bendera, riwayatmu…

Masih hangat, dan barangkali akan terus hangat, permasalahan pengharaman terhadap penghormatan kepada bendera. Sejak A. Hassan di zaman Sukarno hingga beberapa hari yang lalu KH Cholil Ridwan menyatakan hal demikian. Kali ini pernyataan kiai Cholil menjawab sebuah kasus seorang siswa yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara tak mau hormat bendera, yang dimuat dalam rubrik konsultasi agama di situs Suara Islam Online. Dan gara-gara pernyataan itu, goncanglah jagad media offline maupun online, ramailah twitter dan forum-forum di jaringan sosial. Sahut-menyahut antara yang mendukung dan yang menolak, menghina-hina, bahkan mencaci maki. Sekali lagi, isu agama memang sangat sensitif, yang pada mulanya terbatas hanya pada pemeluknya, jadi meluas, bahkan pemeluk lain agama pun ikut serta. Tetapi demikianlah risiko yang harus dihadapi di zaman informasi.

Melihat persoalan bendera, jika dilihat dari riwayatnya kita akan dengan mudah mendudukkan persoalan, dan dengan mudah menyimpulkan baik secara akal, nurani maupun dalil mengenai penghormatan terhadap bendera.

Bendera telah dikenal oleh peradaban manusia sejak 4,000 tahun yang lalu. Bendera pertama diketahui dibuat dari logam atau lembaran kayu berukiran. 2,000 tahun kemudian bendera dibuat dari kain. Penggunaan bendera pada awalnya sebagai penunjuk. Para ksatria menggunakan bendera sebagai panji untuk membedakan mana kawan mana lawan di medan peperangan. Bendera juga digunakan mengirimkan pesan dari seseorang kepada suatu kaum, misalnya bendera merah sebagai peringatan bahaya, bendera putih sebagai tanda menyerah, bendera semaphore untuk mengirim pesan dalam kepanduan. Para bajak laut menggunakan bendera hitam bercorak tengkorak dan tulang manusia. Selain itu juga menyatakan identitas suatu kaum, digunakan sebagai tanda-tanda dalam pelayaran, penguasaan wilayah dan sebagainya.

Pada abad pertengahan ketika lalu lintas pelayaran sangat diminati untuk transportasi barang dan manusia, bendera digunakan untuk menunjukkan negeri asal muasal kapal. Barulah pada akhir abad ke-18 bendera dimanfaatkan sebagai alat yang memancing emosi dan sentimen nasionalisme. Sebagai perlambang negara, tanpa banyak kata maupun gambar, bendera mencerminkan jati diri dan cita-cita negara tersebut. Sejarah suatu bendera negara dapat menjadi unsur penting dalam membangkitkan sentimen kebangsaan dari rakyatnya.

Melihat sejarah bendera, bagaimanapun hanyalah selembar kain, tidak lebih tidak kurang, walaupun bagi sebagian orang memiliki arti lebih. Meletakkan bendera pada kedudukan asalnya, apakah sebagai identitas suatu negara dan bangsa maupun sekadar kain yang dijadikan dekorasi pada saat perayaan, haruskah menjadi masalah yang sangat fundamental, sampai-sampai mengeluarkan seorang pelajar dari sekolahnya?

One Response to bendera, riwayatmu…

  1. choirul berkata:

    kalau sampai menjadikan korban seperti itu hanya karena bendera juga menurut saya kurang etis ya…. walaupun saya sendiri g begitu paham dengan yang begitu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: