menjadi yang kalah

Melihat mainan Transformer di swalayan H.E.B membuat saya teringat kepada Radya, 5 tahun. Beberapa waktu yang lalu ia selalu merengek mengajak saya pergi ke KFC untuk membelikannya merchandise Transformer. Dengan bujukan apabila di hari pertama sekolahnya ia berlaku baik saya akan mengajaknya ke KFC, membeli paket Chaki, 2 sekaligus (satu buat Tsuraya, 2 tahun 9 bulan) dan mendapatkan Transformer kesukaannya. Dan berhasil, Radya pun berhasil membuat saya mengajaknya ke KFC sepulang sekolah. Sayangnya dari beberapa KFC sudah kehabisan. Jadilah kami berdua hunting KFC, dan mendapatkan satu-satunya Optimus Prime yang tidak dalam kemasan dan Star Scream yang masih dalam kemasan.

Kedua mainan itu pun jadi senjata andalan ketika Radya tidak melaksanakan kewajiban sederhana yang dibebankan kepadanya: bersekolah, tidur siang, dan tidak menjaili adiknya. Suatu ketika Radya mengatakan kepada saya bahwa seharusnya ia tidak memainkan Optimus Prime maupun Bumblebee melainkan memainkan Star Scream. Diketahui bahwa Optimus Prime dan Bumblebee berada di barisan Autobot yang membela kelangsungan hidup manusia dan seringkali berada di pihak yang menang. Sedangkan Star Scream adalah salah satu Decepticon yang membela kelangsungan hidup para robot dengan mengambil energi dari bumi, dan walaupun mengalami beberapa kemenangan selalu menjadi pihak yang kalah.

Melihat Megatron, pimpinan Decepticon, saya mengingat kembali percakapan saya dengan Radya. Memang bukan hanya sekali ia mengatakan hal yang serupa demikian, tetapi di usianya yang masih kanak-kanak itu ia telah melakukan pemikiran ilmiah sederhana dengan bermain peran di sisi yang berseberangan. Teman-teman Radya bermain Autobot, kalau Radya juga bermain Autobot lalu siapa yang menjadi Decepticon? Barangkali demikian.

Padahal peran protagonis maupun antagonis adalah tergantung dari persepsi penonton. Bisa jadi pemeran justru memainkan perannya dengan sangat baik sehingga menguatkan persepsi itu atau bahkan membantahnya. Menjadi Decepticon tidaklah harus menjadi jahat, walaupun terpaksa menjadi yang kalah. Decepticon melakukan invasi ke bumi karena mendapatkan mineral yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup para robot di planet mereka, menurut si empunya cerita.

Mirip dengan VOC atau para invader di masa lalu bahkan masa kini, demi kelangsungan hidup klan atau golongannya. Dan hal itu merupakan ketetapan alamiah bahwa yang menang adalah mampu mempertahankan diri, sedangkan yang kalah adalah yang binasa, bagaimanapun mereka saling memangsa.

Lalu jika Radya memilih menjadi yang kalah tentu bukanlah suatu keburukan, apalagi kalau memandang usia yang secara duniawi masih lama, karena kekalahan dan kemenangan seharusnya tidak diukur dengan ukuran dunia. Justru saya melihat kepedulian Radya kepada komunitas yang terpinggirkan dan yang dikalahkan. Kepedulian yang perlu diarahkan agar ianya menjadi maslahat bukan mafsadat.

Dan peran saya sebagai orang tuanya bertugas untuk membimbing dan mengarahkannya, tentu mau tidak mau dapat membuat saya menjadi pihak yang kalah pada bentuk peran yang lain. Apabila itu terjadi bukanlah suatu keburukan. Karena saya telah memutuskan menjadi orang tuanya bahkan jauh sebelum kelahiran Radya, yaitu ketika mempersunting ibunya. Semoga Allah memudahkan.

Kemudian, Megatron seharga $8 itu pun masuk ke dalam keranjang belanja saya sebagai oleh-oleh buat Radya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: