan gayung untuk mandi beralih kepada shower. Begitupula dengan berwudhu, kenyamanan dengan segayung air akan terasa jika sudah terbiasa.

Nabi mewanti-wanti bahwa boros air tidak dibenarkan walaupun sumbernya berlimpah seperti di sungai yang mengalir. Jika di negeri padang pasir terpaksa menghemat air, maka di negeri tropis dan bahari dengan air melimpah  pun tidak boleh boros air. Jika diterapkan kepada pengertian boros secara umum: maka tidak dibenarkan boros walau banyak uang maupun barang; tidak dibolehkan boros membuang tenaga dan waktu untuk hal-hal yang tidak diperlukan.

2 Responses to boros air, adakah?

  1. masbadar berkata:

    artikel ini, mana sumber ilmiyahnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: